Memories

Memories
Bab 26



Jujur ini merupakan pertama kalinya ia mengikuti seorang laki-laki. Laki-laki itu berperawakan tinggi besar, dia mengenakan jaket hitam tebal, dan sepatu boot terpasang sempurna di kakinya. Laki-laki itu mengenakan topi hitam, sambil membawa kopernya. Ia masih mengikuti langkah laki-laki bernama Liam, hingga di ujung persimpangan jalan.


Liam melirik Dian, wanita itu masih berjalan di sampingnya.


"Kamu tinggal di Jakarta?" Tanya Liam, memecahkan kesunyian.


"Iya, kamu?" Tanya Dian.


"Saya tinggal di New York, tapi orang tua saya di Jakarta," ucap Liam lagi.


"Sudah lama tinggal di New York?" Tanya Dian lagi.


"Lumayan lama, sejak kuliah di sini, saya tidak berniat untuk pulang. Akhirnya menetap disini," ucap Liam lagi.


Dian menghentikan langkahnya, karena laki-laki itu berhenti di salah satu rumah berdinding batu bata. Warna batu bata yang khas dan unik menurutnya. Ia masih memperhatikan bangunan rumah di hadapannya ini. Rumah bangunan itu simetris yang sederhana, berbentuk kotak, dan terdapat enam jendela. Jendela berbentuk besar, berjumlah dua tepatnya di bagian depan. Inilah rumah bergaya Amerika, yang khas berdesain tinggi.


"Ini rumah saya," ucap Liam, ia melirik Dian, dan lalu melangkah mendekati pintu. Liam memandang tumpukkan salju menebal di depan pintu. Sepertinya ia harus membuang salju itu, dengan ekstra sabar.


"Iya," ucap Dian, ia masih memandang Liam.


"Awalnya saya hanya menyewa disini, tapi pemilik rumah sudah pindah ke Florida. Mereka menjualnya kepada saya," ucap Liam, ia lalu mengambil sekop yang ia letakkan di dekat pagar.


"Inilah yang saya tidak suka, baru saja tinggalkan sebentar, salju sudah menumpuk di depan pintu," ucap Liam.


Setelah menyingkirkan salju yang menumpuk itu, Liam lalu membuka pintu utama. Ia memandang wanita itu, dan mempersilahkan masuk.


Dian memandang iris mata laki-laki itu. Ia tidak percaya bahwa tatapan laki-laki itu begitu tajam seakan menusuk ke dalam hatinya. Ia yakin ia akan aman bersama laki-laki ini. Ia hanya bisa berdoa semoga laki-laki itu bukan orang jahat.


Dian mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Ruangan yang di dominasi kayu mahoni yang hangat. Rumah ini tidak terlalu besar, Dian melanjutkan langkahnya menuju sofa tebal di dekat perapian. Ia cukup nyaman, dengan rumah bergaya pedesaan yang alami. Lantai yang hangat kerena menggunakan lantai kayu, sesuai dengan bangunan rumah.


Dian memandang laki-laki itu, mendekatinya. "Kamu mau kopi?" Tanya Liam, ia hanya ingin sekedar menawarkan wanita itu.


Dian mengangguk, ia perlu sesuatu yang hangat masuk ke dalam tenggorokkanya. "Ya boleh," ucap Dian.


Dian membuka jaket, ia simpan di sisi sofa. Ia melirik Liam, laki-laki itu berjalan menuju dapur. Dian lalu duduk di sofa, dan ia letakkan ponsel di meja. Semenit kemudian, laki-laki itu membawa dua cangkir kopi, dan ia letakkan cangkir itu di meja. Cangkir kopi bergempul asap.


"Terima kasih," ucap Dian.


Liam melangkah mendekati tungku, ia lalu menekan tombol power, seketika api itu menyala. Ada rasa hangat menyelimuti tubuhnya. Dian tahu bahwa perapian itu bukan jenis perapian kayu, tapi itu adalah perapian elekterik. Desain perapian, seperti perapian kayu yang klasik, hanya saja, ini lebih terkesan simpel dan lebih bersih. Liam membuka jaket yang di kenakannya, ia melirik wanita yang sedang menyeruput kopi buatannya. Sama-sama saling terdiam satu sama lain.


Liam memperhatikan wanita yang tidak jauh darinya, wanita itu cantik menurutnya. Tubuhnya ideal untuk ukuran seorang wanita, rambutnya lurus dan alisnya terukir sempurna.


"Bisakah saya menumpang charge ponsel saya. Ponsel saya mati total," ucap Dian.


"Ya, tentu saja," ucap Liam, ia mengalihkan pandangannya ke arah ponsel wanita itu.


"Apakah itu ponsel kamu," ucap Liam, ia melirik Dian.


"Iya,"


Liam lalu meraih ponsel itu, dan membawanya di dekat Tv flat, karena di sana ada pengecas miliknya.


"Sudah berapa lama kamu di New York?" Tanya Liam penasaran, lalu kembali duduk di sofa.


"Tiga hari,"


"Liburan?"


"Iya," Dian lalu menyandarkan punggungnya di sofa, ia melirik laki-laki itu.


Ia memperhatikan setiap struktur wajah itu. Rahang itu begitu tegas dan alisnya tebal. Jujur ia suka melihat tatapan tajam itu, baginya begitu sexy, rambut laki-laki itu panjang sebahu. Mengingatkannya pada salah satu film favoritnya, game of thrones. Sebuah serial drama fantasi Amerika.


"Kamu bekerja?" Tanya Dian,


"Ya, gedung kantor saya tidak jauh dari sini, dan kantor kami libur beberapa hari, hingga badai salju berhenti," ucap Liam. Liam meraih remote TV, sedetik kemudian Tv itu menyala.


Liam menegakkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam kamar. Ia mengambil selimut di lemari, ia tahu pasti wanita itu perlu selimut untuk menghangatkan tubuhnya.


Dian memandang laki-laki itu mendekatinya, sambil membawa selimut berwarna abu-abu.


"Istirahatlah terlebih dahulu, anggap rumah sendiri," ucap Liam, lalu menyerahkan selimut itu kepada Dian.


"Terima kasih," ucap Dian, ia mengambil selimut itu dari tangan Liam.


"Kamu sudah kemana saja di New York?" Tanya Liam, ia juga menyandarkan punggungnya di sofa, sambil mencari siaran serial Tv yang menarik untuk di tonton.


"Saya bahkan belum kemana-mana, hanya ke Times Square, itu juga karena saya menginap di Hilton Time Squer," ucap Dian jujur, ia memandang ke layar Tv.


Dian tahu itu adalah tayangan ulang, karena biasa acara itu, di tayangkan pada malam hari, sementara ini masih sore. Dian memperlebar selimut yang di pegangnya, menyampir ke bahunya.


"Jimmy Fallon?" Ia menoleh ke arah Dian.


"Ya, saya suka acara itu, terlebih bintang tamunya Kit Harington," ucap Dian.


"Ternyata kamu juga mengikuti acara ini," ucap Liam.


"Ya, saya suka Jimmy Fallon, dan tergantung bintang tamunya siapa, oh Tuhan tampan sekali," ucap Dian antusias.


Liam melirik wanita itu, dan ia hanya tersenyum. "Kamu mengatakan saya tampan,"


Dian juga lalu tertawa melirik Liam, "Maksud saya, Kit Harington," ucap Dian.


"Menurut kamu, apakah saya tampan?" Tanya Liam, ia ingin wanita itu menilai dirinya.


Dian lalu memandang laki-laki di hadapannya ini, dengan cukup serius. Jujur wajah itu tampan untuk ukuran seorang laki-laki. Ia suka laki-laki yang memiliki rahang tegas, dan alis tebal.


"Lumayan,"


Alis Liam terangkat, ia kembali memandang wanita cantik itu, "lumayan tampan maksud kamu,"


Dian mengangguk dan ia tersenyum kepada laki-laki itu, "ya, mungkin saya salah satu penggemar film Game of Thornes, makanya saya mengatakan kamu lumayan. Semua style mereka, seperti kamu, rambut gondrong, berewok tipis, rahang tegas, dan saya pikir kamu cocok menjadi salah satu prajurit di sana," ucap Dian.


Liam yang mendengar itu lalu tertawa, ia juga selalu menanti serial fantasi itu, film itu begitu terkenal di segala penjuru dunia. Siapa yang tidak suka menonton film fantasi itu, dengan totalitas pada pemeranya dan efek visual yang luar biasa. Film itu menggambarkan kemegahan kastil, pemandangan yang indah, baju ziarah yang begitu keren, kisah heroisme yang membuat semangat. Itulah yang ia suka dari serial itu, film fantasi bertema zaman abad pertengahan. Serial itu memang terlihat berani menampilkan adegan kekerasan, pembunuhan, dan tidak terkecuali adegan dewasa yang di tampilkan setiap episodenya


Sedetik kemudian, terdengar suara bell dari balik pintu. Liam dan Dian mengalihkan pandangannya ke arah pintu.


"Sebentar," ucap Liam, ia menegakkan tubuh dan melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


Liam membuka hendel pintu, ia memandang wanita separuh baya, berdiri tepat di depan pintu. Wanita separuh baya itu adalah Mrs.Ana tetangganya. Mrs.Ana tidak sendiri, ia bersama Boy, anjing peliharaanya. Anjing Siberian Husky, jenis anjing ini berukuran sedang dan berbulu tebal. Sekilas anjing itu mirip serigala berbulu putih.


Liam tahu kedatangan Mrs.Ana jika membawa anjingnya, karena Boy selalu ia titipkan kepadanya, jika wanita itu sedang berpergian. Ia tidak keberatan jika boy bersamanya, karena boy begitu pintar dan sangat jinak.


"Hey. Boy," ucap Liam, ia berjongkok mengelus puncak kepala anjing itu. Boy lalu mendekatinya, dan seakan minta peluk.


Dian mendengar suara dari arah luar, terdengar suara Liam dengan seorang wanita disana. Dian menegakkan tubuhnya, ia ingin tahu dengan siapa Liam berbicara. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Langkahnya terhenti dan memandang Liam, bersama seorang wanita. Ia juga, memandang seekor anjing berwarna putih, belang-belang hitam di tubuhnya. Anjing itu menggonggong melihat kehadiran Dian.


"Sepertinya kamu kedatangan seorang wanita," ucap Mr.Ana, sambil tersenyum melirik Dian.


"Ya, dia tamu saya dari Indonesia," ucap Liam, ia lalu berjongkok, mencegah Boy agar tidak menggonggong lagi kepada Dian.


"Boy, dia tamu saya, ok" ucap Liam, ia mengelus punggung Boy, sepertinya anjing itu paham apa yang di katakannya.


"Tamu kamu cantik, apakah boy akan menggangu kencan kamu?" Tanya Mrs.Ana.


"Tentu saja tidak Mrs.Ana," ucap Liam lagi.


Liam memandang Dian, dan menyuruh wanita itu mendekatinya.


"Dian, perkenalkan ini tetangga saya, namanya Mrs.Ana," ucap Liam, ia mencoba memperkenalkan Dian kepada Mrs.Ana.


"Senang berkenalan dengan anda Mrs.Ana," ucap Dian.


"Saya juga Dian," ucap Mrs.Ana, ia melirik Liam.


"Wanita kamu cantik sekali, semoga kalian berjodoh," ucap Mrs.Ana.


Liam mendengar itu lalu tertawa, ia melirik Dian sekali lagi. Ya bohong sekali mengatakan wanita di sampingnya ini jelek.


"Liam, saya harus segera pergi," ucap Mrs.Ana, mengakhiri percakapannya.


"Iya. Mrs.Ana, hati-hati di jalan," ucap Liam.


"Kamu sangat beruntung mendapati Liam. Semoga kalian berbahagia," ucap Mrs.Ana, arah pernyataan itu di tujukan kepada Dian. Wanita itu lalu meninggalkan pintu utama.


Setelah kepergian Mrs.Ana, Liam menutup pintu itu kembali. Liam memandang Dian, sepertinya wanita itu terlihat canggung mendengar ucapan Mrs.Ana tadi.


"Tadi, Mrs.Ana, dia tetangga saya, biasa dia selalu menitip boy kepada saya, jika ia sedang berpergian," ucap Liam, sepertinya ia perlu menjelaskan kepada wanita ini.


"Owh gitu," ucap Dian.


*******