Memories

Memories
Bab 25



New York, Desember


"Lo jadi mau jemput gue, duit gue menipis nih, kalau nginap di hotel mulu," ucap Dian, Ia lingkarkan syal merah itu di lehernya.


Ini merupakan hari ke tiga ia berada di Hilton Times Square, yang letaknya di pusat kota New York. Lokasi ini sangat dekat dengan gedung New Amsterdam Theater. Hotel ini begitu cantik, memiliki kamar dengan karya seni asli Manhattan. Fasilitas kamar hotel ini seperti kamar hotel pada umumnya, dengan pemandangan kota New York. Ada beberapa alasan kenapa ia memilih hotel ini, karena jaraknya dekat dengan central park, serta hanya membutuhkan sepuluh menit mencapai kereta bawa tanah, itu juga dengan jalan kaki.


"Iya gue jemput kok, ini gue lagi turun dari flat," ucap Lilis, dari balik speakernya.


"Jadi gue tunggu di mana, gue mau check out nih," ucap Dian, ia memasang topi rajutnya.


"Lo tunggu di lobby hotel aja deh, flat gue sama hotel lo nginap deket kok," ucap Lilis.


"Oke, gue tunggu di lobby," ucap Dian, ia lalu mematikan panggilannya.


Dian menatap penampilannya sekali lagi. Ia memandang ke arah jendela kaca. Tidak ada tanda-tanda salju akan berhenti, sejak beberapa hari yang lalu. Liburannya di New York sia-sia, ia hanya mendekam di kamar hotel. Ingin pulang ke Jakarta juga percuma, karena bandara tidak beroperasi untuk beberapa hari ke depan.


Dian melangkahkan menuju koper miliknya, yang ia letakkan di dekat lemari. Setelah itu ia keluar dari kamar, ia melakukan transaksi check out pada receptionis, serta mengembalikan kunci miliknya. Dian mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Tidak banyak orang di sini, hanya ada seorang bule duduk bersama anaknya. Dian memilih duduk di kursi tunggu, sesekali ia memandang ke arah jendela. Sepertinya cuaca memang tidak bersahabat.


Dian mengeluarkan ponsel di saku jaketnya. Ia mengerutkan dahi, ia tidak percaya apa yang di lihatnya. Baterai ponselnya ternyata tersisa 15 %. Sialnya, ia lupa mengisi batrai. Sebuah notifikasi masuk, Dian dengan cepat membuka pesan singkat itu. Pesan singkat itu ternyata dari Lilis.


Lilis


"Sebaiknya lo tunggu gue di dekat halte, mobil gue, enggak bisa jalan. Gue sekarang jalan kaki, menuju tempat lo,"


Dian dengan membalas pesan singkat itu.


Dian


"Oke, gue tunggu di halte,"


Dian menegakkan tubuhnya, dan lalu berjalan menuju pintu keluar. Suhu dingin terasa hingga menusuk tulangnya. Padahal ia sudah mengenakan pakaian berlapis-lapis. Dian meneruskan langkahnya, menuju halte yang berada di seberang jalan. Dian menyeret koper itu bersamanya, sambil menahan dingin, yang teramat sangat.


Beberapa menit kemudian, ia sudah berada di depan halte, ia mengambil ponselnya. Oh Tidak, ponselnya mati, Dian memasukan lagi ponselnya di saku jaket nya. Lebih baik ia menunggu Lilis di sini.


Lilis adalah teman SMA, yang kini berada di New York. Mereka sudah berjanji akan bertemu di sini sejak kemarin, karena cuaca lah yang mengurungkan niatnya untuk pergi. Lilis kini sedang melanjutkan studynya Di Universitas Fordham, dengan mengejar gelar MBA. Bagi Lilis pendidikan itu nomor satu.


Dian masih menanti Lilis menjemputnya, ia melirik jam melingkar di tangannya, menunjukkan pukul 14.30 menit. Ini sudah sepuluh menit berlangsung. Lilis masih belum menjemputnya, sampai berapa lama ia menunggu di sini. Jika terlalu lama, ia pastikan, dirinya akan membeku.


*********


Liam memperhatikan wanita di ujung sana, terlihat jelas hidung kecil itu memerah, wanita itu melipat tangannya di dada. Ia tahu wanita itu sedang menahan dingin yang teramat sangat.


Musim dingin ini adalah musim dingin terparah, selama ia tinggal di kota New York. Wilayah New York di landa hujan salju, saat ini hujan salju dalam situasi darurat. Suhu mencapai minus 12 derajat celcius, jauh di bawah rata-rata. Cuaca yang extrem, diakibatkan angin berhembus dari kutub utara dan menyapu pegunungan Rocky, dari pekan lalu.


Toko-toko dan cafe di sepanjang yang biasa ramai dikunjungi pengunjung kini tutup. Semua orang lebih menghabiskan waktunya di rumah. Tadi dirinya sengaja keluar sebentar, karena untuk membeli beberapa kopi dan beberapa bahan makanan, untuk dua hari ke depan. Untung saja minimarket di dekat rumah masih buka. Setelah mendapati apa yang ia cari, dirinya memutuskan untuk singgah sebentar ke salah satu cafe, tepatnya di samping outlet minimarket itu. Ia kesini hanya ingin minum alkohol. Ia tidak ingin mati membeku seperti ini. Betapa benci dirinya dengan musim dingin, ingin rasanya ia pulang ke Indonesia. Bahkan tadi tubuhnya sudah gemetar kedinginan, ketika berada di luar.


Ia masih memperhatikan wanita berjaket merah itu, wanita itulah yang menarik perhatiannya. Mungkin karena wanita itu terlihat sangat menarik di matanya. Ia tidak tahu apa yang di lakukan wanita itu di sana. Wanita itu sepertinya sedang menunggu seseorang. Ada raut wajah cemas di wajah cantik itu. Ia memperhatikan struktur wajah wanita yang berdiri. Wanita itu lebih mirip wanita Asia, seperti Thailand, Filipina, atau Indonesia. Ia kembali meneguk bir yang di pesannya, karena setelah meneguk alkohol itu, tubuhnya sedikit lebih hangat.


Ada ketakutan menyelimuti hatinya, ia takut para gelandangan bersikap heroik kepada wanita itu. Para gelandangan masih menjadi masalah serius di kota besar dan megah seperti New York. Bahkan banyak para gengster yang mengintai di sudut kota, mengincar para wanita untuk memenuhi hasratnya.


Ia menegakkan tubuhnya, dan berjalan menuju kasir melakukan transaksi pembayaran. Ia membuka pintu memerlukan sedikit bertenaga, karena di depan pintu sudah tertutup salju. Suhu dingin kembali menusuk tulang, hingga akhirnya ia memasukan tangannya di saku jaket. Cuaca saat ini memang sangat extreme, mobil yang berada di parkiran sudah membeku tertutup salju. Ia ingin buru-buru segera pulang ke rumah, dan tidur di dekat perapian.


Pemerintah sudah mengingatkan bahwa untuk beberapa hari kedepan, akan ada badai salju. Para pembersih jalan juga belum membersihkan salju yang sudah menebal disana. Tidak ada aktivitas mobil, karena salju sudah menebal, jalanan juga begitu licin, sangat berbahaya jika berpergian dalam keadaan badai.


Jika sudah memasuki musim dingin, ia lebih baik tinggal di Indonesia. Sungguh ia lebih suka dengan iklim di Indonesia dari pada Amerika. Musim dingin memang terlihat sangat romantis dan menyenangkan bagi sebagian penduduk yang beriklim tropis, tapi lihatlah nyatanya musim dingin itu begitu kering, dan aktvitas lumpuh total.


Awalnya ia ingin langsung pulang, tapi entahlah dirinya langkah kakinya, malah menuju ke arah wanita yang berdiri di dekat halte itu. Beberapa saat kemudian, wanita itu menyadari kehadirannya dan menatapnya, karena jarak itu hanya sekitar satu meter.


"Apakah kamu dari Asia," ucap Liam tenang, ia mencoba manahan suhu dingin. Paperbag yang ia beli tadi, masih di pegangnya.


Wanita itu mamasukkan tangannya di saku jaket tebalnya, dan dia lalu mengangguk, "Ya, saya dari Asia, tepatnya Indonesia,"


Ada perasaan bahagia mendengar nama Indonesia dari bibir tipis itu. Bagiannya warga Indonesia yang ada di New York adalah saudara.


"Saya juga dari Indonesia," ucap Liam, dan diberikannya senyum untuk wanita itu.


"Saya dari tadi melihat kamu dari cafe di seberang sana," Ucap Liam.


"Kamu memperhatikan saya di sana," ucapnya, ia mengarahkan tangannya, ke cafe Sabarsky yang di kunjunginya tadi.


"Ya, Kamu sepertinya begitu cemas dan bingung," ucap Liam.


Wanita itu mengangguk dan tubuh wanita itu mulai kaku. Ia hanya takut wanita itu mengalami hipotermia. Hipotermia adalah suatu kondisi suhu tubuh, kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Terlebih wanita itu dari Indonesia, belum bisa menyesuaikan dengan suhu di New York.


"Saya sudah berjanji kepada teman saya, bahwa menunggunya disini. Tapi teman saya sepertinya tidak datang," suara itu terdengar bergetar.


"Di mana alamat rumah teman kamu,"


"Ponsel saya mati, jadi saya lupa, alamatnya di mana," ucapnya pelan.


Liam mengerutkan dahi dan memperhatikan wanita itu. Koper berwarna merah muda itu masih ada di sampingnya, terlihat jelas wanita itu dari perjalan jauh. Jika di perhatikan wanita itu sudah beberapa hari di New York. Karena ia tahu betul, beberapa penerbangan di batalkan, akibat badai salju yang melanda di sejumlah wilayah Amerika Serikat.


Ia membaca berita, bahwa bandara John F Kennedy New York di tutup sementara. Tidak hanya bandara, bahkan sekolah-sekolah juga di liburkan. Jalur-jalur kereta api tidak beroperasi, akibat rel kereta api yang tertutup salju tebal. Jika malam hari malah kondisi dengan penurunan suhu secara extream yang berkisar hingga minus 25 drajat celcius.


"Kamu liburan di sini,"


"Ya, tepatnya liburan sendiri, saya ingin pulang ke Jakarta, malah penerbangan lumpuh total. Saya putuskan untuk pergi ke tempat teman saya, teman saya malah tidak menjemput saya,"


Liam mengangguk paham, mungkin karena jalanan masih tertutup salju. Belum ada tanda-tanda petugas pembersih jalan untuk bersihkan jalanan yang tertutup salju tebal itu, hingga tidak memungkinkan untuk mengendarai mobil.


"Sebaiknya, kamu urungkan untuk menemui teman kamu. Saya yakin teman kamu tidak akan datang karena memang kondisi cuaca tidak bersahabat. Dia pasti akan mati membeku," ucap Liam.


Wanita itu memandangnya, dan mengangguk, "sebaiknya saya kembali ke hotel lagi," ucapnya.


"Mari saya antar, saya hanya ingin kamu aman. Masalahnya banyak gelandangan berkeliaran di kota ini," ucap Liam.


"Terima kasih," ucap wanita itu lagi.


Liam lalu mengambil alih koper dari tangan wanita itu, dan mulai memandang iris mata bening itu.


"Saya Liam," ucap Liam, mengulurkan tangannya.


"Dian Saraswati, panggil saja Dian," ucapnya, lalu membalas uluran tangan itu.


Liam melepaskan genggaman itu, "Rumah saya tidak begitu jauh dari sini, apakah kamu ingin mampir ke rumah saya?" Ucap Liam, dirinya hanya ingin sekedar menawarkan kepada wanita di hadapannya ini.


"Apakah boleh,"


"Tentu saja,"


"Terima kasih,"


**********