
"Mama beneran ngomong sama Dian, bahwa Liam mau ngelamar besok," ucap Liam, permasalahan ini cukup serius yang akan ia bahas. Masalahnya ia belum mempersiapkan apa-apa untuk melamar kekasihnya itu.
"Iya," ucap mama, yang masih sibuk membereskan makanan yang tersaji di meja.
"Kok mama mutusin sendiri, seharusnya Liam dulu yang ngomong sama Dian," ucap Liam.
"Emang kenapa, kalau mama duluan, bukannya sama aja," Ucap mama, melirik Liam dan ia lalu duduk di sofa.
"Ya, Liam kan pacarnya, seharusnya aku yang ngelamar duluan, bukan mama,"
"Kalau nunggu kamu itu kelamaan. kamu kerja lah, sibuk lah, lagi di Dubai lah. Kayak mama enggak tahu kamu aja. Ya, mumpung ada cewek yang cantik, suka sama kamu, dan kamu juga sayang sama dia. Ya, anaknya diikat, agar enggak lari-lari,"
"Ya, tapi enggak gitu juga ma. Setidaknya aku harus menciptakan moment romantis dulu sama Dian berdua,"
"Romantis apa lagi. Kamu itu udah nidurin Dian. Masih untung enggak mama suruh nikah sekarang juga,"
"Cielah mama, Liam cuma becanda kemarin. Jadi apa yang mesti di persiapin untuk lamaran nanti, Liam serius nih nanyanya," ucap Liam lagi.
"Becanda kamu enggak lucu Liam,"
"Mama bilang dong, apa yang harus Liam lakukan, buat lamaran ini," gumam Liam.
"Ya, kamu bilang sama orang tua Dian, mintanya baik-baik. Bilang juga sama orang tua Dian, mama dan ayah besok malam datang ke rumah buat lamar Dian. Setelah itu kamu beli seperangkat perhiasan untuk Dian,"
"Cuma gitu doang ma,"
"Iyalah, apa lagi,"
"Emang enggak perlu pakek jasa WO?"
"Emang kamu langsung mau nikah, pakek jasa WO, cuma tukar cincin aja, buat ngikat kalian berdua,"
"Ya, Liam kan enggak tahu ma. Mama tahu sendiri Liam baru kali ini ngelamar pacar Liam, yakin cuma itu aja ma,"
"Iya cuma itu aja lah, jangan ribet ribet, waktu juga udah mepet gini,"
Mama mengerutkan dahi, ia mencari keberadaan Dian. "Di mana Dian, bukannya tadi sama kamu,"
"Dian ada di kamar Liam,"
"Ngapain Dian di kamar kamu,"
"Aku sekep Dian di sana ma,"
"Ngapain kamu sekep?,"
"Ya biar, enggak denger pecakapan kita,"
"Percakapan apa?"
"Percakapan lamaran inilah,"
"Ya ampun, cepet suruh turun,"
Liam menarik nafas panjang dan lalu tersenyum, "enggak apa-apa ma, hitung-hitung latihan ngemasi kamar Liam, jadi istri yang baik,"
"Cepat suruh turun !,"
"Dian masih capek ma,"
"Capek kenapa, mama juga enggak ada nyuruh-nyuruh dia,"
"Ya, barusan tadi Liam sama Dian, olah raga ranjang,"
Mama mendengar itu lalu bertolak pinggang, dan naik pitam.
"Santai ma, mama mau cepet-cepet punya cucu kan. Jadi jangan marah, oke" ucap Liam lalu ngacir begitu saja.
"Liam, awas kamu ya !,"
"Dasar anak itu, keterlaluan. Liam mama belum selesai bicara," teriak mama,
"Liam kamu benar-benar !," ucap mama kesal.
********
Liam membuka hendel pintu, dan ia memandang sang kekasih duduk di sisi tempat tidur. Dian menyadari kehadirannya dan ia lalu tersenyum. Liam membalas senyuman itu, dan lalu berjalan mendekati Dian.
"Sudah ngomongnya?" Ucap Dian.
"Iya sudah,"
"Terus apa kata mama kamu,"
Liam mengecup kening Dian, ia pandangi iris mata itu. "Sudah beres, nanti aku perlu ngomong sama orang tua kamu dulu,"
"Kamu berani ngomong sama orang tua aku," ucap Dian, ia memegang jemari Liam.
"Berani lah sayang,"
"Enggak deg deg kan gitu," Dian mencoba memastikan.
"Ya, enggaklah, tiap hari juga ketemu," ucap Liam, ia mengelus rambut lurus itu.
"Masih sakit?" Tanya Liam penasaran.
"Masih lah, ini aja aku tahan-tahan,"
"Obat pereda rasa sakit itu, ada kan di minimarket,"
"Ada kok, aku mau baring di kamar kamu dulu ya. Pengennya mau baring gitu, enggak kuat jalan, perut aku masih keram," ucap Dian.
"Iya boleh kok, kamu istirahat aja di sini, aku ke mini market dulu ya, beliin kamu obat. Tapi obat apa namanya,"
"Kiranti warna kuning, terus beliin pembalut juga yang ada sayapnya,"
"Oke,"
"Tapi kamu enggak malu kan beliin itu untuk aku,"
"Ya, enggaklah, biasa aja kali. Nanti kalau di tanya juga, palingan aku jawab untuk istri," ucap Liam sambil terkekeh.
Dian mendengar itu lalu terkekeh, "kamu baik banget sih,"
"Aku baiknya ya sama pacar aku doang,"
Dian dan Liam mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
"Bentar ya, aku buka pintu dulu, mungkin itu mama," ucap Liam, sambil terkekeh.
Liam tahu yang mengetok pintu itu adalah sang mama. Mama pasti terkejut apa yang ia katakan tadi. Sehingga menyusul hingga ke atas.
Liam melangkah mendekati pintu, dan membuka pintu. Alisnya terangkat dan benar dugaanya, yang berdiri itu adalah benar-benar mama. Terlihat jelas wajah mama emosi.
"Mama,"
"Mana Dian," ucap mama, ada raut wajah khawatir di sana.
"Masih baring di tempat tidur, jangan di marahin, masih sakit katanya," ucap Liam sambil terkekeh, ia tahu isi pikiran mamanya.
"Sakit apa !"
"Itu nya yang sakit," ucap Liam santai.
"Awas kamu bikin ulah ya," ucap mama geram.
"Ya enggaklah," ucap Liam.
Mama menarik nafas dan lalu melangkah masuk ke dalam. Beliau melihat wanita cantik itu terbaring di tempat tidur, dan masih berpakaian lengkap.
Dian menyadari kehadiran mama Liam, sambil memegang perutnya menahan masih sakit.
"Tante,"
"Kamu kenapa," tanya mama Liam penasaran, dan duduk di sisi tempat tidur.
"Perut Dian keram tante, biasa kalau lagi datang bulan gini," ucap Dian.
Mama Liam bernafas lega, karena mendengar bahwa wanita cantik ini hanya datang bulan. Oh Tuhan, ternyata Liam benar-benar tidak pernah berubah dari dulu, tetap nakal. Beliau ingin sekali mencekik anaknya yang tengah menyengir itu.
"Tadi Dian titip sama Liam, buat beliin pembalut sama kiranti. Boleh kan tante Dian istirahat di sini sebentar," ucap Dian.
"Iya, boleh kok, kamu istirahat aja dulu. Tante ambil in air hangat ya,"
"Iya boleh tante," ucap Dian.
Mama menoleh ke arah Liam, anak laki-lakinya itu masih berdiri yang tidak jauh darinya.
"Ngapain kamu masih di sini. Cepat beliin kiranti sama pembalut,"
"Iya, iya, ini juga udah mau jalan," ucap Liam, lalu meninggalkan kamar.
**********
Beberapa menit kemudian, Liam pulang membawa pesanan Dian. Ia meletakkan pesanan itu ada di nakas. Dian melirik apa yang di bawa Liam. Ia tidak percaya bahwa laki-laki itu membawa semua pesanannya.
"Banyak banget belinya," ucap Dian.
"Ya, biar kamu enggak sakit lah,"
"Minum satu apa dua," ucap Liam.
"Minum dua, biar cepet hilang sakitnya,"
Liam membawa dua botol minuman kemasan itu kepada Dian dan menyerahkan ke pada Dian. Semenit kemudian Dian, meletakkan minuman itu di atas meja.
"Kok kamu bisa tahu, minuman ini,"
"Taulah, aku nanya sama mbak-mbak indomaret,"
"Enggak malu," tanya Dian penasaran.
"Ya enggaklah, ngapain malu,"
"Kamu kan cowok,"
"Aku cowok sejati, enggak malu lah beli ginian. Emang sakit banget ya," tanya Liam.
"Ya, emang sakit di awal aja. Nyeri haid atau dismenore, hal yang sering terjadi pada wanita pada umumnya. Mungkin ada wanita yang enggak, tapi ini normal kok, kalau hanya masih pegal-pegal di perut bagian bawah, dan terasa keram keram aja,"
"Owh gitu,"
"Yaudah kamu istirahat ya," ucap Liam.
"Kamu mau kemana?" Tanya Dian.
"Aku mau ke bawah sebentar, urusan aku sama mama belum selesai," ucap Liam.
"Emang urusan apa lagi,"
Liam tersenyum dan ia kembali duduk memandang wajah cantik Dian. Liam mengecup bibir tipis itu sekilas.
"Urusan lamaran kita besok, ada yang mesti aku tanyain lagi," ucap Liam.
"Iya deh,"
Liam menarik nafas, dan mengelus rambut lurus itu. "Ada yang harus kamu ketahui tentang aku," ucap Liam.
"Ya,"
"Aku mencoba menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran aku selama ini. Aku sebagai laki-laki, memang tidak butuh waktu lama untuk tertarik terhadap seorang wanita. Apalagi wanitanya itu seperti kamu, menarik perhatian aku sejak berada di halte. Wanita berjaket merah, setelah itu aku ngajak kamu kenalan,"
"Ya, awalnya emang tidak ada cinta di antara kita, hanya sebatas aku suka kamu. Perlahan perasaan suka berubah menjadi cinta. Semakin aku mengejar kamu, semakin mengebu-ngebu aku ingin memiliki kamu. Perasaan itu semakin ingin meledak, dan melakukan demi memiliki hati kamu,"
"Aku pikir itu hanya perasaan sesaat, tapi semakin kesini, aku serius terhadap kamu,"
"Sejatinya kamu tidak perlu khawatir terhadap aku, karena bagiku, cinta suatu cara aku bercerita tentang kamu,"
"Aku cinta kamu," ucap Liam.
Dian tersenyum dan mengecup pipi Liam, "aku juga cinta kamu,"
Liam tersenyum dan lalu menegakkan tubuhnya, "aku ke bawah dulu,"
"Iya,"
***********