
Dian memastikan penampilannya sekali lagi, pakaian yang di kenakannya tertutup sempurna. Ia masih bersyukur bahwa Liam masih menyesap lehernya. Ia tidak bisa membayangkan si babon itu, melakukan hal yang tidak ia inginkan. Tapi hampir saja, laki-laki itu memperkosanya. Gila, seandainya saja ia tidak merengek karena lapar, ia sudah pastikan sudah tidur dengan si babon, saat itu juga.
Dian melirik jam melingkar di tangannya menunjukkan pukul 16.01 menit. Dian memandang atasannya bersiap-siap untuk pulang.
"Dian, minggu depan kamu datang ya ke rumah saya,"
"Ada apa pak," ucap Dian.
"Empat bulanan istri saya,"
"Iya pak, nanti saya datang,"
"Bawa, pacar kamu yang gondrong itu juga ya, enggak apa-apa,"
"Iya, pak," ucap Dian lagi.
"Ayo kita pulang, sudah jam empat kan,"
"Iya pak," Dian lalu mengambil tas di lemari kabinet, dan mengukuti langkah atasanya dari belakang.
Beberapa saat kemudian, ia memandang Liam di area parkiran. Laki-laki itu melambaikan tangannya, Dian berjalan menuju kekasihnya. Ya, seperti biasa tidak ada yang berubah dari penampilan Liam.
Liam mengecup bibir tipis itu sekilas, dan lalu tersenyum kepada sang pujaan hati. Liam mengaitkan helm pada di kepala Dian.
"Kita ngumpul di rumahnya Darka dulu ya," ucap Liam.
"Ngapain ke rumah Darka?" Tanya Dian.
"Darka baru putus dari Linggar," ucap Liam.
"Yang bener,"
"Iya bener, tadi aku dapat info dari Daniel. Katanya Darka mau balik lagi ke New York, besok," ucap Liam.
"Terus terus kenapa mereka bisa putus, padahal mereka baik-baik aja," Dian mulai menyelidiki, dan lalu duduk di jok, memeluk Liam dari belakang.
"Ya, enggak tahu juga, makanya kita ke sana, cari tahu," ucap Liam, ia menstater motornya dan meninggalkan area gedung kantor.
Dian sebenarnya ia sulit percaya bahwa Linggar dan Darka putus. Padahal mereka pasangan serasi, yang satu tampan, dan yang satu cantik seperti artis korea.
"Mungkin temen kamu, selingkuh kali," ucap Dian.
"Enggak tahu sayang, makanya kita cari tahu. Kayaknya galaunya lebih parah dari kamu, pulang ke New York mendadak gini," ucap Liam.
"Terus si Linggar ada di mana?"
Liam menarik nafas, "Sayang, Darka yang jelas temen aku aja, enggak tahu kabarnya, apalagi Linggar," ucap Liam.
"Iya deh,"
"Kamu kan temenan sama Linggar tuh, kepoin aja dia, telfon dia kek, atau main ke rumahnya. Siapa tahu dia mau cerita sama kamu," ucap Liam.
"Nanti deh aku cari tahu," ucap Dian lagi.
"Sayang,"
"Hemm," ucap Dian lagi.
"Minggu kamu enggak ada acara apa-apa kan," ucap Liam, ia meluruskan pandanganya ke depan. Ia masih merasakan tangan Dian di sisi pinggangnya.
"Enggak, kenapa?"
"Mama nyuruh kamu ke rumah, buat bantu-bantu masak buat arisan," ucap Liam.
"Yang bener, jadi gimana dong. Kamu kan tahu, aku enggak bisa masak," ucap Dian.
Liam terkekeh, mendengar reaksi sang pujaan hati. Ia sudah menduga, Dian akan mengatakan itu kepadanya.
"Ya, kamu bantu ngelap piring atau, bantu motong-motong sayur aja. Enggak mungkin kamu di suruh meracik bumbu. Sekalian kamu belajar masak sama mama," ucap Liam.
"Iya deh, tapi mama kamu galak enggak,"
"Enggal kok, baik banget. Apalagi calon mantunya lucu kayak kamu,"
"Kamu udah cerita, tentang aku sama mama kamu," tanya Dian penasaran.
"Udah dong,"
"Kamu cerita apa, sama mama kamu,"
Liam lalu berpikir, dan ia tersenyum licik, "aku cerita, bahwa aku udah tidur sama kamu," ucap Liam tenang.
Dian lalu mencubit pinggang Liam, "Becandanya keterlaluan,"
"Aww, sakit sayang,"
"Kalau kamu enggak rengek-rengek kayak kemarin. Mungkin bulan depan sudah jadi Liam junior sayang,"
"Ih,"
Sepanjang perjalanan ia hanya tertawa, mendengar reaksi sang kekasih. Banyak hal yang membuatnya bahagia, salah satunya memiliki pasangan, yang selalu membuatnya tertawa.
Rasa bahagia sangat berpengaruh dalam kehidupan. Kebahagiaan sebuah perasaan yang menggairahkan, yang di rasakan oleh hati yang dalam. Mungkin di luar sana banyak orang mencari kebahagian di tempat yang salah, justru membuat kehidupanya jatuh dan menderita. Tapi lihatlah kebahagiaan itu justru sederhana, dengan bertindak sederhana seperti ini.
***********
Dian memandang area rumah berpagar tinggi itu, ia akui bahwa rumah Darka begitu mewah. Sangat berbeda sekali dengan rumahnya yang minimalis. Bahkan rumah Liam, tidak sebesar rumah Darka. Rumah ini pencahayaan baik, serta catnya begitu terawat. Liam menghentikam motornya tepat di parkiran itu. Liam membuka helm yang di kenakannya begitu juga dengan Dian.
Liam memandang mobil SUV Daniel terparkir sempurna di tempat yang sama. Liam melangkahkan kakinya menuju pintu utama, pintu itu sudah terbuka, ia tahu Daniel sudah berada di dalam.
Liam dan Dian masuk ke dalam, ia memandang Daniel dan Ayana. Mereka sedang duduk di ruang tamu. Ayana melambai ke arahnya. Sejak liburan di Bali kemarin, ia memang tidak bertemu lagi.
Dian lalu duduk di samping Ayana. "Hey, lo apa kabar?" Tanya Dian.
"Baik, lo baik juga kan,"
Dian mendekatkan wajahnya ke telinga Ayana, "lo udah dengar, Linggar sama Darka putus?" Bisik Dian.
"Tau kok, ini mau lihat keadaan Darka. Katanya yang mutusin, si Linggar," ucap Ayana pelan.
"Dari mana lo tau,"
"Dari cowok gue lah, gue pikir lo yang putus duluan sama si babon itu. Ternyata enggak di sangka-sangka, si Linggar, padahal gue pikir, mereka enggak ada masalah. Mereka terlihat romantis banget, iya kan. Lo liat sendiri di Bali kemaren," ucap Ayana.
"Iya, gue enggak nyangka mereka putus,"
Beberapa saat kemudian, Darka datang, laki-laki, datang tanpa senyum. Dahinya menyegerit memandang kehadiran teman-temannya.
"Hey, men," ucap Liam.
"Lo enggak apa-apa kan men," ucap Daniel.
"Siapa bilang gue baik-baik saja? *** lo," ucap Darka.
"Sekarang lo tanpa dia men," ucap Liam.
"Ya, iyalah. Besok pagi gue cabut, gue balik lagi men, urusan gue udah selsai," ucap Darka, tenang, melirik ke dua teman.
"Apa enggak bisa di omongin baik-baik men," ucap Daniel, ia masih memandang Darka, terlihat jelas laki-laki itu menahan amarah.
Liam merangkul bahu Darka, "Gue tahu perjuangan lo men, lo pernah bawa dia ke New York. Terus lo sia-siain dia gitu aja, lo gila men ! brengsek lo," ucap Liam.
"Ya, gue emang gila, mau gimana lagi men, semua sudah selesai," ucap Darka.
"Dia tau, kalau lo mau balik besok," tanya Liam lagi.
"Dia kayaknya enggak peduli lagi sama gue, dia itu keras men, enggak seperti cewek lo," ucap Darka, sambil terkekeh, menahan sesak hatinya.
"Lo sabar aja men, di luar sana masih banyak yang suka sama lo, percaya gue," ucap Daniel.
Awalnya ia pikir Linggar wanita lugu dan baik hati, yang sangat menyayanginya. Tapi setelah mengetahui kenyataanya tentang dirinya, ternyata Linggar tidak selugu apa yang ia lihat. Dia begitu keras, bahkan untuk memaafkannya, pun tidak bisa. Wanita itu bahkan tidak mau memandangnya, dan tidak mau menemuinya lagi.
Semua akun sosial media, bahkan, kontaknya pun, sudah di blokir dengan sang pemilik akun. Ia tahu bahwa setiap orang tahu bagaimana rasanya sakit hati. Lebih baik dirinya berpura-pura tegar, tanpa harus menjelaskan apa yang terjadi. Semua akan terjawab oleh waktu. Jika jodoh ia pasti akan bertemu lagi.
"Lo mau makan enggak, nyokap gue baru selesai masak nih," ucap Darka mengalihkan pertanyaan. Ia sugguh tidak ingin membahas tentang masalah apa yang menimpanya.
"***, lo ngalihkan pertanyaan kita," ucap Daniel.
"Gue malas bahas itu lagi men, sumpah," ucap Darka.
"Lo jawab dulu pertanyaan gue," ucap Daniel.
"Lo mau tanya apa? Lama-lama lo berdua ngeselin ya," Ucap Darka, menyandarkan punggunya di kursi. Memandang ke dua temannya, yang akan mengeksekusinya.
"Gini men, gue tau, setelah ini lo enggak balik lagi ke Jakarta. Kalau misalnya setahun, atau dua tahun, lo di pertemukan lagi sama dia. Apa yang lo lakuin kalau ketemu dia,"
"Gue enggak bakal balik, kecuali dia ke New York nemuin gue," ucap Darka.
"Enggak bisa gitu men. Gue bentar lagi nikah, lo enggak mungkin kan, enggak datang," ucap Daniel.
"Gue titip amplop sama Liam men," ucap Darka, sambil terkekeh.
"Kampret lo," Daniel melempar bantal ke arah Darka.
"Ya, iyalah,"
Percakapan itu berlanjut hingga makan malam. Ini lah moment di mana sang sahabat, yang sedang dilanda patah hati.
**********