Memories

Memories
Bab 36



Dian memandang Liam dari kejauhan. Kini laki-laki itu berjalan mendekatinya, karena acara telah selesai. Sebentar lagi laki-laki inilah akan meninggalkannya. Ia cukup kecewa karena si babon ini tidak menceritakan bahwa dirinya akan pulang ke New York.


Liam mengerutkan dahi, memandang sang kekasih. Terlihat jelas mata bening itu begitu sendu, seakan ingin menangis


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Liam.


"Kamu enggak ngasi tahu aku, kalau kamu mau pulang ke New York" Tanya Dian.


Alis Liam terangkat, ia menarik nafas, "kita ngomongnya di atas aja ya, enggak enak di lihat orang, masih ada teman-teman mama yang belum pulang," ucap Liam.


"Iya,"


Liam meraih jemari lentik itu dan di bawanya menuju lantai atas. Liam melirik Dian, ia tahu pasti sang mama yang membocorkan tentang kepergiaanya, kepada Dian.


Liam membuka pintu kamar, ia ingin berbicara cukup serius pada kekasihnya ini. Liam menutup pintu itu kembali, setelah Dian masuk ke dalam.


Dian memandang Liam, yang berdiri tepat di hadapannya. "Jadi beneran kamu, mau pulang hari Rabu," ucap Dian.


Liam menarik nafas, ia membawa Dian duduk di sisi tempat tidur, ia meraih jemari dan di kecupnya punggung tangan itu,


"iya, bener,"


Dian memandang iris mata tajam itu, ia tidak kuasa menahan tangis, ternyata si gondrong ini akan pulang ke New York,


"kamu kenapa enggak ngasi tahu aku," ucap Dian.


"Aku takutnya kamu galau lagi, kasih tahu cepet-cepet seperti ini," ucap Liam, sebenarnya inilah hal yang paling ia benci, berpisah dengan sang pujaan hati.


"Kamu tega ninggalin aku?"


"Maunya sih selalu sama kamu, kamu kan tahu sendiri, aku kerja, cari uang untuk masa depan kita. Aku ini bukan pengusaha atau pemilik perusahaan, yang bisa seenaknya libur kapan saja. Aku memilik atasan, memiliki tim kerja. Mereka memerlukan aku di sana. Kamu ingatkan waktu di pesawat kemarin, itu proyek bangunan yang akan aku kerjakan nanti," ucap Liam.


Liam melihat iris mata bening Dian, dan ia lalu memeluk tubuh ramping itu. Liam mengecup puncak kepala berkali-kali.


"Kamu sedih, aku mau pergi ke New York,"


"Iya lah,"


Dian menarik nafas, ia mengusap rahang tegas itu, "Beneran kamu mau ngelamar aku besok," ucap Dian.


Liam mengerutkan dahi, ia lalu melonggarkan pelukkanya. Ia sedikit terkejut mendengar penuturan sang kekasih. Ia tidak pernah mengatakan demikian, dan tidak ada rencana selanjutnya. Ini terkesan mendadak jika akan melamar wanita ini besok.


"Dari mana kamu tahu," tanya Liam penasaran.


"Dari mama kamu,"


Liam tersenyum, dan ia tidak menyangka bahwa sang mama, akan merestui hubungannya secepat ini. Padahal ia pikir sang mama, masih mempertimbangkan terlebih dulu, karena Dian tidak bisa memasak.


"Kalau mama bilang seperti itu. Aku mesti rundingin dulu sama orang tua aku, maunya lamaran seperti apa yang beliau inginkan. Kalau sudah beres, aku tinggal bilang sama orang tua kamu. Kamu mau kan terikat sama aku," ucap Liam.


"Ya, mau lah. Tapi kenapa mendadak gini,"


"Kan aku mau pulang ke New York sebentar lagi," ucap Liam.


Dian menatap mata tajam Liam, ia masih tidak rela Liam akan meninggalkannya. "Berapa lama kamu ninggalin aku?"


"Setelah kerjaan selesai, aku pulang untuk kamu, dan setelah itu kita menikah," ucap Liam.


"Ya, sampai kapan kerjaan kamu selesai, biasa proyek itu lama banget selesainya, bertahun-tahun. Aku enggak mau terlalu lama kamu ninggalin aku," ucap Dian.


"Target proyek ini, setahun sudah selesai," ucap Liam.


"Lama banget,"


"Mana ada bangun hotel cepet sayang. Kamu ini ada-ada aja, satu tahun juga itu sudah paling cepet, kerjanya non stop dua puluh empat jam lagi," ucap Liam.


"Nanti kamu berpaling dari aku,"


"Ya enggaklah, setiap hari aku ketemunya sama cowok-cowok semua, udah gitu mereka juga jelek-jelek dan bau. Enggak ada cewek cantik, seperti nangkring di kantor kamu," ucap Liam, diselingi tawa.


"Iya bener lah sayang. Tiap hari kerjaan aku ya ngawasi, tukang las besi, tukang cor semen, tukang mesin, atau tukang saluran air. Kamu denger nama mereka saja, enggak banget kan. Kebayang deh tampang mereka dekil-dekil gitu," ucap Liam sambil terkekeh.


"Ya, termasuk kamu salah satunya,"


"Kamu nyamain aku seperti mereka,"


"Ya, enggak, kamu kan pacar aku. Bagaimanapun bentuk kamu, aku bilang kamu yang paling tampan di dunia ini,"


"Kalau besok kamu jadi lamar aku, ya brewok kamu itu cukur lah biar rapiin dikit," ucap Dian.


"Bukannya enak, kalau aku cium kamu, geli-geli gimana gitu,"


"Ih, pokoknya besok cukuran dulu rapiin,"


"Tapi kamu enggak nyuruh aku klimis gitu kan,"


"Enggak, rapiin aja,"


"Oke,"


Liam memandang Dian, ia tatap iris mata bening itu. Dian membalas tatapannya dan wanita itu lalu tersenyum kepadanya. Saling terdiam satu sama lain, Dian mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Liam sekilas.


"Aku sayang banget sama kamu," ucap Dian pelan.


"Aku enggak peduli, kamu punya mantan seberapa banyaknya. Aku juga enggak peduli dengan cewek bernama Mario yang ngejar-ngejar kamu. Aku juga enggak peduli, Lilis mengatakan kamu playboy, gonta ganti pacar sebulan sekali bahkan seminggu, yang buat aku ketar ketir selama ini. Aku juga enggak peduli Linggar dan Ayana ngatain kamu, mirip tarzan, nyeremin mirip gendruwo. Ya, aku memang enggak peduli dengan semua orang yang jelek-jelekin kamu,"


"Yang pasti, kamu peduli sama aku, kamu sayang sama aku. Orang tua aku suka sama kamu, dan orang tua kamu juga baik banget sama aku. Ini merupakan hal yang luar biasa. Tidak ada yang lebih bahagia, memiliki keluarga yang mendukung hubungan kita,"


"Semakin kesini, aku tidak ingin kehilangan kamu," ucap Dian.


Liam mendengar itu hanya bisa tersenyum. Ia tahu bahwa Dian bukan jenis wanita yang suka berpuisi dalam setiap kalimatnya. Wanita itu berkata apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Ia terpana karena wanita telah mencurahkan ungkapan hatinya yang paling dalam.


"Setelah kamu berkata seperti itu, ingin rasanya aku menikahi kamu sekarang juga,"


"Aku ingin segera membawa kamu ke New York. Kita hidup di sana, di temani kurcaci kurcaci kecil yang nakal,"


"Akhir pekan kita Piknik dan liburan di pantai," ucap Liam, ia mengusap wajah itu dengan jemarinya.


"Kamu mau hidup bersama aku di New York,"


"Ya, aku mau, ayo kita menikah," ucap Dian, dan lalu memeluk tubuh Liam. Ia curukkan wajahnya ke dada bidang Liam.


Liam mengecup puncak kepala Dian, "iya,"


Liam mengeratkan pelukkannya, ya dirinya bahagia. Wanita inilah yang menjadi pelabuhan terakhirnya.


Dian merasakan detak jantung Liam berdetak seirama. "Aku nanti pasti kangen banget, jalan-jalan naik motor kamu,"


"Kita ke Bogor bagaimana," ucap Liam.


"Ngapain ke Bogor?"


"Ya, jalan-jalan seharian sama kamu. Di sana kan dingin. Setelah itu kita ke vila, dan kita melanjutkan sesuatu yang tertunda kemarin," ucap Liam.


Dian mencubit pinggang Liam, "ih,"


"Jangan dicubit sayang, sakit,"


"Kamu itu ya,"


"Kamu enggak pengen dilanjutin, setelah aku cium cium kamu, sampe kamu mendesah seperti kemarin," ucap Liam menyeringai nakal.


"Ih, kamu ..."


Liam lalu dengan cepat memutar posisi tubuh Dian. Ia lalu mengurung tubuh Dian. Dian menelan ludah, ketika posisi Liam sudah berada di atasnya. Posisi ini terlihat begitu intim. Liam perlahan mendekatkan wajahnya, dan melumat bibir tipis Dian dengan rakus.


***********