Memories

Memories
Bab 40



"Cepat nikahi mereka berdua," ucap papa Dian, sambil mengelus dada.


"Sudah lah pa, mungkin Liam khilaf, besok juga Liam udah pulang ke New York," ucap mama Dian, menenangkan suaminya.


"Ya, enggak bisa gitu ma, mereka harus di nikahi secepatnya. Mama lihat sendirikan mereka itu sedang melakukan apa," ucap papa berang.


Mama Dian menarik nafas, "Papa tahu sendiri, emang ada kalau nikah itu langsung bisa besok. Ngurus ini aja kita enggak beres seharian, sampai kita minta bantuan pak RT, apalagi nikah besok," ucap mama.


"Tapi enggak bisa gitu ma," timpal papa.


"Sebaiknya papa panggil Liam nya aja, gimana, biar dia jelasin," ucap mama lagi.


"Jelasin apa lagi ma, bahwa dia udah cium Dian gitu, mama gimana sih,"


"Terus papa mau gimana,"


"Ya, nikahin aja," ucap papa Dian.


"Liam kan bilang sendiri, untuk nikah tunggu kerjaanya selesai. Enggak bisa mendadak gini,"


"Tapi ma, laki-laki itu sudah lancang sama Dian,"


Mama Liam mendengar reaksi itu lalu memijit kepalanya. Kalau enggak bikin ulah, bukan Liam namanya. Ayah Liam hanya bisa tertawa, ia tahu Liam memang seperti itu, malah tidak ada sedikitpun malu apa yang telah ia perbuat.


Lihatlah ke dua insan itu malah sedang asik duduk berdua. Baginya mereka berdua memang telah di takdirkan bersama.


"Sudahlah jangan diributkan lagi, mereka juga sudah tunangan, itu hanya ciuman biasa," ucap Ayah Liam.


"Tapi Liam enggak sopan, ayah,"


"Sudah lah ma, ayah yakin Liam punya cara tersendiri untuk mengungkapkan isi hatinya, dia begitu mungkin ingin segera dinikahi," ucap Ayah.


"Sudahlah jangan dibahas lagi, yuk kita pamit pulang, nanti malah buat ulah lagi si Liam" ucap Ayah.


"Liam jangan sampe disuruh menginap di sini, bisa nekat tu anak," gerutu mama Liam.


"Kalau di suruh nginap, seharusnya tadi kita nikahi aja ma, bukan tunangan seperti ini," Ayah Liam lalu kembali tertawa.


**********


Piring yang ada di tangan Tatang, nyaris jatuh ke lantai, untung saja Rene menahannya.


"Si kampret itu benar-benar !" Ucap Tatang, ia meletakkan piring di meja.


"Aku enggak salah liat kan mas," ucap Rene, mencoba memastikan.


"Kamu enggak salah lihat sayang, yang salah si kampret itu, seenaknya cium Dian. Dian itu adek aku, kebayang dong cium di depan rame-rame gini," ucap Tatang kesal.


"Ya, biarin ajalah, mungkin Liam udah terlalu bahagia," ucap Rene, ia meraih tangan Tatang, menenangkan hatinya.


"Tapi enggak kayak gitu juga kali. Kalau cium di pipi atau kening, aku maklum. Ini di bibir, lama pula. Gila, pengen tabok si Liam,"


Tatang mengepalkan tangannya hingga memutih menahan geram.


"Mas, sudahlah, maklum aja Liam kayak gitu. Mas kan tahu, bahwa Liam memang tinggal di New York lama. Mungkin ke bawa budaya di sana,"


"Sayang, Liam itu bukan bule, dia masih orang timur, harus punya etika, sopan santun, di sini ada pak RT juga loh yang lihat,"


"Mas sebenarnya juga harus intropeksi diri, bukan nyalahin Liam aja. Mas juga pernah cium aku, iya kan,"


"Ya, kan situasi berbeda sayang, aku cium kamu di tempat yang sepi, bukan kayak si kampret itu,"


"Itu mama Liam, sepertinya sudah mau pamit pulang," ucap Rene, melihat mama Liam yang mulai berdiri."Si kampret itu bahaya,"


********


Beberapa detik kemudian, Liam melepaskan kecupannya, ia memandang Dian. Wajah cantik itu ini merah padam, mungkin karena malu setengah mati. Liam tersenyum penuh arti, dan mengalihkan pandangannya ke arah depan.


Memandang setiap mata orang yang nyaris menganga apa yang, mereka saksikan pertunjukkan secara live itu.


"Mungkin sebentar lagi, akan ada keributan di ruangan ini," gumam Liam, lalu melepaskan pelukkanya.


"Tuh kan kamu,"


"Ih, kamu benar-benar keterlaluan, buat malu aja," ucap Dian, dengan cepat ia menjauhi diri, dari hadapan Liam, dan ia menutupi sebagian wajahnya dengan tangan kirinya, mendekati meja prasmanan.


Ia sungguh kesal dan emosi atas tindakkan Liam yang tidak tahu malu itu.Liam menahan tawa dengan santainya Ia berjalan mendekati Daniel sahabatnya. Ia memandang Daniel sedang berdiri di dekat jendela sambil menahan tawa.


"Lo benar-benar sarap men, asli lo gila, nekat,"


"Orang tua lo dan Dian, liat men,"


"Biasa aja lah, pacaran aja sudah biasa kayak gitu, apalagi sekarang Dian udah tunangan gue,"


"Tapi enggak segitunya men, gue juga udah tunangan lebih lama dari lo, tapi gue tahu diri, enggak pernah nyosor di depan orang tua gue. Lo gila, sumpah,"


"Ya, itu lo men, bukan gue, ya beda lah,""Gue sebenarnya udah enggak tahan men," ucap Liam sambil terkekeh.


"Kalau lo enggak tahan, lo bawa kek tunangan lo ke hotel, atau ke apartemen gue yang kosong itu, privacy dikit lah. Jangan cipokkan di sini, buat rusuh satu keluarga lo, percaya sama gue,"


"Gue emang sengaja men. Enggak seru kalau cuma selesai gini aja. Macam lo enggak tahu gue aja,"


"***, lo !,"


**********


Sementara Dian, dengan malunya mengambil nasi dan lauk pauk di meja prasmanan. Ayana dan Linggar tidak luput menyaksikan adegan ciuman yang menyayat hati. Ini merupakan ke dua kalinya si gondrong itu, melakukan di depan umum seperti ini, sekarang malah lebih parah, tepat di hadapan orang tuanya.


"Yan, lo enggak apa-apa kan," ucap Ayana, mengekori Dian yang sibuk menyendok daging di piring.


"Si babon itu enggak sopan Yan, masa cium lo di depan orang tua lo. Pasti orang tua lo kepikiran yang enggak-enggak deh," ucap Linggar.


"Jadi gimana dong," rengek Dian, ia sungguh belum siap menghadapi kenyataan.


"Ya, enggak tau, si gondrong itu emang enggak pernah berubah ya," ucap Linggar.


"Kan gue udah pernah bilang, dia itu emang nekat. Lo tau sendirilah dia gimana,"


Linggar melirik piring yang ada di tangan Dian,


"Banyak banget lo makan Yan," ucap Linggar.


"Ini bukan gue yang makan, tapi ini punya si babon itu," ucap Dian kesal.


"Ciyee yang udah melayani calon suami, romantis banget sih, setelah di cium Liam," goda Ayana.


"Udah deh, jangan godaain, gue masih malu nih. Gue malu, mau taruh di mana tampang gue," ucap Dian.


"Gue antarin ini dulu ya," ucap Dian, melangkah menjauhi Ayana dan Linggar.


"Oke,"


Dian berjalan mendekati Liam, dan lalu menyerahkan piring itu. Liam tersenyum dan meraih piring itu dari tangan Dian.


"Makasih ya sayang," ucap Liam,


"Kamu mau kemana," ucap Liam, melihat Dian yang ingin menjauhinya.


"Mau ngobrol-ngobrol sama Ayana dan Linggar,"


"Temanin aku makan sebentar," ucap Liam, menepuk kursi kosong di sampingnya.


Dian tahu bahwa Liam menyuruh duduk di sampingnya. Dian menarik nafas dan lalu duduk.


"Kamu ngambilin nasi untuk aku banyak banget," ucap Liam.


"Ya, biar kamu kenyang, kan kamu enggak makan seharian,"


"Ya enggak sebanyak ini juga sayang, gini aja kita makan berdua ya," ucap Liam.


"Sebelum acara, aku udah makan, ini masih kenyang," ucap Dian.


"Beneran,"


"Beneran lah,"


"Aku ingin tahu reaksi orang tua kamu lihat, aksi kita tadi," ucap Liam sambil menahan tawa.


"Palingan reaksinya di suruh cepat nikah, kamu tadi pasti sengaja kan,"


"Iya dong,"


"Ih, kamu,"


"Hahahah," tawa Liam lalu pecah.


*********