
Jakarta
"Mana adik kamu," tanya mama kepada Tatang. Masalahnya ini sudah hampir jam tujuh putri bungsunya masih belum juga turun ke bawah.
"masih di kamarnya ma," ucap Tatang.
"Cepat suruh turun, suruh makan, emang dia enggak kerja," ucap Mama.
"Tatang udah ajak ma, tapi Dian nya enggak mau, kayaknya enggak mau kerja juga," ucap Tatang lagi.
Papa yang mendengar itu lalu menoleh ke arah Tatang, "Adek kamu kenapa, cepat suruh turun !, cari penyakit aja, enggak mau makan," ucap Papa, meletakkan koran di meja.
"Udah pa, Tatang sudah suruh turun, tapi Dian nya tetap enggak mau, nangis nangis enggak jelas lagi,"
"Kenapa adek kamu tingkahnya kayak gitu," tanya mama.
"Galau ma biasa, putus cinta lah sama si gondrong itu," ucap Tatang.
"Putus dari William, maksud kamu," tanya mama lagi.
"Iya ma,"
"Dari mana kamu tahu, kemarin Dian masih di jemput pacarnya," ucap papa.
"Semalam pa putusnya," ucap Tatang menyudahi makannya, dan meneguk air mineral di hadapannya.
"Dian ada cerita sama kamu," tanya mama penasaran.
"Enggak, semalam Tatang nelfon pacaranya. Masalahnya tingkah Dian tadi malam aneh banget, marah-marah enggak jelas, terus nangis-nangis gitu, biasalah kayak patah hati gitu," ucap Tatang mencoba menjelaskan.
"Apa kata pacarnya?" Tanya mama lagi.
"Kata Liam, Dian yang mutusin dia, padahal dia lagi sayang-sayang nya sama Dian. Gila kan ma, masa Liam baik-baik kayak gitu di putusin sama Dian. Dian aneh ma, enggak ada masalah apa-apa minta putus," ucap Tatang lagi.
"Jadi itu yang buat adek kamu tingkahnya aneh,"
"Iya pap, biasalah,"
"Adek kamu emang aneh, putus cinta kok enggak mau makan,," timpal mama.
"Dia yang minta putus, kenapa dia yang galau," ucap papa, diselingi tawa.
"Tau tuh pa, aneh, muter lagu-lagu galau di kamarnya sampe berisik. Kalau papa enggak percaya lihat aja di kamarnya," ucap Liam lagi.
"Owalah, bocah itu, ya sudah mama mau ke atas," ucap mama. Beliau menyudahi makannya, menegakkan tubuhnya berjalan menuju kamar Dian.
Sementara Tatang mengikuti mama dari belakang.
*******
Dahulu terasa indah
Tak ingin lupakan
Bermesraan selalu jadi
Satu kenangan manis
Tiada yang salah
Hanya aku manusia bodoh
Yang biarkan semua ini permainkanku
Berulang ulang kali
Mencoba bertahan sekuat hati
Layaknya karang yang dihempas sang ombak
Jalani hidup dalam buai belaka
Serahkan cinta tulus di dalam takdir
Tak ayal tingkah lakumu
Buatku putus asa
Kadang akal sehat ini
Tak cukup membendungnya
Dian menatap dirinya di cermin, sambil bersenandung.
"Tok...tok...tok...,"
"Siapa?" Ucap Dian, menyadari ada seseorang yang mengetok pintu.
"Ini mama,"
"Masuk aja ma, enggak di kunci kok," ucap Dian. Ia sebenarnya malas jika sang mama ikut campur urusan pribadinya seperti ini. Ia yakin Tatang lah yang memberitahu keadaan dirinya.
Mama lalu membuka hendel pintu, memandang Dian, yang sedang duduk. Alunan musik itu begitu berisik menurutnya. Serta tempat tidur masih berantakkan.
"Pelanin musik kamu, berisik," ucap mama.
"Iya, iya,"
Dian lalu mengecilkan volume speaker ponsel. Ia kembali memandang sang mama.
"Kamu kenapa Dek? Sakit?" Tanya mama, beliau melangkahkan kakinya ke arah Dian.
"Iya nih, lemes banget rasanya badan Dian, ma," ucap Dian, memberi alasan, ia memegang punggungnya. Agar sang mama yakin bahwa, dirinya emang sakit.
Mama melihat ada kejanggalan pada putrinya, pakek acara pegang punggung lagi. Akting putrinya memang payah, mudah di tebak, itu sih alasannya aja.
"Jadi kamu enggak kerja?" Tanya mama lagi. Ia memperhatikan secara keseluruhan tubuh Dian. Beliau tahu anaknya sehat, dan baik-baik saja.
"Dian udah izin sakit ma,"
"Izin terus, nanti di pecat baru tahu rasa,"
"Ya, enggak mungkin lah, masa gara-gara sakit, Dian di pecat,"
Mama lalu menyentuh kening Dian, beliau ingin merasakan suhu tubuh putrinya yang pura-pura sakit ini. Suhu tubuh putrinya yang cantik ini masih normal.
"Badan kamu enggak panas dek, kamu juga enggak demam,"
"Siapa bilang Dian demam. Tapi badan Dian yang lemes ma, Dian pengen istirahat di rumah aja hari ini," ucap Dian mencoba menjelaskan.
Mama manarik nafas, "Yaudah enggak apa-apa, kamu istirahat aja. Jangan lupa makan, kalau ada apa-apa kamu bisa beli makanan sama gojek, atau minta masakin sama bibi. Mama dan papa ke toko dulu," ucap Mama,
"Iya ma,"
Beliau meninggalkan Dian begitu saja, kemudian, pintu tertutup kembali. Dian merasa lega, akhirnya sang mama telah keluar dari kamar.
Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka, Dian menoleh ke arah pintu. Baginya orang yang membuka pintu itu tidak sopan, dan tanpa permisi. Yang membuka pintu adalah Tatang, saudaranya.
"Bisa enggak sih, kalau masuk permisi dulu," dengus Dian kesal.
"Kata mama kamu sakit," ucap Tatang, ia memandang Dian, masih duduk di kursi.
"Enggak sakit, cuma malas kerja, mau nyantai-nyantai aja di rumah," ucap Dian.
"Mas panggilin Liam aja ya, buat nemenin kamu," ucap Tatang.
"Ngapain Liam di bawa-bawa, kan Dian udah bilang jangan bahas si babon itu," ucap Dian lagi.
Tatang mendengar itu hanya bisa tersenyum, "Nanti kamu enggak ada temannya loh sampe sore. Rene juga kerja,"
"Emang temen Dian cuma Rene, ada bi Asih juga masih di bawah. Udah deh mas pergi kerja sana, jangan gangguin Dian,"
"Bilang aja kalau lagi galau, galau mikirin si gondrong itu kan, hayo ngaku"
"Enak aja, siapa yang galauin dia, malesin banget sih,"
"Apa namanya kalau bukan galau, tiap ditanya tentang Liam, kamunya langsung emosi. Lagi patah hati ya bilang aja," ucap Tatang lalu tertawa, ia lalu dengan cepat menutup pintu, sebelum boneka itu mendarat di wajahnya. Karena sang pemilik kamar sudah siap melempar ke arahnya.
"Ih, mas ngeselin, awas lo, minjem mobil gue lagi !" Ucap Dian penuh emosi.
**********
"Gue masih di rumah, Dian masih nangis-nangis enggak," Tanya Liam penasaran.
"Ini lebih parah men,"
"Lebih parah gimana? Dian enggak nekat bunuh dirikan," ucap Liam.
"Enggak lah, sekarang parahnya Dian enggak kerja hari ini, dengan alasan sakit, padahal kata mama badannya enggak panas men. Normal, biasa-biasa aja," ucap Tatang lagi.
"Gue kesana deh sekarang,"
"Agak siangan dikit deh lo kesana, sekalian bawa makanan. Gue yakin Dian enggak mau makan gitu, gue takutnya Dian sakit beneran," ucap Tatang.
"Kalau dia sakit, yang repot seluruh rumah,"
Liam mendengar itu lalu terkekeh, entah kenapa ia begitu bahagia mendengar kabar itu. Baru kali ini ia memiliki kekasih yang tidak membosankan dan semua terasa menyenangkan.
Awalnya ia hanya menjalani hubungan ini, untuk mengisi kekosongan saja. Tapi melihat reaksi, serta tingkah laku kekasihnya yang tanpa di buat-buat, semakin jauh kesini, ia sulit sekali untuk melepaskannya begitu saja. Entahlah Ian bahagia bersama kekasih barunya ini.
"Iya, deh,"
"Di rumah enggak ada siapa-siapa, lo tekan aja berkali-kali sampe dia bangun, ada bi Asih sih, yang jagain rumah, tapi biasa kalau siang bi Asih, pulang ke rumahnya," ucap Tatang.
"Iya lo tenang aja,"
"Oke, men." Ucap Liam, ia lalu menekan tombol merah pada layar.
**********
Dian berjalan menuju dapur, ia memandang bi Asih yang sedang mencuci piring. Bi Asih menyadari kehadiran sang putri kecil di rumah ini, masih nengenakan baju tidur kebesarannya terlihat jelas masih belum mandi.
"Eh, eneng. Enggak kerja neng," ucap bi Asih, ia meniriskan piring basah itu di rak dekat wastafel.
"Enggak, lagi malas bi," ucap Dian, ia duduk di meja pantri. Ia melirik jam yang menggantung di dinding, menunjukkan pukul 09.30 menit.
"Kata ibu, neng belum makan, mau makan apa neng," tanya bi Asih.
"Lagi malas makan bi. Bi bisa buat rujak mangga enggak?" Tanya Dian.
"Bisa dong neng. Biasa bibi buat, waktu ngidam," ucap bi Asih.
"Buatin dong bi, enak nih makan rujakkan," ucap Dian, ia mendekati bi Asih.
"Di kulkas enggak ada mangga neng, tapi buah lain ada, tadi pagi bibi beli,"
"Buah apa bi,"
"Buah apel, pisang, bengkoang, jambu juga ada," ucap bi Asih.
"Bengkoang sama jambu boleh deh bi. Kita makan sekarang," ucap Dian antusias.
"Tapi eneng belum makan nasi, loh. Nanti perutnya sakit,"
"Enggak apa-apa bi, bibi tenang aja. Lambung Dian udah kuat kok,"
"Nanti ibu marah, asam lambung neng naik," ucap bi Asih lagi.
"Bi buatin dong, Dian pengen rujakkan, dari pada, Dian enggak makan seharian," rengek Dian.
"Tapi eneng minum madu dulu deh, biar perutnya enggak kaget,"
"Iya, iya," ucap Dian, ia mengikuti perintah bi Asih. Dian melangkah mengambil sendok dan mengambil botol madu, di lemari kabinet.
"Minumnya tiga sendok, ya neng," ucap bi Asih, memperingatkan Dian.
"Iya, bi tenang aja," ucap Dian, ia menuangkan madu itu dalam takaran sendok.
Bi Asih membuka kulkas, mengeluarkan buah bengkoang dan jambu dari kulkas. Dian melirik bi Asih.
"Pacarnya neng, rambutnya gondrong ya," ucap bi Asih, sambil memotong bengkoang.
"Bibi kok tau,"
"Tau lah, Bibi pernah lihat sekilas, waktu mas gondrong, jemput neng kemarin," ucap bi Asih sambil terkekeh.
"Tapi sekarang udah putus bi," ucap Dian lirih.
"Putus kenapa neng, kok bisa," tanya bi Asih penasaran dan mulai kepo, ia demen gosip kayak gini.
"Aku yang putusin bi," ucap Dian, ia memandang langit-langit plafon, dan akan memulai menceritakan keluh kesahnya kepada bi Asih. Rene sahabatnya sudah tidak memperdulikannya. Hanya bi Asih lah yang tersisa.
"Kenapa mas gondrong itu di putusin Neng? padahal mas gondrong itu ganteng loh, menurut bibi," bi Asih, memotong bengkoang itu hingga habis.
"Ganteng dari mana, jelek gitu,"
"Kalau enggak ganteng, neng pasti enggak mau lah pacaran sama mas gondrong itu," bi Asih terkekeh.
"Iya sih bi ganteng kalau senyum doang, jadi gimana dong bi," rengek Dian, kepada bi Asih.
"Neng nyesel, mutusin mas gondrong itu,"
"Nyesel sih enggak bi, cuma nyeksek aja," ucap Dian lagi, ia mengambil irisan bengkoang dari piring.
"Itu namanya nyesel neng, neng minta balikkan aja," ucap bi Asih lagi.
"Gengsi dong bi,"
"Jaman sekarang enggak ada gengsi-gengsi neng, kalau neng cinta sama mas gondrong itu, ya bilang aja. Lagian baru putuskan,"
"Iya sih bi,"
"Ya udah, neng minta maaf sama mas nya. Nanti mas nya pasti maafin. Bibi yakin mas nya juga masih cinta sama neng,"
"Tapi bi, dia itu nyeremin, Dian takut,"
"Mas gondrong nyeremin, gimana neng?" Tanya bi Asih penasaran, Ia memandang Dian.
"Nyeremin lah pokoknya, dia mirip preman bi, suka ngancem Dian," rengek Dian.
"Preman dari mana neng, mas gondrong kelihatannya baik gitu sama neng,"
"Bibi enggak tahu, karena bibi bukan pacarnya," timpal Dian.
Bi Asih hanya menarik nafas, "Iya deh terserah neng aja, bibi ikut aja,"
"Pusing bi, kalau kayak gini,"
"Bi, Dian harus gimana dong,"
"Bibi tau lah, dia itu playboy, tapi ngangenin sebenarnya,"
"Tapi Dian enggak mau bilang bahwa, Dian kangen sama si babon itu. Jadi gimana dong Bi," rengek Dian.
"Dian bingung nih bi," rengek Dian.
Sementara bibi hanya mengelus dada, Ia juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan kepada anak majikannya ini. Sebenarnya cukup praktis tinggal telfon saja, semua masalah akan terselesaikan.
"Bibi juga enggak tau neng. Kalau bibi ada nomor hp mas gondrong itu, udah bibi telfon deh," ucap bi Asih lalu mencuci buah yang ada di piring.
"Bibi mau nelfon gimana?"
"Bibi cuma mau bilang, bahwa neng kengen sama dia,"
"Jangan bi, nanti dia GR, besar kepala," ucap Dian.
"Bibi kan enggak ada nomornya neng, mana bisa juga bilang kayak gitu. Rujaknya mau pedes apa enggak neng,"
"Mau pedes," ucap Dian.
"Neng sabar aja deh, semoga mas gondorng nya balik lagi sama neng," ucap bi Asih.
Percakapan itu berlanjut hingga menjelang siang. Sehingga bi Asih mengurungkan niat nya untuk pulang, menemani anak majikannya yang sedang galau merana.
********