Memories

Memories
Bab 12



Pagi-pagi sekali Dian sudah rapi, koper berwarna pink itu, sudah ia siapkan di dekat pintu. Liam tadi menghubunginya, sebentar lagi si babon itu akan datang menjemputnya. Dian melirik ke dua orang tuanya yang duduk di meja makan. Sang ayah seperti biasa selalu membaca koran langgananya. Dian mengalihkan pandangannya ke arah benda berbentuk lingkaran di dinding dekat lemari, menunjukkan pukul 06.12 menit.


Dian lebih memilih menyandarkan punggungnya di sofa ruang tamu, sambil memakan roti tawar yang di olesi selai coklat kesukaanya. Dian melihat ke arah tangga, memandang saudaranya turun dari tangga, laki-laki itu tampak rapi dengan balutan kemeja putih, serta id card di saku kemeja. Laki-laki itu tersenyum ke arahnya, dan berjalan mendekatinya.


"Berapa hari kamu di Bali dek?" Tanya Tatang, ia masih memperhatikan Dian.


"Minggu udah pulang," ucap Dian, ia masih bermain game pada layar ponselnya.


"Owh, empat hari," ucap Tatang lagi, ia lalu duduk di samping sang adik kesayangannya ini.


"Kata mama pacar kamu tatoan dan rambut gondrong, ya dek,"


Dian mengedikkan bahu, "Ya, gitu deh," sungut Dian, ia melirik Tatang, yang mulai menyelidik.


"Tapi tenang aja, aku segera putus sama dia," timpal Dian lagi.


Tatang mengerutkan dahi, "kok gitu?"


"Ya, mana aku mau, pacaran sama laki-laki menyeramkan kayak gitu mas, serem tau. Rambutnya gondrong, tatoan, brewokan, item dan dekil," timpal Dian.


"Tapi bentar lagi aku akan putusin,"


"Emang kamu berani putusin dia?" Tanya Tatang, karena ia tahu sang adik seperti apa, ia sudah mengenal wanita itu dari orok.


Adiknya itu emang penakut abis, beberapa bulan lalu adiknya ini pernah di tilang polisi, karena lupa membawa surat-surat lengkap. Ditanyain polisi malah nangis, padahal polisi itu nanyanya biasa aja. Minta keterangan identitas saja, tidak ada nada bentak atau apapun menyakitinya. Sang adik juga memiliki phobia terhadap cacing, jangan harap ada makhluk lembek dan berlendir itu di hadapannya. Sudah ia pastikan, adiknya itu menjerit-jerit dan pingsan.


"Ya, beranilah,"


"Yakin,"


"Enggak yakin sih, kenapa sih mas kepo banget," ucapnya lagi.


Tatang tersenyum menatap sang adik, "ya, kan pengen tau aja, pacar kamu kayak apa. Hati-hati loh di sana, dek"


"Kenapa?"


"Sekarang kan kamu liburannya sama pacar, takutnya lupa diri saking asyiknya,"


"Lah aku kan enggak macem-macem mas, lagian liburannya rame-rame kok, bukan cuma berdua. Santai aja lagi," ucap Dian.


Tatang memandang sang adik, sebenarnya ia hanya berbasa-basi saja. "Kamu sama Rene berteman berapa lama sih, dek,"


"Baru tiga tahunan gitulah, semenjak kerja. Kenapa mas?" Tanya Dian.


Tatang menegakkan tubuhnya, "Nanya aja,"


"Mas suka sama Rene,"


"Kalau iya, kenapa?"


"Ya, enggak kenapa-napa, bagus kalau gitu. Bunda nya Rene baik banget loh mas," ucap Dian lagi.


"Oh ya,"


Sedetik kemudian, bell pintu terdengar, Rene dan Tatang mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Dian menatap Liam di sana. Laki-laki itu mengenakan kaos hitam dan celana jins berwarna senada. Laki-laki itu ternyata sudah menjemputnya.


Tatang melangkah mendekati pintu, dan ia memandang laki-laki berambut gondrong di sana. Ia sekarang tahu, laki-laki itu adalah kekasih adiknya. Pantas saja sang adik yang manja ini takut kepada laki-laki ini. Ia perkirakan laki-laki itu seumuran dengan dirinya.


"Nyariin Dian?" Tanya Tatang, ia masih memperhatikan laki-laki itu.


"Iya," ucap Liam, memandang laki-laki berkemeja putih itu.


"Saya Tatang, saudaranya Dian," ucap Tatang, ia mengulurkan tangannya, kepada laki-laki itu.


Liam membalas uluran tangan itu, "Liam," ucapnya tenang.


Sedetik kemudian ia lepas uluran tangan itu. Liam melirik Dian yang tidak jauh dari saudaranya. Kekasihnya itu mengenakan celana Jins hitam dan kaos abu-abu berbahan lembut, rambut itu di ikat sembarang, tapi tetap cantik.


"Jagain Dian ya, biasalah dia tu manja banget," ucap Tatang, kepada Liam.


"Ya, saya pasti akan menjaganya,"


"Kalau dia minta macam-macam jangan di turutin. Nanti malah kamu nya kelimpungan, soalnya maunya itu banyak banget,"


"Iya tenang aja," ucap Liam, ia mengedipkan mata kepada Dian.


Liam lalu tertawa, melihat reaksi Dian dengan pandangan mencemooh. Liam mengalihkan pandangannya ke arah dua orang separuh baya, yang mendekatinya. Laki-laki separuh baya itu tersenyum kepadanya. Ini adalah moment yang tepat untuk menjemput Dian, ia akan meminta ijin secara langsung, kepada seluruh keluarga kekasihnya itu.


"Kalian naik pesawat jam berapa?" Tanya ayah kepada Liam.


"Jam delapan om," ucap Liam.


"Seharusnya kalian sudah di jalan, belum lagi macet," ucap ayah, yang melirik jam melingkar di tangannya, sudah menunjukkan pukul 06.30 menit.


Dian hanya Diam, ia melirik si babon itu, laki-laki itu tersenyum kemenangan. Ia tahu isi pikiran Liam, karena semua keluarganya menerima dirinya. Jadi ia pastikan laki-laki itu, akan semakin menguasainya.


********


Liam dan Dian kini sudah di bandara International Soekarno Hatta. Dian memandang Ayana, wanita bertubuh mungil itu, mengenakan kemeja biru dan celana putih. Rambut panjang itu di ikat seperti ekor kuda, dan kacamata kuda itu bertengger di sisi matanya. Sementara Daniel dan Liam berdiri tidak jauh darinya.


"Mana teman lo satunya," tanya Dian.


"Masih di parkiran, biasalah dia kan sering ribet gitu," ucap Ayana.


"Iya sih orangnya yang sok bersih itu kan, siapa sih nama kepanjangannya?" tanya Dian penasaran, ia berjalan beriringan dengan Ayana, menuju bording pass.


"Namanya Linggar Anesti," ucap Ayana.


"Keren gila namanya, keturunan keraton dari mana tuh," ucap Dian.


"Dari Kalimantan kali, dia kan dari Kalimantan Yan,"


"Emang di Kalimantan ada keraton gitu ya,"


"Ya adalah kali aja keraton suku dayak, emang di jawa aja yang ada keraton," ucap Ayana asal, dan sambil terkekeh.


"Pacarnya betah gitu sama dia?" Ucap Dian.


"Ya, betahlah namanya juga cinta, gimana juga lo, pacaran sama si gondrong itu. Cowok lo lebih nyeremin, mirip pereman," timpal Ayana.


Bibir Dian maju satu senti mendengar pernyataan Ayana. Dian dan Ayana menghentikan langkahnya, menatap Linggar dan Darka, berjalan mendekatinya. Ke dua orang itu begitu keren menurutnya, mereka pasangan serasi, mengenakan kaos putih berbahan lembut, dan mereka berdua mengenakan topi yang sama. Oh Tuhan, mereka sudah seperti pasangan artis korea. Si Darka memang ia akui tampan, dan Linggar memang di karuniai wajah cantik. Ia begitu iri terhadap pasangan tersebut, terlihat sekali mereka begitu kompak.


"Panjang umurnya tu bocah," gumam Dian.


Linggar berjalan mendekat, dan tersenyum kepada Dian dan Ayana. "Hey apa kabar?"


"Baik," ucap Dian.


"Lo mau pergi ke Bali atau mau konser," ucap Lianggar, menatap penampilan Dian.


Wanita bernama Dian itu mengenakan baju abu-abu tua, dan celana jins hitam, tidak ada yang cerah pada penampilan wanita itu. Kecuali koper yang di pegangnya berwarna pink. Masalahnya ini mau berpergian ke Bali, harusnya pakaian itu harus cerah, entah bagaimana pun, wanita ini selalu salah kostum. Kemarin di skye wanita itu juga salah menggunakan kostum.


"Ke Bali lah, sekalian mau nonton konser antraksi tarian kecak,"


"Yang bener,"


"Benar lah, lo enggak tau, tarian kecak itu pertunjukan paling mistis, lo bakalan merasakan aura mistis. Jadi pakeknya baju kayak gini, biar nambah dramatis," timpal Dian.


"Sekarang kan kita masih di Jakarta, emang langsung turun kita langsung nonton tu pertunjukkan,"


"Ya, mungkin aja,"


Linggar menepis rambutnya ke belakang, "Lo itu suka salah kostum tau,"


"Terserah gue dong, gue keren gini,"


"Di bilangin yang bener enggak percaya,"


"Ssstttt, lo mau cari mati, tu liat cowoknya liatin lo," ucap Ayana, ia menyenggol bahu Linggar.


Linggar melirik laki-laki berambut gondrong di sana, ia bergidik ngeri, karena mata itu seakan memperingatkannya, untuk tidak mengusik kekasihnya.


"Pacar lo nyeremin," ucap Linggar, ia lalu berlalu mendekati sang kekasih Darka.


"Lagian lo sih makanya jangan gangguin pacarnya, nanti lo di mutilasi baru tau rasa," ucap ucap Ayana, lalu ikut ngacir ke arah Daniel, ia pun bergidik ngeri.


"Gue cuma becanda tau," ucap Linggar.


"Becanda lo enggak lucu," bisik Ayana.


Dian memandang Liam, laki-laki itu melangkah mendekatinya. "Kamu kenapa sayang," tanya Liam, karena dari tadi ia memperhatikan kekasihnya itu.


"Aku enggak suka sama pacar temennya kamu,"


"Dia begitu, hanya iri aja sama kamu,"


"Pokoknya aku enggak mau sekamar sama dia," sungut Dian.


"Iya, kamu enggak akan sekamar sama dia, kan kamunya sekamar sama aku,"


"Ih, kamu,"


"Beneran,"


"Enggak mau,"


"Harus mau," ucap Liam, ia lalu menarik tangan sang kekasih.


********