
Dian membiarkan ponselnya berbunyi di dalam tas nya, karena saat ini semua sudah mempersiapkan diri untuk berangkat. Ada alasan tersendiri kenapa ia tidak mengangkat ponsel itu. Alasannya adalah si babon ini ada di sampingnya. Ia hanya takut Liam menyelidiki siapa si penelfon itu. Masalahnya laki-laki ini selalu ingin tahu. Biasa yang sering menghubunginya adalah Rene, atasanya, atau teman kantornya. Malas banget kan kalau si babon ini banyak tanya dan pingin tahu.
Penampilan si babon enggak banget pokoknya, celana yang di kenakan si babon itu tidak bisa di sebut sebagai celana, karena calana itu tidak berbentuk lagi. Celana itu koyak-koyak di seluruh bagian depan. Serta kaos abu-abu kusam. Sumpah deh enggak ada yang rapi penampilan si babon ini. Oh Tidak, ia seperti berjalan bersama gembel. Apa daya, ia tidak mungkin mengomentari penampilan laki-laki ini. Jika ia mengomentari itu, namanya juga cari mati. Ia tidak ingin insiden di kolam terjadi ke dua kalinya. Sumpah, ia trauma dengan kejadian beberapa jam yang lalu.
Lihatlah, teman-temannya si babon itu begitu tampan dan rapi. Jauh berbeda sekali dengan penampilan si babon ini. Tidakkah si babon berkaca dari teman-temannya yang tampan itu. Tidak hanya penampilannya saja, tapi seluruh yang ada di tubuh si babon ini, tidak ada yang menarik. Rambut, brewok, kumis, dan celana bututnya itu. Jika ingin pergi seperti ini, setidaknya jangan pakai celana koyak-koyak itu lah. Masih banyak celana yang jauh lebih baik dari ini. Andai saja si babon ini bisa di kasi tahu, ia pasti kan akan merubah laki-laki ini, menjadi lebih baik. Sepertinya itu hanya ada di angan-angannya saja.
"Angkat dulu ponselnya, siapa tahu penting," ucap Liam, karena sedari tadi ia mendengar suara ponsel itu berbunyi.
"Iya," ucap Dian. Ia mengikuti perintah si babon ini, ia pun lalu merogoh ponsel itu dalam tasnya.
Dian menatap layar ponsel,
"Mama calling,"
"Dari mama," ucap Dian, ia menujukkan kepada Liam, bahwa yang menelfon itu adalah orang tuanya.
"Tuh kan, dari mama kamu, cepet angkat," ucap Liam, membenarkan dugaanya.
Dian menggeser tombol hijau pada layar. Dian menaruh ponsel itu di telinga kanannya. Karena si babon ini berada di sebelah kiri, memeluk bahunya.
"Iya, ma," ucap Dian, ia melirik Liam, yang masih berdiri di sampingnya.
"Kamu sudah ada di mana dek,"
"Ya, di Bali ma," ucap Dian.
"Kok enggak kasih tahu mama, kalau udah nyampe," ucap mama lagi, mulai mengintrogasi putri bungsunya.
"Lupa ma,"
"Kamu lupa, karena kamu lagi bahagia, berdua sama pacar kamu yang gondrong itu,"
"Ih, mama. Beneran lupa ma, ponsel Dian ada di koper tadi,"
"Sekarang kamu sama siapa? Kok mama dengar ada suara rame-rame gitu,"
"Cielah mama, liburannya kan rame-rame, makanya berisik," sungut Dian.
"Mana pacar kamu, mama mau ngomong," ucapnya lagi.
Dian melirik Liam, laki-laki itu masih tampak tenang, mendengar percakapan dengan ibunya. Liam menatap Dian, dengan pandangan bertanya-tanya.
"Mama mau ngomong sama kamu," ucap Dian. Ia menyerahkan ponsel itu kepada Liam.
Alis Liam terangkat dan ia mengambil ponsel itu dari tangan Dian. Ia letakkan ponsel itu di telinga kirinya.
"Iya, tante," ucap Liam.
"Kamu sama Dian?" Tanya wanita separuh baya itu kepada Liam.
"Iya tante, ini masih sama Dian," ucap Liam tenang, ia lalu duduk di sofa. Ia tarik tubuh Dian, agar duduk di sampingnya. Dian duduk dan memandang si babon itu yang sedang menelfon.
"Kamu jagain Dian ya," Tanya wanita separuh baya itu di balik speaker.
Dian tercengang mendengar ibunya menyuruh Liam menjaganya, yang ada malah dirinya dalam bahaya dengan laki-laki itu. Oh Tidak, sepertinya persepsi mereka salah semua. Dirinya baru beberapa jam disini sudah menjadi korban pelecehan seksual oleh laki-laki ini. Apalagi sampe berhari-hari dengan si babon ini. Akting si babon ini, luar biasa hebat.
"Ya,tentu saja tante, sudah seharusnya saja jagain Dian tante," ucap Liam, sambil mengelus rambut panjang Dian.
"Dian itu jarang makan nasi loh Liam, jadi tante harap kamu awasi dia,"
"Iya tante, Dian memang gitu orangnya. Tadi saya sudah nyuruh makan nasi, tapi Dian nya malah merengek-rengek mau makan rujak mangga. Saya sampe muter-muter ke pasar dua jam loh tante, untuk nyariin rujak mangga untuk Dian," ucap Liam.
Dian ingin sekali meninju Liam sekarang juga. Ia tidak habis bahwa si babon ini menceritakan semuanya.
"Anak itu memang keterlaluan. Kamu enggak tahu, Dian itu punya asam lambung. Kamu jangan turuti permintaan anak manja itu, Liam. Tante tau, dia pasti suka diet-diet itu kan, supaya badannya langsing,"
"Itulah tante, saya sudah ngasih tahu Dian tante. Makan nasi enggak buat dia gemuk kok. Saya dari tadi khawatir loh tante, takut perutnya sakit. Eh Dian nya malah maksa, maunya rujak mangga. Saya kan enggak tegaan tante orangnya, ya saya beliin aja rujak mangganya," ucap Liam lagi.
Si babon ini gila, emang sarap. Sejak kapan si babon itu mengatakan makan nasi enggak buat dia gemuk, itu akal-akalannya saja. Tegaan? Apa dirinya enggak salah dengar, justru si babon inilah yang tega terhadap dirinya. Tega memperlakukan dirinya semena-mena, seakan dirinya berkuasa. Terlebih menciumnya di kolam. Sumpah si babon ini jago sekali akting. Dia berkata seperti itu, pasti akan mencuri hati sang ibu. Dia memberitahu bahwa dirinya adalah laki-laki baik hati, yang siap siaga menjaganya. Sekarang laki-laki itu pasti sudah berlebel menjadi, menantu idaman sang mama.
"Kamu jangan turutin loh Liam, maunya yang aneh-aneh itu. Dian itu manjanya memang keterlaluan, enggak hanya kamu aja, tapi sama Tatang, om dan tante juga seperti itu,"
"Iya tante, namanya juga saya sayang sama Dian. Jadi saya turutin semua maunya Dian,"
"Gila ni orang" dengus Dian.
"Ya, tante takutnya dia ngerepotin kamu. Kalau dia nggak mau dikasih tahu, jewer aja telinganya,"
Liam menahan tawanya, ia memeluk pinggang Dian, dan di berinya kecupan di bibir tipis itu sekilas. Sial, si babon menciumnya lagi, si babon ini memang brengsek.
"Jangan di jewer dong tante, saya kan sayang sama Dian. Palingan saya cium, Diannya langsung nurut kok," ucap Liam, ia mengedipkan mata kepada Dian.
Terjawab sudah apa yang ia inginkan, meminta restu kepada sang ibu, mengijinkan dirinya untuk mencium puteri kecilnya.
"kamu ini ada-ada aja,"
"Tapi saya minta ijin dulu sama tante, jika terjadi apa-apa, saya langsung tanggung jawab loh tante," ucap Liam di selingi tawa.
"Kamu ini ada-ada aja. Kalian mau kemana?"
"Sekarang kami mau jalan-jalan ke pantai tante,"
"Hati-hati di jalan, bilang sama Dian. Jangan suka repotin kamu,"
"Saya enggak apa-apa kok tante di repotin sama Dian. Salam buat om dan Tatang ya tante,"
"Iya, jagain Dian ya Liam,"
"Iya pasti, tante,"
Sambunganpun terputus, Liam tersenyum bahagia, ia berikan lagi kecupan sekali lagi di bibir tipis itu. Ia lalu menyerahkan ponsel itu kepada Dian. Dian memasukan ponsel ke dalam tas.
"Mama kamu, nyuruh aku jagain kamu," ucap Liam.
"Yang ada aku dalam bahaya sama kamu kali," dengus Dian.
"Lebih baik aku jaga diri sendiri, itu lebih aman dan tentram," ucapnya lagi.
"Kok gitu,"
"Ya emang, dekat kamu itu berbahaya tau," ucap Dian.
Liam kembali tertawa, "aku enggak berbahaya sayang, hanya kamu aja yang belum terbiasa sama aku,"
"Ih,"
Liam menarik tangan Dian, di bawanya ke luar area villa, karena semua teman-temannya sudah menunggunya di sana.
"Sayang, mama kamu sudah ijinin untuk kita bersama. Aku udah bilang, jika terjadi apa-apa aku langsung tanggung jawab. Jadi nanti malam, kita tidur berdua ya sayang," Bisik Liam.
Dian menjauhi tubuhnya dan ia bergidik ngeri, "Enak aja, Enggak mau,"
"Tapi mama kamu udah beri ijin loh, sayang,"
Dian lalu menghindar dari Liam, dan ia ngacir meninggalkan si babon itu begitu saja, ia mendekati mobil. "Mama ijinin karena mama enggak tau, belangnya kamu kayak apa," timpal Dian.
"Sayang ..." ucap Liam, sengaja menekankan suaranya, mengejar sang kekasih.
"Apaan sih," ucap Dian.
"Bisa enggak bicaranya, jangan sambil lari-lari gitu," ucap Liam, karena wanitanya ngacir meninggalkannya.
"Apaan lagi,"
"Tadi kamu jawab apa, aku enggak denger," ucap Liam.
"Enggak jawab apa-apa," ucap Dian.
"Tapi tadi aku denger kamu ngomong loh sayang," ucap Liam.
"Aku enggak ada ngomong apa-apa," elak Dian, ia menatap iris mata tajam itu.
Daniel membuka kaca mobil, memandang Liam dan Dian yang masih berada di luar.
"Lo, bawa mobil men," ucap Daniel, ia sudah duduk di kursi tengah bersama Ayana kekasihnya. Sementara Darka ada di kursi belakang bersama Linggar. Mereka semua telah mengambil posisi masing-masing. Ia tahu teman-temannya itu mau enak-ena.
"Gila, gue di suruh bawa mobil lagi," ucap Liam.
"Lo terakhir masuk, men,"
"***, lo," ucap Liam.
Liam melirik Dian, kekasihnya itu hanya diam. "Nanti kita bicarakan lagi,"
Dian mengerutkan dahi, "masalah apa, yang mau kita bicarain lagi,"
"Kamu lupa aku ngajak kamu tidur berdua,"
"Ih, pokoknya enggak mau," Dian semakin kesal.
Liam tertawa, ia lalu duduk di kemudi setir, begitu juga Dian. Dia bersyukur bahwa Liam membawa mobil. Sangat berbahaya jika ia duduk berdua di sana. Sudah ia pastikan si babon itu mulai melakukan aksi yang tidak ia inginkan.
********