Memories

Memories
Bab 30



Dian mencari ponsel, ia yakin tadi malam Ian menaruh di meja dekat lemari Tv. Dian mendapati apa yang ia cari, ternyata ponselnya ada di dekat sofa, terselip di bawah bantal. Oh Tuhan, ia harus segera bertemu dengan Lilis. Ia yakin Lilis mengenal Liam. Mereka berasal dari Indonesia, pasti ada perkumpulan di kedutaan. Terlebih Lilis mahasiswa aktif, ia pasti mengenal warga Indonesia yang berkeliaran di kota New York ini.


"Sayang kamu ngapain,"


Dian lalu menoleh ke arah sumber suara. Ia memandang Liam dan Boy di sana. Sepertinya anjing jelek itu telah mengadu kepada temannya. Lihatlah mereka terlihat begitu akrab, dan mereka sepertinya sudah seperti satu team, yang siap mengeksekusinya.


Dian memegang ponselnya, ia memperlihatkan kepada Liam.


"Aku mau menghubungi temen aku, kasihan dia, dari kemarin mau ketemu aku," ucap Dian, mulai berkilah memberi alasan. Padahal ada rasa ketakutan dalam dirinya.


"Bukannya nanti, kita mau jalan-jalan dulu," ucap Liam. Ia melangkah mendekati Dian.


"Tapi kasihan temen aku nungguin dari kemarin. Nanti keburu aku pulang ke Jakarta,"


Liam menarik nafas, ia mengelus wajah cantik itu. "Kita kan baru jadian, seharusnya kita jalan-jalan dulu, baru deh ketemu temen kamu,"


"Tapi ..."


"Iya kamu pasti ketemu temen kamu, nanti aku antar kamu ke rumahnya. Sekarang aku kan pengen kenal sama kamu, ngertikan maksud aku," ucap Liam.


Dian mengangguk dan lalu duduk di sofa, "niat aku awalnya kan, mau ketemu temen aku, ini malah sama kamu, sekarang kita pacaran pula," ucap Dian.


"Emang kamu enggak suka pacaran sama aku," ucap Liam, ia mendekati Dian.


Dian mendengar itu ia memandang Liam, mata tajam itu melihatnya secara intens. Ada kilatan kemarahan pada wajah itu, "enggak kok,"


"Siapa teman kamu itu, soalnya aku kenal kok warga Indonesia, yang ada di New York, biasa sebulan sekali ada perkumpulan gitu. Sebenarnya aku jarang ikut sih acar itu, tapi setidaknya kenal lah,"


Dian menarik nafas, dan kembali berpikir, "Lilis,"


Liam mengerutkan dahi, mendengar nama Lilis. Ia sepertinya kenal dengan wanita bernama Lilis, "Lilis Marlina yang kuliah di Universitas Fordham itu?"


"Eh, kok kamu tahu,"


"Tau lah, aku kenal kok. Nanti aku antar kamu ke flatnya, enggak jauh kok dari sini. Dia juga kenal sama aku," ucap Liam, ia juga duduk di samping Dian.


"Beneran,"


"Iya bener sayang, makanya kamu tenang aja," ucap


"Tapi aku mau ketemu Lilis dulu,"


Liam menarik nafas, ia memandang secara jelas mata bening itu, penuh harap. "Oke, kita ketemu Lilis, setelah itu kita jalan-jalan,"


"Iya,"


**********


Lilis terpana melihat Dian sudah ada di depan flatnya, karena tadi sahabatnya itu menghubunginya terlebih dahulu. Inilah sahabatnya sejak SMA. Sahabatnya tidak sendiri, ia bersama laki-laki, ia tahu betul siapa laki-laki itu. Laki-laki itu adalah William. Ia masih tidak percaya bahwa Dian bersama Liam. Ia merasa takjub melihat kehadiran mereka berdua.


"Dian ...!" Ucap Lilis lalu memeluk tubuh Dian. Sedetik kemudian ia lepas pelukan itu.


Dian memandang Lilis, ia perhatian secara keseluruhan temannya ini. Terakhir mereka bertemu tahun lalu, itupun di acara reuni SMA,


"gila, lo makin cantik aja," ucap Dian.


Lilis memperlebar daun pintu, atas kehadiran Dian dan Liam. "Lo juga makin cantik tau," ucap Lilis. Ia mempersilahkan Dian masuk ke dalam.


Dian mengedarkan pandangannya kesegala penjuru ruangan. Ruangan flat Lilis memang tidak besar, lebih mirip kost-kostan karyawan. Liam memang benar, bahwa letak flat Lilis memang tidak terlalu jauh, cukup jalan kaki dua puluh menit ia sudah tiba di bangunan tiga lantai itu. Aksi jalan-jalan bersama Liam di lakukan setelah ia mengunjungi Lilis.


Dian dan Liam lalu duduk di sofa, ia memandang Lilis mengeluarkan dua botol softdrink dari lemari pendingin. Lilis meletakan botol itu di meja, bersama gelas.


Lilis melirik Liam, ia masih sulit percaya ternyata laki-laki inilah yang di maksud teman Dian kemarin. Ia masih memikirkan bagaimana Dian bisa berteman dengan laki-laki seperti Liam. Banyak catatan buruk yang disandang laki-laki itu.


"Eh, Lilis kalian bukannya saling kenal, ini Liam teman yang aku ceritain semalam," ucap Dian.


"Kita bukan teman sayang, tapi sudah jadi pacar," ucap Liam santai.


"Eh,"


"Kan bener kita sudah jadian," ucap Liam, mencoba meluruskan.


Lilis yang mendengar itu nyaris pingsan. Ia memandang Dian, temannya itu hanya diam. Bahkan tidak membantah apa-apa, atas ucapan si babon itu.


"Aku pinjem Dian nya bentar ya, aku mau ngomong sama dia," ucap Lilis, ia mendekati Dian.


"Oke, jangan lama-lama. Soalnya kita mau jalan-jalan. Iya kan sayang," ucap Liam.


"Iya,"


"Iya, sebentar aja, gue enggak bakalan nyulik cewek lo," ucap Lilis, lalu menarik tangan kurus Dian.


Setelah itu Dian dan Lilis masuk ke kamar, tidak lupa Lilis mengunci pintu. Ia hanya takut jika Liam mendobrak pintu kamarnya. Masalahnya laki-laki itu nekat. Ia ingin memberitahu hal penting kepada temannya yang cantik ini.


Dian yang tidak tahu apa-apa ia lalu duduk di sisi tempat tidur.


"Lo kok bisa sih Yan, kenal sama si Liam," Tanya Lilis penasaran.


"Kenapa?" Tanya Dian, bingung.


"Jawab dulu pertanyaan gue,"


"Aku kenal nya kemarin, waktu nungguin kamu di halte," ucap Dian.


"Ya, Tuhan jadi kemarin, lo nelfon gue yang, lo bilang temen lo di New York itu dia,"


"Iya,"


"Kalian baru kenal dong,"


"Iya,"


"Kenapa lo percaya gitu sama dia sih," ucap Lilis.


"Kenapa?"


"Lo nginap di rumah dia,"


"Iya,"


Lilis hampir gila memikirkan sahabatnya ini, "Terus lo kok bisa jadian gitu sama dia, kalian padahal baru kenal," ucap Lilis.


"Gila," dengus Lilis.


"Jadi lo enggak tau apa-apa tentang si brengsek itu," ucap Lilis, ia mengibaskan rambutnya ke belakang.


"Ya, enggaklah, gue kan baru kenal sama dia,"


Lilis menarik nafas dalam-dalam, ia memandang Dian. Ia memegang pundak Dian, ia akan memberitahu semua tentang laki-laki bernama Liam itu. Betapa brengseknya laki-laki yang telah jadi pacarnya.


"Gue punya temen, temen gue itu mantannya si brengsek itu. Makanya gue kenal dia, dia juga kenal gue. Kalau lo mau tau, pinginnya sih gue tonjok muka dia. Karena dia pacari lo, seenak jidatnya,"


"Ih, jadi gimana dong," ucap Dian, rasa takutnya kini semakin jadi.


"Lo tau enggak, apa yang dia perbuat sama temen gue," ucap Lilis menggebu-ngebu.


"Gue mana tau, kan gue enggak kenal temen lo,"


"Oiya, lo kan enggak kenal,"


"Terus, terus,"


Lilis mengambil ponselnya di nakas, ia memandang layar persegi itu. Ia membuka galeri foto, dan ia perlihatkan layar itu kepada Dian. Dian memandang seorang wanita cantik di sana, sedang tersenyum. Senyum itu begitu cantik.


"Ini namanya Siska, mantan cowok lo itu,"


"Yang bener, cantik gila," ucap Dian tidak percaya.


"Ya, cantiklah, dia masih keturunan darah biru. Calon dokter lagi,"


"Terus terus," ucap Dian penasaran.


"Mereka dulu LDR, kalau enggak salah dua tahun LDR an gitu deh. Ya, mungkin Siska enggak tahan lah, cowoknya enggak pulang-pulang ke Jakarta. Katanya sih ngurusin kerjaan gitu, hingga dia enggak bisa pulang,"


"Terus, terus,"


"Akhirnya temen gue, otomatis cari cowok baru dong, secara dia cantik, dokter pula. Cowok cowok yang ngantri sama dia banyak lah, anak pejabat, pengusaha, sampe dokter senior juga suka sama dia," ucap Lilis.


"Jadi temen lo itu selingkuh dong,"


"Ya, bisa di bilang gitu. Ya mana ada yang tahan, cowok lo enggak ngubungin lo dua tahun Yan. Dia mati, atau masih hidup juga enggak tau. Akhirnya Liam pulang ke Jakarta, ternyata dia tahu bahwa Siska punya cowok baru. Dia pulang hanya mau hajar cowok itu, sampe babak belur, nyaris koma Yan,"


"Ih serem," Dian bergedik ngeri.


"Lo tau lah, Liam itu kayak apa, dia kalau hajar orang enggak tanggung-tanggung,"


"Terus Siska gimana?" Tanya Dian.


"Itu yang gue mau kasih tau lo. Siska sekarang berubah Yan, sekarang kayak stress gitu. Depresi sih kata keluarganya, maklum dia nyesel, telah selingkuh dari Liam. Badannya kurus banget Yan, lo mau lihat fotonya,"


"Boleh deh," ucap Dian.


Siska lalu memperlihatkan foto di galeri ponselnya. Dian memandang Lilis sedang berfoto dengan salah satu wanita yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.


"Ini keadaan Siska tahun lalu, terakhir gue lihat dia, sebelum gue ke New York. Kasihan banget kan Yan,"


"Iya kasihan, jadi nampak tua banget wajahnya," Dian membenarkan semua.


"Gue enggak tahu sih kabar dia lagi setelah dia depresi. Ini baru cerita si Siska, lo belum tahu cerita sederet mantan-mantan si Liam itu kayak apa," ucap


"Banyak mantannya?"


"Banyaklah, Cowok kayak gitu sih enggak mungkin pernah serius lah sama cewek. Dia pernah tinggal dengan temen gue satu kampus, sekelas malah, namanya Ghea. Kebayang enggak sih lo, si Liam itu hanya PHP in dia. Si Ghea itu udah tinggal di rumahnya, sekitar enam bulan gitu deh. Tau dong, kalau cewek sama cowok kalau udah serumah. Enggak mungkin, kalau enggak tidur bareng. Gue pikir mereka pacaran, tau nya si brengsek itu, cuma main-main doang,"


"Ih, brengsek gila, sarap,"


"Belum lagi, si Dini, Mila, Riri, Denada, Lela, banyaklah sederet mantan mantan yang ia pacari cuma sebulan doang, bahkan ada yang seminggu doang Yan,"


"Kok namanya semua kayak orang Indonesia gitu ya,"


"Cowok lo sih, emang suka produk lokal kali, dia enggak suka sama cewek berambut blonde,"


"Ih, serem, jadi gimana dong nasib gue," ucap Dian, ia memegang jemari Lilis.


"Ya, gue enggak tau lah, si gondrong itu serius sama lo apa enggak. Lagian lo baru kenal udah jadian. Lo sih, asal pilih pilih cowok, murahan banget sih," timpal Lilis.


"Jadi gimana dong nasib gue," ucap Dian lagi.


"Ya, lo kan pacarnya si babon itu, jalanin ajalah. Cari aman, nanti lo yang bahaya kalau nolak dia,"


"Kok babon si Lis,"


"Ya, iyalah secara dia mirip tarzan, rambut gondrong, dekit, berewoknya enggak pernah di cukur. Makanya gue bilang dia babon,"


"Gue beneran takut tau sama Si babon itu,"


"Gue aja takut sama dia. Eh Liam itu banyak tato nya loh, Yan,"


"Iya gue tau, dia banyak tatonya,"


"Jadi lo udah liat tatonya yang serem itu,"


"Iya udah,"


Beberapa saat kemudian,


"Tok...Tok..."


Lilis dan Dian lalu menoleh ke arah pintu, mendengar suara ketokkan pintu dari arah luar.


"Sayang kamu ngapain sama Lilis di dalam, lama amat,"


"Mampus lo," ucap Lilis.


"Jadi gue gimana nih," rengek Dian kepada Lilis.


"Ya, mau gimana lagi, jalani ajalah. Cari aman,"


*********