Memories

Memories
Bab 24



Jujur ia kesal melihat Liam yang lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Terlebih ia membayar makanannya sendiri. Makanan seperti itu, harganya selangit pula. Padahal cuma makan daging panggang dengan bumbu yang rasanya aneh dan hambar. Rendang jauh lebih enak kemana-mana, dan harganya jauh lebih murah. Padahalkan duit si babon itu banyak, bayarin kek untuk terakhir kali.


Dian membuka pintu taxi dan membayar sesuai argo. Ia melangkah berjalan menuju pintu pagar. Ia memandang Tatang keluar dari mobil, lalu ia lewatkan laki-laki itu begitu saja.


"Adek, kamu kok pulang naik taxi," ucap Tatang ia berjalan mengikuti langkang Dian, menuju pintu utama.


"Emang kenapa kalau pakai taxi, enggak boleh? Biasa juga naik taxi," sungut Dian. Ia membuka sepatu, ia simpan sepatu itu di rak dekat pintu.


"Kamu enggak pulang sama pacar kamu,"


"Jangan ngomongin dia deh," ucap Dian kesal.


Tatang mengerutkan dahi, ia melihat perubahan sang adik. Terlihat jelas wajah itu berantakan. Ia tidak suka melihat laki-laki yang mempermainkan sang adik seperti ini. Jika ingin menyakiti adiknya, harus berhadapan dengan dirinya.


"Adek kamu kanapa? Kamu punya masalah sama pacar kamu," tanya Tatang, ia lalu meraih tangan Dian, agar menghentikan langkahnya.


"Kan aku udah bilang aku enggak mau ngomongin dia lagi," ucap Dian, ia berusaha melepaskan tangan Tatang.


"Kalian berantem,"


"Pokoknya Dian enggak mau ngomong apa-apa tentang si babon itu," ucap Dian kesal.


"Bilang sama mas, kamu diapain sama si gondrong itu," ucap Tatang, masalahnya ia tidak terima jika sang adik di lukai apalagi di khianati si gondrong itu. Ini adalah adiknya yang ia sayangi di dunia ini. Ia tidak rela ada laki-laki yang berani menyakitinya.


"Mas, jangan ikut campur deh sama urusan kita," ucap Dian, ia lalu membuka pintu kamar dan menutup pintu itu kembali. Ia sungguh malas berhadapan dengan kakaknya, karena ia selalu banyak banyak tanya.


Ia ingin sendiri, ia tidak ingin Tatang bertanya lebih lanjut, tentang hubungan dirinya dan Liam, yang telah berakhir seperti ini.


********


Suasan semakin panas, ketika ia melihat akun instagram Liam. Ia melihat foto dirinya sudah menghilang di akun si babon itu, foto dirinya dan Liam bersama Hanoman sudah menghilang, serta foto-foto yang lainnya. Hanya ada satu foto di sana, foto dirinya yang di ambil candid oleh sang pemilik akun. Foto itu dengan caption, "Memories", gila baru berapa jam Ia putus dengan si babon ini, ia sudah menjadi kenangan.


Hatinya seakan bergemuruh, melihat Liam mengunfollow alun dirinya, beberapa menit yang lalu. Kesel banget tau enggak sih, ia seakan tidak terima melihat ini. Oke, sekarang ia sudah mirip stalker, yang mengintip akun sang mantan. Ingin marah menjadi satu, melihat Liam seperti ini.


Dian masih menekuni ponselnya, ia harus menghubungi Rene sahabatnya. Rene harus tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia ingin cerita kepada sang sahabat atas apa yang telah menimpanya. Ia menekan tombol hijau pada layar, ia letakkan ponsel itu di telinga kirinya.


"Iya Yan," ucap Rene, karena ia tahu siapa pemilik suara khas itu.


"Ren, gue mau cerita sama lo," ucap Dian, seketika.


"Lo mau cerita apa sih Yan, malam-malam gini,"


"Gue udah putus dari si babon," ucap Dian seketika.


"Sumpah lo," ucap Rene tidak percaya.


"Ya, tadi gue udah bilang sama si babon, gue minta putus. Lo tau lah, kirain dia nolak gitu, taunya dia nerima gitu aja. Gue sama dia udah selesai Ren, jadi gimana dong," ucap Dian.


"Jadi lo udah putus beneran?"


"Ya, iyalah,"


"Sekarang lo nyesel,"


"Ya, enggak lah, ngapain nyesel," elak Dian. Ia mengibaskan tangannya, suasana mendadak gerah. Mendengar ketika ia mengatakan menyesal disana.


"Kalau enggak nyesel, lo enggak mungkin cerita ngebu-ngebu kayak gini kali,"


"Ya, enggaklah, santai aja kali," ucap Dian ia, lalu berdiri.


"Yakin lo enggak nyesel putusin si babon itu, kalau di lihat-lihat, cowok lo macho banget tau," ucap Rene.


"Kok lo sekarang bangga-banggain si babon itu sih Ren. Lo sekarang di pihak dia dari pada gue," ucap Dian lagi.


"Gue tetep di pihak lo kok Yan, hanya disayangkan aja kalau lo putus dari si babon itu. Gue kemarin nanya teman gue, yang ada di New York, gaji Civil Enggering di Jacob's itu berapa? Dia langsung jawab, gaji pokoknya aja, sekitar 133.000 dolar per tahun Yan. Itu gaji pokoknya doank loh Yan, belum di luar ini itu, ya lain lagi. Lo krus kan aja dalam rupiah, gila hampir 2 miliyar Yan. Gila Yan, ini demi masa depan lo juga, kalau lo nyia-nyia in si babon itu,"


Dian yang mendengar itu hanya bisa diam, ia menelan ludah. Jujur ia tidak pernah menanyakan penghasilan laki-laki itu. Karena Itu terlalu privacy untuk di tanyakan.


"Gue bukan cewek matre loh Ren, gue aja enggak pernah nanya. Lo malah tau duluan, gue juga bukan istrinya, yang mesti tahu penghasilanya seperti apa," ucap Dian, ia lalu duduk kembali di sisi tempat tidur.


"Lo itu harus bersyukur bisa dapat cowok yang sayang banget sama lo, Yan," ucap Rene.


"Eh lo malah nyia-nyiain, nanti lo nangis-nangis. Si babon itu di ambil cewek lain, nanti lo nyesal,"


"Ih, lo kok jadi marahin gue sih Ren,"


"Udah deh Ren, kayaknya gue salah cerita sema lo," ucap Dian. Ia lalu menekan tombol merah pada layar.


Entahlah ada perasaan sedih ketika mendengar sahabatnya sendiri berkata seperti itu kepadanya. Rene yang notabene belahan jiwanya, malah memarahinya. Dian lalu mengambil tisu di nakas. Air matanya tiba-tiba jatuh dengan sendirinya. Ia tidak tahu, menangis karena apa, menyesal atau karena Rene memarahinya. Pikirannya campur aduk, ia tidak suka dengan situasi seperti ini.


*********


"Dek, kamu udah tidur," ucap Tatang, tepat di daun pintu.


Dian yang mendengar itu, hanya bisa meringkuk di bed cover, pikirannya kacau. Ia tidak ingin di ganggu, oleh siapapun.


"Kenapa mas," ucap Dian, ia mengusap air matanya.


"Mas pinjem ponsel kamu ya sebentar, mas kehabisan pulsa," ucap Tatang, ia lalu membuka pintu kamar Dian.


Tatang memandang sang adik yang sedang meringkuk di sisi tempat tidur. Terlihat jelas mata itu membengkak. Adiknya terlihat sangat kacau, ia tidak terima jika sang adik di perlakuan semena-mena oleh si gondrong itu. Baru aja pacaran udah buat ulah. Padahal mereka itu baru pulang dari Bali, seharusnya senang-senang. Bukan malah nyakiti adiknya seperti ini.


"Dek, mas pinjem ponsel kamu ya," ucap Tatang lagi.


Dian hanya mengangguk, ia merubah posisi tidurnya menyamping. Ia tidak ingin Tatang bertanya kenapa ia menangis seperti ini.


Tatang mengambil ponsel Dian di nakas, setelah itu ia kembali ke kamarnya. Ia akan memberi peringatan keras, kepada si gondrong itu, karena telah menyakiti sang adik. Dasar berengsek, cowok dekil aja belagu, kurang cantik apa lagi adiknya ini.


Setelah di kamar, Tatang lalu membuka kunci kombinasi pada layar. Ia tahu kunci kombinasi ponsel Dian berpola Z. Ia akan menghubungi si brengsek itu sekarang juga. Tatang mencari panggilan masuk, ia memandang nama "Mr.L" ia yakin nomor itu adalah si brengsek yang telah menyakiti yang adik. Ia tidak terima, adiknya pulang dengan wajah kusut, dan sekarang nangis-nangis bombay, terlihat jelas sedang patah hati.


Tatang menekan nomor yang tertera di sana. Ia letakkan ponsel itu di telinga kirinya. Terdengar sambungan pada nomor tersebut. Ia masih menunggu sang pemilik nomor mengangkat panggilannya. Sedetik kemudian, panggilan itu di angkat.


"Eh, kampret," ucap Tatang.


Sementara sang pemilik nomor di seberang sana bingung. Ia memandang ponselnya kembali memastikan nomor panggilan itu. Dengan nama yang sama "My baby" dan ia tidak pernah sekalipun merubahnya. Tapi lihatlah kenapa yang menelfon itu suara laki-laki. Padahal ia senang sang pujaan hati menghubunginya.


"Kamu yang siapa? Pakai nomor kekasih saya," ucap Liam berang. Ia tidak terima jika ada laki-laki lain menggunakan nomor ponsel Dian.


"Gue Tatang,"


"Owh Tatang, ada apa?" Ucap Liam, ia bersyukur bahwa itu hanya Tatang saudaranya Dian, bukan orang lain.


"Eh men, lo apain adik gue,"


Liam mengerutkan dahi, "emang Dian kenapa?"


"Adik gue kacau gara-gara lo, dia pulang naik taksi, biasa kan sama lo men. Ini gara-gara lo pasti, ngaku aja lo," ucap Tatang.


Alis Liam terangkat, ia merasa tersanjung mendengar kabar bahagia itu. Ini bahkan belum tiga jam semenjak sang kekasih memutuskan hubungan dengan dirinya. Entahlah ia merasa bahagia mendengar pernyataan dari orang terdekat Dian.


"Emang Dian ada cerita sama lo,"


"Enggak ada sih, tadi dia gue tanya dia, kenapa enggak pulang sama lo. Dia jawab enggak usah tanya-tanya lagi soal lo. Berarti kan ada hubungannya dengan lo men, ngaku aja lo. Lo apain adik gue, hah ?".


Liam menahan tawanya, ia mengibaskan rambutnya ke belakang. Aksi ingin ngumpulnya bersama teman-temannya kini ia lupakan begitu saja. Baginya Dian lebih penting dari apapun. Ia melirik jam melingkar di tangannya menunjukkan pukul 21.30 menit.


"Sekarang Dian nya lagi apa," tanya Liam.


"Masih nangis-nangis lah, lo belum jawab pertanyaan gue men,"


"Begini men, tadi sore Dian mutusin gue. Gila kan adik lo itu. Padahal gue sayang banget sama dia men. Alasan dia putusin gue, karena dia ingin tahu, dia cinta gue apa enggak. Katanya kalau dia nangis, galau, berarti dia cinta sama gue. Sekarang baru berapa jam, eh dia malah nangis. Jujur gue cinta banget sama adik lo men, enggak ada sedikitpun nyakitin dia,"


Tatang mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Adiknya ini memang sedikit aneh memang, sebenarnya yang salah adalah sang adik, bukan si kampret ini, kalau cinta ngapain pakai putus tanpa sebab seperti ini.


"Gue boleh datang ke sana enggak, gue mau lihat dia,"


"Jangan deh, besok aja. Biarin dia tau rasa," ucap Tatang lagi.


"Gue enggak tega men,"


"Ini udah malam, jangan di ganggu. Biarin dia tidur, lo sekarang udah tau kan, Dian ternyata cinta sama lo,"


"Kalau ada apa-apa sama Dian, tolong hubungi gue,"


"Iya, iya lo tenang aja,"


**********