Memories

Memories
Bab 22



"Kamu, mau nyelam lagi !" Ucap Ayana, ia bertolak pinggang, kepada Daniel.


Dian berjalan menuju meja, ia mengambil botol air mineral. Ia buka tutup botol air mineral itu, dan ia menuangkannya ke dalam gelas. Ia memandang ke dua insan di dekat teras, terlihat jelas sang pujaan hati marah, karena sang kekasih ingin menyelam lagi.


"Aku kedengerannya egois banget ya, karena ninggalin kamu," ucap Daniel, ia lalu memeluk tubuh Ayana, dan tapi sang kekasih menepisnya.


"Kita ini liburan, harusnya kita sama-sama. Senang-senang, ke pantai, kuliner, foto-foto, bukan malah ninggalin aku seperti ini," ucap Ayana berang.


Daniel menarik nafas, ia tahu sang kekasih marah atas tindakkanya. Ia mendekatkan diri lagi, dan ia memuluk tubuh mungil itu. Ia curukkan wajahnya di bahu sebelah kiri,


"Maaf, sayang, aku benar-benar minta maaf. Kamu kan tahu aku jarang-jarang ketemu dengan teman yang satu hobi dengan aku," ucap Daniel.


Ayana, tidak dapat menghindari pelukkan Daniel. "Aku sama kamu juga jarang ketemu. Aku di Berlin, dan kamu di Melbourne. Sekarang kita Liburan di Bali. Eh, kamu nya malah ninggalin aku," ucap Ayana.


Daniel memutar tubuh Ayana, agar menatap dirinya, di berinya kecupan di kening itu, agar sang kekasih tidak marah terhadap dirinya.


"Sayang, kamu kan tahu, setelah kamu sidang skripsi, kita bakalan nikah. Jangan bilang, aku enggak bakalan nikahin kamu loh, hanya gara-gara aku nyelam. Aku cukup serius sama kamu, aku kan cinta banget sama kamu," ucap Daniel lagi.


"Tapi enggak bisa gini juga, kemarin kamu ninggalin aku seharian, malamnya kamu kecapekkan, terus tidur. Sekarang kamu mau menyelam lagi. Besok kita udah pulang ke Jakarta. Kapan kamu ada waktu untuk aku,"


"Baby, sweet heart, belahan jiwaku. Aku enggak ninggalin kamu kok. Disini kamu kan ada teman-temannya juga, kamu bisa minta antar pak Ketut, kuliner, belanja, terus bisa selfie-selfie juga. Aku janji deh nanti di Jakarta kita puas jalan-jalannya," ucap Daniel, mencoba memberi pengertian kepada sang kekasih.


Ayana hanya bisa nelangsa dalam hati, "Jakarta sama Bali, jelas beda lah,"


"Sayang,"


"Aku sebel sama kamu," dengus Ayana.


Daniel mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya ia bingung menghadapi kekasihnya. Ia lalu mengecup bibir tipis sang kekasih. Agar sang pujaan hati luluh, atas permintaanya.


"Sayang, tolong ngertiin aku," ucap Daniel, dengan wajah memelas.


"Kamu seharusnya ngertiin aku,"


"Aku selalu ngertiin kamu loh sayang. Aku selalu nurutin apa mau kamu. Kamu kan tahu di Melbourne enggak ada laut yang keren seperti di Bali,"


"Iya aku tahu,"


"Sayang ...."


"Oke, oke," ucap Ayana pada akhirnya.


Daniel yang mendengar itu lalu tersenyum, dan ia memeluk sang kekasih dengan segenap hati dan jiwanya.


"Gitu dong, ini baru pacar aku," ucap Daniel.


Dian hanya bisa menyaksikan adegan itu dari kejauhan. Ia ingin muntah mendengar rayuan laki-laki itu. Baginya laki-laki itu tidak lebih dari si babon itu. Ya, jelas aja mereka kan sama-sama satu geng. Meraka memiliki sifat yang sama, mau seenaknya sendiri.


*********


"Kamu lihat apa hemm," ucap Liam, ia mendekati Dian.


"Enggak lihat apa-apa kok," ucap Dian, ia duduk di meja pantri, ia menyimpan botolnya kembali.


Alis Liam terangkat, ia mengurung Dian. "Hari ini aku mau nyelam ...,"


"Aku enggak apa-apa kok, pergi aja," ucap Dian.


Liam mengerutkan dahi, padahal ia belum melanjutkan kata-katanya, "aku belum selesai loh ngomongnya,"


"Aku udah tau, kamu pasti mau menyelam lagi kan. Aku tahu, di New York enggak ada laut yang keren, makanya kamu nyelam sama teman-teman kamu. Aku enggak masalah kok, aku suka kamu bisa menyalurkan hobi kamu. Ya, kapan lagi kamu bisa nyelam seperti ini, mumpung ada di Bali," ucap Dian.


Alis Liam terangkat, ia memandang iris mata Dian. Ia tahu kekasihnya itu mendengar percakapan Ayana dan Daniel. Sebenarnya ia ingin kekasihnya ini reaksi seperti Ayana. Tapi lihatlah reaksi kekasihnya seperti ini,


"Jadi sekarang kamu ijin in aku pergi menyelam nih,"


"Iya, aku enggak masalah kok. Kamu nya kan suka nyelam,"


Liam kembali berpikir, "Di sana ada Mario loh sayang,"


"Terus kalau ada Mario kenapa, bukannya seneng ketemu teman yang punya satu hobi,"


"Mario berenangnya pakai bikini," ucap Liam asal, padahal ia tidak berniat sekalipun mengajak seorang wanita dalam kegiatan menyelamnya.


Dian terdiam sesaat dan kembali berpikir, "kok dia pakai bikini? Bukannya kalau menyelam itu pakek baju selam yang ketat itu. Atau dia niatnya mau godaain kamu," ucap Dian.


"Ya, mungkin. Dia juga sering deket-deket aku loh sayang,"


"Kok dia gitu,"


"Ya, mana aku tahu," ucap Liam, ia melihat reaksi kekasihnya.


Dian terdiam, ia melirik si babon itu. Gila aja si Mario, nekat pakek bikini di hadapan ketiga cowok itu. Dirinya aja belum pernah lihatin seluruh tubuhnya kepada si babon ini. Mario emang enggak benar, cantik-cantik kelakuannya aneh. Pantas saja ketiga cowok itu tidak pernah melibatkan dirinya dalam kegiatannya. Sementara dia disini hanya menunggu.


"Jadi kamu seneng di dekatin sama Mario," ucap Dian.


"Ya, enggaklah, aku kan selalu mikirin kamu. Mario sih enggak ada apa-apanya di banding kamu,"


"Owh, iya deh," ucap Dian kikuk.


Liam tersenyum melihat reaksi kekasihnya ini, "main air yuk, kamu belum mandi kan,"


"Mandi di mana,"


"Di kolam itu,"


"Enggak dingin kok. Kamu kan tahu air di New York jauh lebih dingin dari pada di sini,"


"Ya, jangan samain di sini sama di New York lah," ucap Dian, ia mengibaskan rambutnya yang setengah berantakkan, karena ia memang baru bangun tidur.


"Mandi subuh itu sehat loh sayang, peredaran darah kamu jadi lancar,"


"Aku enggak yakin, kamu di New York mandi pagi," timpal Dian.


Tawa Liam pecah, ia membenarkan itu. Liam melirik sang kekasih, ia lalu mengecup bibir itu sekilas, "ayo berenang sebentar aja, hitung-hitung aku pemanasan," ucap Liam, ia menarik tangan Dian, menuju kolam renang di sana.


********


"Mereka itu egois ya," ucap Ayana kepada Dian, setelah melepas kepergian kekasihnya.


"Ya, mereka memang seperti itu," ucap Dian lagi.


"Tapi si Linggar baik-baik aja tuh di tinggal cowoknya," sungut Ayana.


"Ya mungkin dia percaya gitulah sama cowoknya, dia kan emang gitu," ucap Dian lagi.


"Eh, lo enggak tau ternyata si Mario, ikut juga loh di kegiatan menyelam di sana," ucap Dian.


"Yang bener, cowok gue enggak ada ngasi tau kalau Mario ikut,"


"Benerlah, si babon itu yang cerita sama gue," ucap Dian.


"Masa sih," Ayana masih belum bisa memastikan.


"Iya bener, dia pekek bikini, katanya suka deketin cowok gue gitu," ucap Dian, ia menyentuh air kolam, dan lalu ia menyesap lemon tea yang di pesannya lewat layanan kamar.


"Bahaya tuh Yan, cowok lo nanti ke pincut sama si Mario gimana. Secara body nya oke punya," ucap Ayana lagi.


Dian mengedikkan bahu, "biarin ajalah,"


"Emang lo enggak takut, nanti cowok lo di ambil sama Mario," ucap Ayana penasaran.


"Biasa aja,"


"Lo enggak cinta sama si gondrong itu Yan,"


"Enggak tahu, gue bingung juga sih sebenarnya. Gue cinta atau enggak sama dia. Pikiran gue itu hanya takut sama dia, itu aja," ucap Dian lagi.


"Berarti lo enggak cinta dong sama dia, lo terpaksa gitu,"


"Menurut lo,"


"Menurut gue sama Linggar sih gitu," ucap Ayana.


"Ya sepertinya gitu deh,"


"Kalau enggak cinta ya, kenapa lo pacaran sama dia, nanti lo yang sakit loh Yan," Ucap Ayana lagi.


"Jadi gue harus gimana?"


"Kalau enggak cinta ya putus aja, pacaran itu harus paket hati Yan, enggak bisa di paksaain,"


"Emang harus putus ya,"


"Ya, sepertinya gitu, secara lo enggak ngerasain apa-apa sama si babon itu," timpal Ayana.


"Iya sih, enggak ada rasa apa-apa, kecuali takut sama dia. Gue bingung cara bilangnya seperti apa,"


"Lo ngomong baik-baik lah sama si babon itu. Bilang aja lo enggak ada rasa sama dia, dan sebaiknya akhiri saja. Gue yakin dia ngerti kok,"


"Tapi gue takut,"


"Setelah lo putus, kalau lo galau, terus lo nangis seharian kehilangan si babon itu, terus lo mikirin si babon sepanjang hari, lo nyesel. Akhirnya lo tahu, bahwa lo cinta sama dia, percaya gue. Itu satu-satunya cara lo tahu perasaan lo sama dia,"


"Nanti gue pikir-pikir lagi deh," ucap Dian.


Ayana merangkul bahu Dian, ia tersenyum, "belanja yuk,"


"Belanja?,"


"Tenang aja, ada kartu cowok gue. Dia tadi bilang hari ini aku boleh pakek sepuasnya, mau pakek ke salon,kuliner, spa, terserah gue, asal gue enggak marah lagi sama dia,"


Dian tersenyum penuh arti, dirinya sih oke aja. Apalagi belanja geratisan.


"Eh, mana si Linggar," ucap Dian, ia mulai menyadari kehilangan, si ratu dari Kalimantan itu.


"Katanya tadi ngemasin kamar cowoknya,"


"Gila, rajin bener !. Gue sih boro-boro mau ngemasin," Dian lalu berdiri.


"Lo mau kemana Yan,"


"Liatin temen lo yang rajin itulah, ajak dia juga, biar seru," ucap Dian.


Ayana lalu mengikuti jejak Dian dari belakang.


********