Memories

Memories
Bab 41



Jujur ada rasa sedih melihat kepergian sang kekasih. Ia memandangi koper hitam yang telah rapi di dekat pintu. Dian mengalihkan pandangannya ke arah jemarinya, cincin ini baru saja di sematkan oleh mama Liam, sekarang laki-laki itu malah akan meninggalkannya.Sepertinya ia tidak cukup rela melepas kepergian Liam.


Oh Tuhan, ia tidak bisa mebayangkan hidup tanpa si babon. Sedetik kemudian, ia memandang Liam berjalan mendekatinya. Iris mata elang itulah yang ingin ia lihat setiap hari. Padahal kisah ini baru saja di mulai, dan kini berakhir perpisahan.Merelakan kepergiannya orang yang di cintai itu, cukup sulit. Bahkan untuk memejam mata saja tidak bisa, ada rasa resah dan gelisah di hatinya. Ini merupakan perpisahan tersulit yang pernah ia alami.


Perpisahan ini, seperti ia pertama kali kuliah, berpisah dengan ke dua orang tua yang ia sayangi. Sekarang ia mengalaminya lagi, kali ini ia akan berpisah dengan belahan jiwanya. Ia sekuat tenaga agar bisa tegar, dan berdiri tegak di hadapan pujaan hatinya.Setiap pertemuan yang ia alami menghasilkan sebuah rasa bernamakan kenangan.


Entahlah ada rasa takut ingin berpisah dan kehilangan sosok wanita yang menemani hari-hari nya selama ini. Ia tahu Dian sama seperti dirinya. Lihatlah, mata bening itu membengkak, kekasihnya ini pasti menangis semalaman, memikirkan perpisahan ini.


"Sayang,"


"Kamu sudah siap untuk pergi," ucap Dian.


"Iya, pesawat aku jam delapan," ucap Liam.


"Udah pamit sama om dan tante," ucap Dian, ia manahan suaranya agar tidak bergetar.


"Sudah," ucap Liam, ia melangkah mendekati Dian. Mata bening itu terlihat berkaca-kaca.


Liam membiarkan Dian dengan pikirannya, ia meraih koper dan di bawanya menuju teras. Ia memandang mobil kekasihnya di sana. Liam meneruskan langkahnya di ikut Dian dari belakang.


Liam melirik Dian, lalu ia menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia tidak rela melepas kepergiaan ini.


"Mana kunci nya," ucap Liam tenang.


Dian menyerahkan kunci mobilnya kepada Liam. Liam ambil kunci itu dari tangan Dian, dan membuka kap pintu belakang, menaruh kopernya di sana. Setelah itu Liam membuka pintu mobil untuk Dian.


Dian memandang Liam, laki-laki itu masih tenang, tanpa membahas perpisahan yang di hitung beberapa jam lagi. Ia harus menerima kenyataan bahwa saat ini, ia akan berpisah. Dian lalu masuk ke dalam mobil dan duduk.Sedetik kemudian Liam, meninggalkan area rumah berpagar tinggi itu. Dian melirik Liam, laki-laki itu masih fokus dengan setirnya.


Jika berbicara tentang perpisahan tidak ada habisnya, terlebih melepas orang yang di cintai. Perpisahan ini mengajarkan dirinya betapa berartinya waktu, walau satu detik pun.


"Sayang," ucap Liam, memecahkan kesunyian.


"Kamu sedih aku mau pulang,"


Air mata Dian tiba-tiba jatuh dengan sendirinya, ya ia memang sudah tidak bisa berpura-pura tegar. Hatinya seakan sesak, bahkan sulit bernafas.


"Sayang kamu nangis," ucap Liam.


"Aku masih belum siap di tinggal kamu," suara itu bergetar.


"Sini dekat aku, aku mau peluk kamu," ucap Liam.


Dian mendekati tubuh dan menyandarkan diri, di dada kiri Liam. Liam mengecup puncak kepala Dian. Ia juga sebenarnya belum siap untuk jauh dengan kekasihnya ini. Inginnya segara membawa bersamanya.


"Sayang,"


"Hemmm," ucap Dian.


"Kamu lihatkan di jari manis kamu sudah ada cincin pertunangan kita," ucap Liam, ia akan berbicara cukup serius dengan kekasihnya ini, bahwa perpisahan ini hanya sementara, setelah itu ia akan bersama selamanya.


"Itu berarti aku serius sama kamu, dan tidak akan melepaskan kamu,"


"Iya," ucap Dian, ia memperlihatkan jemarinya.Liam melirik sekilas cincin, gelang mutiara hitam, dan jam tangan pemberiannya terpasang sempurna di tangan Dian.


Dari awal kekasihnya itu selalu memakai pemberiannya.


"Aku senang kamu selalu memakai pemberian aku," ucap Liam.


"Pemberian kamu, selalu aku pakai, sejak kamu memasangkannya dan tidak pernah aku lepas,"


"Aku sayang banget sama kamu," gumam Liam.


Tangan kananya masih fokus dengan setirnya,


"sayang, jika enggak ada aku, kamu jangan suka nangsi ya," ucap Liam.


"Jujur sebenarnya aku juga belum siap melepas kepergian ini. Aku masih mau kamu berada di sisi aku, kita tertawa bersama, kita membelah jalan, menelusuri setiap sudut kota, dan berakhir makan malam romantis," ucap Liam, ia mencoba mengingat kenangan itu.


"Aku merindukan setiap tingkah kamu yang lucu, aku selalu gemas setiap apa yang kamu ucapkan, dan aku selalu memikirkan bagaimana memiliki kamu seutuhnya,"


"Kamu adalah wanita yang selalu membuat aku gila, untuk mencintai kamu," ucap Liam.


"Kalau aku jauh, kamu jangan sering-sering makan rujak mangga lagi. Walaupun aku tahu itu adalah makanan favorit kamu, nanti lambung kamu sakit," ucap Liam mencoba mengingatkan.


"Sayang, kamu masih dengar aku kan," ucap Liam, ia mengelus rambut lurus itu.


"Masih,"Liam menarik nafas panjang,


"Meski jarak kita jauh, tapi hati ini tetap milik kamu. Hubungan ini kita akan terbiasa bernamakan rindu," ucap Liam.


"Jangan sedih, perpisahan ini hanya sementara, untuk menuju kebahagian kita,"


"Aku hanya berdoa, nanti yang memisahkan kita hanya bantal guling, bukan jarak dan waktu,"


Dian melirik Liam, ia mendengar setiap apa yang di ucapkan Liam, kata-kata yang menyentuh hati,


"Aku sayang banget sama kamu, aku enggak peduli apapun itu," ucap Dian.


"Aku juga sayang kamu, sudah jangan sedih lagi, nanti aku sering-sering nelfon kamu," ucap Liam.


"Video call juga," ucap Dian.


"Iya sayang,"


"Kalau aku cuti, boleh kan aku nyusul kamu ke sana," ucap Dian.


"Ya, bolehlah, malah aku seneng, bila perlu kamu enggak usah pulang-pulang lagi, tinggal selamanya,"


Dian tersenyum, "Aku kangen sama Boy,"


"Dia juga kangen sama kamu sayang,"


"Kalau aku tinggal sama kamu, bolehkan aku pelihara kucing atau anjing gitu,"


"Kan udah ada Boy," ucap Liam.


"Tapi Boy milik tetangga kamu,"


"Ya, tetap aja Boy nempel sama aku. Sampe enggak mau pulang-pulang,"


Dian lalu tertawa, ia memandang iris mata tajam itu, dan di berinya sebuah kecupan di pipi kiri itu.


"Jangan pernah tinggalkan aku. Walau jarak memisahkan kita, semoga rindu ini selamat sampai tujuan,"


End


*********