
Dian membuka sterofoam, ia memandang mangga muda yang di iris secara memanjang. Inilah makanan yang membuatnya ngiler. Dian menelan ludah, dan ia lalu memasukan mangga yang dibalur dengan bumbu cabe itu. Rasanya pedas manis, asem, membuat lidahnya meledak ledak. Apalagi dengan cuaca siang-siang seperti ini. Ia makan sambil menyipitkan mata, karena rasa asam itu menggugah selera.
Liam memperhatikan kekasihnya sedang makan buah mangga. Betapa lahapnya wanitanya itu memakan mangga muda. Ia hanya takut wanita cantik itu sakit perut, terlebih wanita itu belum makan nasi.
"Seger gila," ucap Linggar.
"Enak banget," ucap Dian lagi, sambil mengunyah buah mangga itu.
"Uhhh, enaknya. Ini makanan terenak yang pernah gue coba di dunia ini," ucap Ayana, memakan rujak mangga itu dengan lahap.
"Tau enggak sih lo, gue udah lama enggak makan ini," ucap Linggar di selingi tawa.
"Apalagi gue, lo taulah gue kan di Berlin, mana ada jual kayak ginian," timpal Ayana.
"Di rumah gue di kalimantan ada pohonnya, hampir tiap hari gue rujakan mangga," ucap Linggar, sambil mengelap keringatnya dengan tisu, karena bercucuran dari pelipisnya.
"Sumpah enak banget ni rujak," ucap Dian, ia memasukan mangga itu ke dalam mulutnya lagi.
Para laki-laki menatap para wanita, dengan pandangan tidak percaya. Lihatlah mereka terlalu berlebih-lebihan, padahal itu hanya mangga muda yang di racik dengan cabai dan gula. Baginya makan daging panggang, jauh lebih enak dari pada makanan itu. Sialnya lagi bocah kecil itu, mengatakan itu adalah makanan terenak di dunia. Sumpah kekasih Daniel itu terlalu lebay. Ia ingin sekali menyadarkan ketiga wanita-wanita itu, bahwa di dunia ini banyak yang lebih enak, sekedar buah mangga.
"Setelah ini kita kemana?" Tanya Linggar kepada Darka.
"Ya, jalan lah ke pantai,"
"Ke pantai senengnya. Sayang, tadi aku sempet loh tanya sama mbak-mbak receptionis, katanya ada spa juga loh di sini," ucap Linggar, kepada Darka.
"Terus,"
"Ya, aku mau spa lah, biar seger kayak buah yang baru di petik. Pengen di pijet-pijet juga," ucap Linggar, sambil makan mangga.
"Yaudah enggak apa-apa, boleh kok,"
"Makasih ya sayang,"
Daniel tertawa mendengar permintaan wanita di hadapannya ini. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Ayana,
"Kamu enggak mau coba seawalker" ucap Daniel kepada Ayana.
"Owh, berjalan di dasar laut itu, boleh deh. Seru tuh, lo berdua ikut juga," ucap Ayana, kepada Dian dan Linggar.
"Lo kan tau gue enggak bisa berenang, gimana sih lo," timpal Dian.
"Enggak perlu berenang kali, cuma pakek helm doang, terus kita bisa liat ikan-ikan gitu deh, sambil jalan-jalan. Aman kok, nanti ada instruktur juga yang jagain. Gue pernah coba kok," ucap Ayana mencoba menjelaskan.
"Boleh deh,"
"Jadi kapan, kita mau pergi," tanya Ayana lagi, ia lalu duduk di samping Daniel.
"Kalau kami bertiga besok rencana mau nyelam di Nusa Penida, berangkatnya ya pagi. Kalau kalian mau, besok pagi kalian bisa pergi, nanti di jemput pak Ketut," ucap Daniel lagi.
"Jadi pisah gitu,"
"Iya, kan kami mau nyelam, aku udah lama loh enggak menyelam sayang. Setelah seawalker, kalian bisa spa, seru kan, kamu ada temannya juga," ucap Daniel, menjelaskan kepada Ayana.
"Iya deh,"
Dian mendengar itu hanya diam, jujur ia pengen spa juga, pengen juga segerin badan, terus pengen wangi wangi juga. Dian melirik Liam, laki-laki itu menyadarkan punggungnya di sofa. Laki-laki itu membalas tatapannya. Ia tahu dengan tatapan itu, laki-laki itu menyuruh mendekatinya. Setidaknya besok dirinya akan berpisah dengan si babon itu, walaupun sebentar. Ia tidak bisa menutupi rasa senangnya karena, ia tidak melihat tampang si babon itu lagi. Dian menarik nafas, melangkah mendekati Liam. Ia lalu duduk di samping Liam,
"Aku juga mau, spa," ucap Dian.
"Iya boleh, terus apa lagi," Liam meraih jemari Dian. Ia sengaja memisahkan diri dari ke dua temannya itu.
"Katanya mereka mau seawalker,"
"Iya, memang itu rencana aku, kalian bisa senang-senang juga. Itu aman kok, untuk kamu yang enggak bisa berenang,"
"Kalau itu rencana kamu, kok enggak cerita ke aku,"
"Ini udah cerita," ucap Liam, ia mengelus rambut Dian.
"Besok kamu pergi jam berapa?" Tanya Dian penasaran, ia juga menyandarkan punggungnya di sofa.
"Pagi,"
"Pulangnya jam berapa?"
"Sore lah, sayang,"
"Hari ini kita mau kemana?" Tanya Dian lagi.
"Kalau aku sih, maunya berdua aja, dengan kamu di kamar," ucap Liam.
"Ih, aku nanyanya serius,"
"Sumpah, aku serius,"
"Ih," dengus Dian.
Liam tersenyum dan ia lalu memeluk tubuh ramping Dian, ia curukkan wajahnya di bahu kekasihnya ini. Ia mengendus harum vanila dari tubuh wanitanya.
"Seharusnya kamu belanja di Jakarta kemarin sayang, bukan di Bali," ucap Liam ia melonggarkan pelukkannya, dipandangnya wajah cantik itu.
"Tapi aku kan pengen belanja,"
"Oke, kamu mau belanja apa," ucap Liam, ia merapikan rambut Dian, dan menyelipkan rambut itu di telinga.
"Banyak lah, mau belanja baju, pernak pernik, mau kuliner juga," ucap Dian, ia ingin tahu apakah Liam, berani mengasi uang untuk dirinya.
"Oke," Liam, lalu merogoh dompet di saku celananya.
Dian melirik Liam merogoh dompet di saku belakangnya. Ini pertama kalinya ia melihat dompet berwarna hitam dengan bahan kulit, di sudut dompet itu bertulisan Coach. Ia tahu merek dompet itu sangat terkenal di New York, dengan barang-barang kulit berkualitas. Ia pikir si babon ini tidak mengerti fashion. Masalahnya si babon ini sungguh berantakkan.
Liam membuka dompetnya, ia memperlihatkan itu kepada Dian. Tidak banyak uang yang ada di sana. Hanya beberapa lembar uang berwarna merah dan biru, serta beberapa uang dolar.
Dian terpana menatap kartu-kartu yang berjejer rapi di dompet itu, ia memandang kartu berwarna silver bertulisan MasterCard platinum. Ia tahu mastercard adalah jasa keuangan international, yang terletak di New York. Dian tahu bahwa kartu itu adalah untuk nasabah prioritas atau nasabah kaya. Kartu itu bisa di gunakan untuk transaksi di seluruh dunia. Setidaknya ia tahu tentang kartu itu. Tidak hanya kartu itu saja, tapi masih banyak kartu lainnya. Ia memandang id card, ia lalu mengerutkan dahi, setelah itu ia memandang Liam. Ia semakin penasaran dengan id card, berwarna silver itu.
"Aku mau lihat id card kamu," ucap Dian seketika. Sungguh ia penasaran identitas laki-laki ini.
"Katanya mau belanja, kok lihat nya id card aku," ucap Liam.
"Aku mau lihat aja," ucap Dian lagi.
Liam menarik nafas, dan ia mengambil id card nya, dan menyerahkan id card itu kepada Dian.
Dian mengambil kartu itu dari tangan Liam. Ia memperhatikan id card itu, dan ia membaca setiap detail tulisan yang tertera di sana. Kartu itu bertulisan "NYC IDENTIFICATION CARD" dengan id number 16240123778965, name William. Dian menoleh ke arah Liam. Liam juga membalas pandangannya.
"Kamu udah pindah kewarganegaraan?" Tanya Dian.
"Iya, udah lama malah," ucap Liam.
"Kok pindah," ucap Dian lagi.
"Kan aku udah bilang, aku udah menetap di New York, jadi aku otomatis pindah kewarganegaraan,"
"Jadi di Indonesia," ucap Dian, menggantungkan kalimatnya.
"Liburan,"
"Owh,"
Liam tersenyum, dan ia mengelus kepala Dian, "Makanya kamu sekali-kali harus kenal aku, masih banyak yang belum kamu ketahui tentang aku,"
Dian hanya diam dan ia memandang iris mata tajam itu. Ia masih sulit percaya bahwa si babon ini sudah bukan warga negara Indonesia lagi. Sepertinya ia tidak rela laki-laki ini pindah kewarganegaraan.
"Aku belum mengambil uang, kamu mau pilih yang mana," ucap Liam. Ia memperlihatkan kartu-kartu miliknya terhadap Dian.
"Kecuali yang ini, ini merupakan tabungan masa depan kita, tidak boleh di ganggu," ucap Liam, menunjuk kartu berwarna platinum yang sengaja, tidak laki-laki itu keluarkan.
Dian menggenggam tangan Liam, ia menggelengkan kepala, ia menaruh kartu itu di dompetnya kembali. Dirinya bukan tidak mau mengambil kartu, hanya saja jika laki-laki itu minta ganti rugi, karena dirinya kalap menghabiskan uangnya. Bisa berabe, dapat dari mana ia uang untuk membayar semuanya. Sebaiknya ia cari aman, ia tidak ingin berhutang kepada si babon ini.
"Enggak jadi deh, aku ambil dolarnya aja ya," ucap Dian.
"Pembayaran di sini pakek rupiah loh sayang, bukan pakai dolar,"
"Aku mau dolarnya, untuk simpan di dompet aku. Jarang-jarang loh aku ada uang dolar,"
Liam tertawa, dan ia melirik Dian, "Kalau kamu tinggal di New York, nanti kamu pakai dolar setiap hari,"
"Kan aku enggak tinggal di New York,"
"Kalau sama aku, kamu pasti tinggal di sana,"
"Eh,"
"Oke," ucap Liam, ia mengambil uang itu dan menyerahkan kepada Dian.
"Ada lagi,"
"Enggak ada,"
"Enggak jadi belanja?,"
"Nanti belanjanya sama kamu aja," ucap Dian, ia tidak berani memegang kartu milik si babon ini.
"Yakin,"
"Yakinlah,"
"Aku mau jalan-jalan di pantai, bersiap-siaplah," ucap Liam, ia mengecup puncak kepala Dian.
"Iya,".
Dian lalu menegakkan tubuhnya berjalan menjauhi Liam, ia menoleh ke arah babon itu sekali lagi. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya menuju kamar.
*********