
Dian memandang Boy mengikuti Liam, ekornya bergerak gerak. Dian lalu duduk di sofa, anjing yang mengekori Liam lalu beralih melompat di sampingnya. Dian tersenyum dan ia lalu mengelus tubuh anjing itu.
"Hey Boy," ucap Dian.
"Sepertinya boy, suka sama kamu," ucap Liam, ia juga duduk di samping Dian.
"Sepertinya begitu, Boy sering sama kamu?" Tanya Dian, ia masih mengelus bulu-bulu halus itu, boy duduk diantara Dian dan Liam, sambil menyaksikan siaran talkshow.
"Kadang-kadang, kalau aku ada di rumah," ucap Liam.
"Lucu banget ya anjingnya, pengen peluk-peluk gini," ucap Dian, ia lalu memeluk Boy. Boy mengambil posisi di antara kedua pahanya.
"Dulu aku juga pernah punya piaraan seperti ini," ucap Dian, ia mulai bercerita.
"Owh ya, terus, emang kamu pelihara apa,"
"Kucing,"
"Kucing, wah lucu tuh, kucing apa?" Liam mulai masuk ke topik pembicaraan wanita ini, ia hanya ingin membuat wanita ini nyaman bersamanya.
"Kucing kampung,"
"kucing kampung? kamu dapat di mana?"
"Dapat di dekat rumah. Walaupun kucing kampung, Tapi warnanya lucu kok, belang-belang gitu. Aku langsung bawa aja kerumah. Awalnya mama enggak setuju aku pelihara kucing, tapi aku bujuk-bujuk gitu. Akhirnya mau," ucap Dian.
"Setelah itu,"
"Setelah seminggu berlangsung, ya mama marah besar. Kucingnya suka pup sebarangan, gorden dan sofa mama amburadul,"
Seketika Liam tertawa, iya jelas marahlah kalau sudah kejadian seperti itu, "Kucingnya di mana sekarang,"
"Aku enggak tahu, soalnya waktu itu aku kerja. Pulang kerja si kucing kampung itu udah enggak ada. Mama emang tega, padahal kucingnya itu lucu banget. Kasihan juga kalau telantar, kalau kehujanan gimana?"
"Mungkin kucingnya udah dapat majikan baru. Kamu enggak perlu khawatir,"
"Iya, kalau dapat majikan baik kayak aku. Kalau jahat bagaimana. Kasihan tau,"
"Kucing punya tujuh nyawa kamu tenang aja," ucap Liam lagi, dan ia berusaha menahan tawa.
Liam menarik nafas, Ada terbesit keceriaan di hatinya, ia belum pernah sekalipun mendapati wanita seperti ini.
"Kamu bisa masak nggak?" Tanya Liam, mengubah topik pembicaraanya.
Ini adalah pertanyaan yang sulit Dian jawab. Jujur ia bukan jenis wanita yang senang meracik makanan, atau berlama-lama di dapur. Ia hanya bisa meracik sesuatu yang sudah ada takarannya, misalnya memasak mie instan, yang hanya perlu di rebus, atau ikan tuna kemasan, atau daging rendang yang ia beli di rumah makan padang, yang hanya perlu di panaskan.Mana mungkin ia bisa masak, sementara sang mama selalu mengusirnya, ketika ia ingin membantu masak. Kata sang mama kehadiran dirinya, hanya memperlambat kerjaan.
Padahal ia ingin sekali memasak. Alhasil, hingga sekarang ia tidak tahu, mengolah makanan dan meracik bumbu dapur.
"Bisa sih," ucap Dian, ia merasa tidak yakin atas apa yang ia ucapkan.
"Masak yuk," ucap Liam.
"Iya deh," ucap Dian.
Mendengar jawaban itu, Alis Liam terangkat, "Kamu beneran bisa masak atau enggak?," ucap Liam mencoba memastikan ucapan wanita itu.
"Iya bisalah," ucap Dian asal, ia lalu menegakkan tubuhnya, dan boy juga ikut berdiri mengikutinya.
*******
Dian memandang Liam mengeluarkan bahan makanan dari lemari pendingin. Ia memandang daging, kentang, telur dan kecap ikan. Ia sebenarnya tidak tahu apa yang harus ia lakukan, dengan bahan-bahan mentah ini.Liam lalu mengikat rambutnya ke belakang, dan ia membuka lemari kabinet.
Boy sedari tadi menggonggong dan mengacau aktivitasnya. Liam mengambil mangkuk dan menuangkan makanan kemasan anjing. Boy melihat itu lalu mendekati Liam, dan mulai makan dalam diam.
Sementara Dian masih memandang bahan makanan itu, jujur ia tidak tahu akan memasak apa. Sebaiknya ia menyerah saja dengan laki-laki ini. Liam mendekati Dian, dengan pandangan bertanya-tanya.
"Kamu mau masak apa hemm," tanya Liam.
"Aku enggak tau mau masak apa," ucap Dian jujur.
"Loh, katanya kamu bisa masak," ucap Liam lagi.
"Ya bisa kalau masak mie instan, masak sarden, atau masak kari, yang masaknya tinggal di rebus dan di hangatin aja. Tanpa perlu meracik bumbu-bumbu gitu,"
Liam mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Ternyata wanita cantik ini tidak bisa masak. Ia juga bisa, jika hanya sekedar masak mie instan seperti itu. Liam menarik nafas, dan ia lalu mengurung tubuh Dian, tepat di depan meja pantri.
Ia memandang secara jelas wajah cantik dan iris mata bening itu.Jantung Dian berdegup kencang ketika Liam mengurungnya. Ia membalas tatapan mata tajam itu dengan berani.
"Jadi apa yang harus kita lakukan dengan bahan makanan itu?, saya juga tidak bisa memasak," ucap Liam.
"Terus kamu kenapa beli bahan mentah seperti ini, kalau kamu sendiri enggak bisa masaka,"
"Tadi aku asal masuk-masukin aja, ketika di minimarket tadi. Kalau daging ini, aku ingin di panggang,"
"Owh gitu, lebih baik masak soup aja," Dian memberi usul.
"Hemm ya, soup boleh deh,"
Dian memberanikan diri menyentuh punggung Liam, karena memang posisinya begitu dekat,
"cuaca dingin seperti ini, lebih baik kita masak soup, agar badan kita anget,"
Liam tersenyum, ia merasa bahagia, ternyata wanita ini berani menyentuh punggungnya tanpa rasa canggung. Ia juga bahagia ternyata ia bisa ber aku-kamu secara intim seperti ini. Ia sekarang merasa dekat dengan wanita cantik ini,
"Ya, sebaiknya kita masak soup, sepertinya cukup mudah, hanya di rebus aja kan," ucap Liam.
"Iya,"
Liam melepaskan tangannya, ia kembali memandang ke arah meja, begitu juga dengan Dian. Dian mencari panci di lemari kabinet, ia menemukan apa yang ia cari. Panci itu terlihat masih baru, ia yakin sang pemilik rumah masih belum pernah menggunakannya. Dia mengisi panci itu dengan air, sementara Liam mengeluarkan daging itu dari sterofoam.
"Dagingnya di potong kecil kecil ya," ucap Liam.
"Iya, di coba aja, yang makan nanti juga kita," ucap Dian, ia juga tidak yakin atas apa yang ia ucapkan.
Dian lalu membuka kentang dari kulit luarnya. Setelah itu ia cuci kentang itu, dan menyerahkan kepada Liam.
"Ini di potong juga," ucap Liam, ia mengambil kentang itu dari tangan Dian.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah memasukan semua bahan makanan. Air yang ada di panci juga sudah mendidih. Dian mengambil sendok dan lalu mencicipi soup buatannya.
Sementara Liam hanya bisa memandangnya, dengan penuh harap.
"Tawar," ucap Dian.
"Belum di kasih garam," ucap Liam.
"Iya, kan kita belum masukin garam," Dian mengambil garam, dan ia masukkan garam itu setengah sendok.
Liam mengambil sendok dari tangan Dian, ia lalu mulai mencicipi. "Ada yang kurang," ucap Liam.
Dian kembali berpikir, "Aku biasa liat mama, kalau masak di kasih gula. Kamu ada gula enggak?" Tanya Dian.
Liam mengambil gula, menyerahkan gula itu kepada Dian. Dian memasukkan satu sendok gula pada soup tersebut. Ini merupakan pertama kalinya ia masak, Dian memandang Liam, dan kembali mencicipi kembali.
"Masih ada yang kurang, rasanya kurang nendang," ucap Liam.
"Masukin kecap ikan aja, biasa kalau orang jepang masak, apapun makanannya pakek kecap ikan," ucap Dian lagi.
"Ya, sepertinya kita coba aja," ucap Liam.
Liam memandang Dian memasukkan kecap ikan di soup itu. Setelah memasukan kecap ikan itu, Liam kembali mencicipi masakan itu.
"Rasanya aneh," ucap Liam.
"Beneran?" Ucap Dian tidak percaya.
"Iya bener," Liam lalu mengarahkan sendok itu ke bibir Dian.
"Ih aneh banget rasanya," ucap Dian.
"Rasanya mirip oralit, iya kan," ucap Liam lagi.
"Kamu ada saus enggak? Campur saus aja, mungkin enak," ucap Dian memberi ide.
Mendengar kata saus Liam mengerutkan dahi. Ia bertolak pinggang, kepada wanita di hadapannya ini.
Sepertinya ia salah memasukkan Dian ke tim memasaknya. Oh Tuhan, wanita ini ternyata sama sekali tidak bisa memasak. Bodohnya lagi, kenapa ia mengikuti semua perintah wanita ini.Liam menarik nafas, ia mendekati Dian, ia tatapnya mata bening itu. Sebenarnya ia kesal bercampur rasa lucu, ketika ia percaya saja atas intruksi wanita cantik ini.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu masak hemmm. Emang ada soup di campur dengan saos?" Ucap Liam.
Dian memegang sudut meja pantri, agar tubuhnya tidak luruh ke lantai, karena Liam begitu dekat dengannya.
Dian mengedikkan bahunya,"Ya, ada. Biasa aku makan bakso pakek saos, rasanya jadi enak," ucap Dian pada akhirnya.
"Aku tidak tahu lagi rasanya seperti apa, apabila saos ikut bercampur dengan soup ini,"
Liam memegang dagu Dian, agar sejajar dengan wajahnya."Lihatlah daging yang aku pilih secara cermat, ternyata menjadi sia-sia" ucap Liam.
Sungguh ia sangat menyukai daging, apapun bentuknya. Sebenarnya cukup mudah membuat daging panggang, Ia hanya perlu meletakkan di teflon dan sedikit garam, bersama kentang rebus. Makanan itu sudah cukup sederhana, ia bisa membuatnya sendiri.
"Terus gimana dong, aku kan emang enggak bisa masak," ucap Dian.
"Terus kalau enggak bisa masak, kenapa nyuruh-nyuruh masukin garam, gula, kecap ikan, dan terakhir saus," ucap Liam.
"Eksperimen," ucap Dian pelan.
"Oh Tuhan,"
"Kamu marah,"
"Enggak kok, hanya kesel aja," ucap Liam, ia lalu tertawa, ia mengelus kepala Dian, karena terlalu gemas terhadap wanita ini.
Rasa kesalnya hilang begitu saja."Kamu bisa masak mie instan kan," ucap Liam.
"Ya bisalah,"Liam lalu membuka lemari kabinet, mengambil dua bungkus mie instan. Liam menyerahkan mie instan itu kepada Dian.
"Sebaiknya kita makan mie instan,"
"Iya,"
"Masakin aku juga ya," ucap Liam.
"Oke," Dian lalu tersenyum kepada laki-laki itu.
*******
Dian membawa mangkuk berisi mie instan hasil buatannya. Liam menyadari kehadirannya dan tersenyum. Senyum laki-laki itu begitu tampan menurutnya. Liam memandang mie di dalam mangkuk.
"Kamu masukin daging itu," ucap Liam, ia memandang daging di atas mie.
"Iya, tadi aku pilihin dagingnya satu-satu. Sayang kalau dibiarin gitu aja," ucap Dian, dan duduk di samping Liam.
Liam lalu makan mie buatan Dian, rasanya memang seperti mie instan, hanya tambahan daging saja.
"Kamu nginap di sini aja, lagian sudah malam juga," ucap Liam.
"Jadi boleh aku nginap di sini,"
"Ya, boleh lah. Kamu mau kemana sudah malam seperti ini. Cuaca enggak bersahabat,"
"Tapi aku kasih tahu temen aku dulu, takutnya dia khawatir,"
"Iya,"
"Besok aku temenin kamu jalan-jalan,"
"Jalan-jalan kemana?"
"Kemana saja, yang pasti tempatnya sangat menarik. Aku tidak ingin nanti liburan kamu di New York sia-sia" ucap Liam, ia mengedipkan mata kepada Dian.
"Ya," ucap Dian
***