
"Lo ada di mana sih, gue cari-cariin lo di halte. Gila lo, gue panik tau," ucap Lilis.
Dian melirik Liam, laki-laki itu memandangnya, sedetik kemudian laki-laki tersenyum. Ia tahu dengan tatapan laki-laki itu mencoba mengerti dengan keadaanya. Mungkin ini efek dirinya telah terlalu lama menjomblo. Jujur laki-laki itu menarik perhatiannya. Dari segi fisik, dia sangat keren, tampang oke lah, ia tidak terlalu suka dengan laki-laki metroseksual. Masalahnya ia pernah berpacaran dengan model pria seperti itu, dan hubungannya berakhir sia-sia. Laki-laki itu pendengar yang baik, dan laki-laki sangat cerdas menurutnya, cerdas yang ia maksud bukan kutu buku. Tapi kecerdasan yang laki-laki itu miliki mencakup aspek pengetahuan yang cukup luas. Selama ia berbicara dengan laki-laki itu cukup berbobot dan juga memiliki selera humor yang bagus. Terlebih laki-laki itu pecinta binatang, itu menandakan bahwa laki-laki itu penuh komitmen dalam hidupnya.
"Maaf, gue ada di rumah temen gue nih,"
"Temen lo yang mana? Perasaan di New York temen lo cuma gue, Yan," ucap Lilis.
"Temen gue banyak lah di New York, emang lo doang. Tadi siang hape gue mati, makanya enggak bisa hubungin lo," ucap Dian
"Rumah teman lo di mana?" Tanya Lilis penasaran.
"Gue enggak tau sih ada di mana, yang pasti enggak terlalu jauhlah dari halte tadi. Gue enggak sengaja ketemu dia di sini," ucap Dian.
"Lo jadi enggak ketempat gue?" Tanya Lilis lagi.
"Jadi lah, kirim aja alamat lo, nanti gue minta antar dia,"
"Nanti gue kirim alamatnya,"
"Sekarang lo dimana?" Tanya Dian penasaran.
"Gue balik lagi lah ke flat gue, gue pikir lo balik lagi ke hotel," ucap Lilis.
"Syukurlah, gue pikir lo masih di halte, nungguin gue,"
"Gila aja, nungguin lo. Bisa-bisa gue mati beku di sana," timpal Lilis.
"Hahaha," Dian terkekeh.
"Temen lo cewek apa cowok,"
"Cowok," ucap Dian jujur, ia kembali melirik Liam. Laki-laki itu nampak tenang menunggu dirinya selesai menelfon.
"Gila, lo menginap sama cowok," ucap Lilis tidak percaya.
"Macam lo enggak pernah nginap tempat cowok aja. Gue yakin di New York lebih liar dari gue. Ngaku aja deh, lo pasti sering bawa cowok lo ke flat lo kan" timpal Dian di diselingi tawa.
"Ya udah deh, kapan nih kita ketemu. Gue kangen sama lo," ucap Lilis.
"Besok lah, ini udah malam juga," ucap Dian, ia melirik jam yang menggantung di dinding, menunjukkan pukul 19.40 menit.
"Oke, hati-hati sama temen lo. Ini cuaca dingin, takutnya lo berdua kebablasan. Pulang-pulang malah bawa Dian Junior, kan berabe," ucap Lilis sambil tertawa.
"Ya enggaklah, gue bukan kayak lo," sungut Dian.
"Dingin-dingin gini enaknya ya kayak gitu lah, bergairah, membara, hangat dan lo bakalan ketagihan,"
"Ih, semenjak di New York, pikiran lo ngeres banget sih Lis,"
"Biasa ajalah, itu udah kebutuhan biologis kali," ucap Lilis dan sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ih. Ngeri gue dengan pergaulan lo disini,"
"Lo sih polos banget, biasa aja kali. Gue becanda tau," ucap Lilis.
"Kirain beneran, Yaudah deh, besok gue hubungi lo lagi ya," ucap Dian.
"Oke,"
Dian lalu menggeser tombol merah pada layar. Dian lalu berjalan mendekati sofa, dan ia memandang Liam yang berjalan mendekatinya.
"Sudah nelfonnya?" Tanya Liam.
"Iya sudah," ucap Dian.
"Teman kamu enggak apa-apa kan kamu nginap di sini,"
"Iya enggak apa-apa," ucap Dian, jantungnya berdegup kencang karena posisi dirinya dan Liam begitu dekat.
Dian menenangkan pikirannya dan ia lalu memilih duduk di sofa. Laki-laki itu terus memandangnya dan duduk di sampingnya. Boy yang tadi meringkuk di sofa, melangkah mendekati dirinya, sambil menggonggong meminta perhatian darinya. Dian dan Liam lalu tertawa, atas kehadiran boy. Ia bersyukur bahwa Boy mencairkan suasana.
"Kamu sudah punya pacar," tanya Liam.
"Belum, kamu?" Tanya Dian.
"Sama kalau begitu," ucap Liam, ia mengedipkan mata kepadanya.
Dian lalu tertawa, melihat Liam menggodanya, "jadi kriteria wanita kamu seperti apa?,"
"Sebenarnya tidak ada kriteria khusus, untuk seorang wanita. Terlebih aku laki-laki dewasa, memilih seorang wanita yang sifatnya menyenangkan, tidak banyak menuntut banyak, dan menenangkan, Itu saja," ucap Liam.
"Owh ya,"
"Pada umumnya aku lebih suka kepada wanita yang tidak terlalu menjaga image, ia bisa membuat aku tertawa, dan memiliki daya tarik tersendiri dalam dirinya. Sepertinya wanita itu memiliki pengaruh penting dalam kebahagian. Seperti kamu mungkin, kamu sangat menggemaskan menurut aku,"
Dian memandang iris mata tajam itu, entahlah tatapan tajam itu seakan menusuk hingga ke jantung hatinya. Ia tidak tahu, laki-laki itu berkata jujur atau hanya sekedar menyenangkan hatinya. Rasanya itu hingga ke hati dirinya.
"Dan kamu," tanya Liam.
"Yang pasti sayang sama aku lah," ucap Dian, ia mengalihkan pandangannya ke arah Tv. Ia tidak ingin Liam melihatnya gerogi di hadapan laki-laki itu.
Liam tersenyum melihat wanita itu, wanita terlihat jelas sedang salah tingkah.
"Umur kamu berapa?" Tanya Liam penasaran.
"Dua puluh empat, dan kamu?" Tanya Dian.
"Tiga puluh,"
"Owh tiga puluh,"
"Kenapa dengan tiga puluh?"
"Ya, seumur itu sudah mateng, menurut aku. Kamu mandiri, finansial kamu baik, dan kamu tidak buruk. Kenapa belum memiliki pasangan,"
"Belum ketemu jodohnya aja. Dari mana kamu tahu, secara finansial saya baik,"
"Jika finansial kamu tidak baik, kamu tidak mungkin bisa membeli rumah di tengah kota New York. Walau rumah ini tidak terlalu besar, saya tidak bisa membayangkan berapa rupiah yang kamu keluarkan setiap meter tanah ini, di hargai,"
"Jadi," Liam menggantungkan kalimatnya
"Jadi ...." Dian tersenyum memandang Liam.
"Jadi apa,"
"Ya, jadi pacar aku aja," ucap Dian terkekeh. Ia menyandarkan punggunya di sofa, sambil mengelus punggung boy yang sudah tertidur itu.
Alis Liam terangkat, wow ia merasa takjub mendengar ucapkan wanita ini. Wanita itu tersenyum kepadanya, dan ia membalas senyuman itu.
"Iya, sekarang kamu jadi pacar aku," ucap Liam.
Dian tersenyum dan mengangguk. Perlahan ia memejamkan matanya, "jadi kita pacaran aja. Aku ngantuk," ucap Dian.
Dian merubah posisi tidurnya menyamping. Ada perasaan hangat, mungkin karena Boy meringkuk di sisinya. Efek mie instan itu membuatnya ngantuk, dan cuaca yang begitu dingin.
Liam hanya bisa memandang wanita cantik itu, "ya tidurlah," ucap Liam.
*********
Beberapa menit kemudian, Liam masih di posisi yang sama, sementara wanita cantik yang baru di kenalnya tadi siang. Kini sudah tertidur bersama boy. Sebenarnya ia tidak terima boy meringkuk di sisi Dian. Baginya dirinyalah yang pantas meringkuk di sana karena dirinya adalah sang kekasih, bukan anjing jantan itu.
Liam mematikan siaran Tv, ia lalu mendekatkan tubuhnya ke arah wanita yang sudah tertidur itu. Wajah cantik itu begitu tenang, nafasnya teratur. Bulu mata itu begitu lentik, sehingga ia ingin berlama-lama memandang wajah cantik itu.
Liam lalu mengangkat tubuh ramping itu dan membawanya ke kemar. Ia tidak peduli lagi dengan Boy, karena baginya sekarang boy seakan tidak ingin lepas dari hadapan Dian. Boy, kini sudah menjadi saingannya. Lihatlah anjing jelek itu, selalu ingin terlihat bermanja-manja di hadapan kekasihnya.
"Maaf boy, malam ini kamu harus tidur sendiri," gumam Liam.
Ia melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya. Meninggalkan boy yang masih tertidur nyenyak di sofa.
*********