Memories

Memories
Bab 15



"Gila, gue enggak nyangka Yan. Gue bisa nyaksikan lo ciuman sama si preman itu," ucap Ayana, ia mengikuti langkah Dian, masuk ke kamar.


"Lo enggak apa-apa kan Yan," ucap Linggar, ia berlari mengejar Dian.


"Sumpah pacar lo enggak punya malu Yan," ucap Ayana lagi.


Setibanya di kamar, Dian lalu memandang ke dua temannya. Linggar mengambil handuk putih di nakas, dan di berikannya kepada Dian, yang sedang basah kuyup. Dian lalu masuk ke dalam kamar mandi, ia perlu ganti baju dan membersihkan diri. Ia menatap penampilannya di kaca wastafel.


"Si babon gila, brengsek, enggak punya malu," timpal Dian, ia menghentakkan kakinya.


Dian mengibas tangannya, ia mendadak gerah, wajahnya merah padam ketika keluar dari kolam tadi. Ia tidak tahu lagi untuk menghadapi si babon itu. Ingin sekali membunuhnya sekarang juga. Dian menghidupkan shower, ia lalu menekan tombol suhu air hangat. Ia perlu menyegarkan tubuhnya. Jujur ini bukan pertama kalinya si babon itu menciumnya. Tapi menciumnya di kolam, dan menjadi tontonan teman-teman brengseknya itu, bukanlah hal baik. Mereka pasti beranggapan yang tidak-tidak terhadap dirinya. Liam benar-benar keterlaluan, berengsek, ********, entahlah apalagi yang pantas ia sematkan kepada si babon itu.


Beberapa menit kemudian, Dian menyudahi mandinya. Ia lalu membuka pintu, ia memandang ke dua temannya. Ternyata ke dua bocah itu masih setia menunggu dirinya. Dian melangkahkan kakinya menuju koper, ia mengambil baju dan celana.


"Yan, lo enggak apa-apa kan," ucap Linggar.


"Ya, gitu deh," ucap Dian, ia lalu mengenakan pakaiannya.


Dian mengeringkan rambut itu dengan handuk. Ia berjalan menuju cermin, ia menatap penampilannya, celana pendek dan kaos menjadi pilihannya saat ini. Agar ia melangkah dengan leluasa, jika berhadapan dengan si babon itu lagi.


"He's really a good kisser !" Ucap Ayana.


Dian dan Linggar, seketika menoleh ke arah Ayana, ia sulit percaya apa yang di ucapkan pada bocah itu. Ayana mengatakan Liam pencium yang hebat. Sepertinya wanita itu otaknya perlu di cuci.


"Oh Tuhan, lo benar-benar," Dian tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Sepanjang gue lihat tadi, ya emang seperti itu. Kalian mempunyai chemistry, insting, dan kalian bisa melakukannya," ucap Ayana.


"Lo bilang gue punya chemistry, sama si babon itu,"


"Ya, emang gitu kenyataanya,"


"Maksud lo apaan sih," ucap Dian.


"Maksud gue cowok lo itu, ya hebat, dia tidak terkesan terburu-buru, mengigit bibir lo, atau dia berusaha main lidah. Sebenarnya dia melakukan aksi solo nya, agar lo nikmati apa yang dilakukannya. Semuanya seolah ringan, dan lo juga jadi rileks,"


Dian melongo mendengar pernyataan bocah kecil itu. Dapat dari mana dia ilmu berciuman yang barusan di ungkapkannya. Mungkin Ayana ada mata kuliah bagaimana cara berciuman hebat, sehingga dia bisa menyatakan itu secara jelas dan detail. Seumur hidupnya semua ciuman yang pernah ia coba, hanya ciuman Liam lah yang paling mengerikan, bagaimana ia bisa menikmatinya. Dian melangkah mendekati Ayana, ia lalu bertolak pinggang.


"Seharusnya lo yang jadi pacarnya si babon itu, bukan gue," ucap Dian.


"Kok gue,"


"Ya, secara lo langsung lo bela si babon itu, dan lo membenarkan semua apa yang dia lakukan terhadap gue,"


"Ya, emang seperti itu kenyataanya. Gue berdasarkan apa yang gue lihat. Itu sih terserah lo lagi. Gue sih ogah mau pacaran sama dia, gue udah tunangan. Daniel jauh kemana-mana lah, dari pada cowok lo," ucap Ayana.


"Ih sebel gue, dasar berengsek," ucap Dian, ia lalu duduk di sisi tempat tidur.


Linggar mengelus punggung Dian, "udahlah enggak apa-apa kok, lagian cuma di cium doang,"


"Tapi gue kesel sama dia, dia itu selalu nakutin gue. Gue tu enggak tenang, kalau dia masih berkeliaran di sisi gue," Dian mengeluarkan keluh kesahnya.


"Ya, dia emang nyeremin. Mau gimana lagi, lo kan emang pacarnya,"


"Udahlah jangan dipikirin, masih untung di cium, lo belum di apa-apain juga. Yuk keluar cari makan," ucap Ayana.


"Enggak mau, gue takut,"


"Jangan takutlah, nanti kalau lo takut dengan si gondrong itu, dia malah besar kepala, dia semakin berkuasa sama lo. Lo bakalan di tindas, percaya gue," ucap Ayana.


"Bener tu Yan, santai ajalah. Namanya juga pacaran, ciuman biasa ajalah. Gue pengen makan rujak mangga ni, enak makan siang-siang gini, pedes-pedes," Linggar melirik ke dua sahabatnya.


"Wah, ide bagus tu. Tapi cari di mana?" Ucap Ayana.


"Minta beliinlah sama cowok-cowok nganggur itu,"


"Iya deh, gue sisiran dulu ya bentar," ucap Dian. Dian melangkahkan kakinya ke koper, dan mengambil perlengkapan make up nya.


*********


Dian memberanikan diri untuk melangkah ke luar dari kamar, ia berjalan di belakang dua bocah itu. Dian mengatur detak jantungnya, dan seketika langkahnya terhenti. Menatap iris mata tajam Liam. Liam juga membalas pandangannya, laki-laki mendekatinya.


"Katanya laper, mau cari makan," ucap Liam.


"Iya,"


"Mau makan apa hemm," ucap Liam, ia menarik pergelangan tangan Dian.


"Aku mau makan rujak mangga," ucap Dian.


"Rujak mangga?"


"Iya, aku pengen rujak mangga,"


"Tapi kamu belum makan nasi loh sayang,"


"Tapi aku mau makan rujak mangga, Beliin," ucap Dian.


Liam lalu mengangguk, dan memenuhi permintaan kekasihnya ini. "Oke, nanti aku cari,"


"Maunya sekarang, bukan nanti,"


********


Ini sudah satu jam, ia berkeliling area pasar, hanya untuk mencari rujak mangga khas Bali. Semua wanita-wanita itu menginginkan hal yang sama. Sebagai kekasih yang baik ia rela membeli pesanan wanita cantik itu, terlebih siang-siang seperti ini. Liam sempat bertanya kepada para pedagang kaki lima, di mana letak rujak mangga di sekitar sini. Pedagang itu berbaik hati memberinya alamat tukang rujak mangga yang terkenal di Bali.


Liam menghentikan setir mobilnya di jalan Blambangan, di sana ada Baliho bertulisan Warung Bu Putu. Di sana lah tempat menjual rujak mangga Bali yang di maksud pedagang itu.


"Gue tunggu di mobil, kalian berdua beli," ucap Liam, memerintahkan Daniel dan Darka.


"Kampret, masa lo nyuruh kita," ucap Daniel.


"Lo aja men, sekali-kali turutin mau pacar lo. Kasihan tau, kayaknya dia takut banget sama lo," ucap Darka, menepuk bahu Liam.


Liam mengedikkan bahu, "Kampret, lo nyuruh gue,"


"Sekali-kali lah, lo berkorban untuk pacar lo,"


"***, lo," Liam lalu membuka hendel pintu.


"Gue titip men, pokoknya yang pedes, banyak cabenya" ucap Darka.


Liam lalu membuka hendel pintu, ia mengikat rambutnya seperti ekor kuda, karena cuaca memang panas. Liam berjalan mendekati warung sederhana itu. Tidak banyak orang di sana, hanya ada beberapa turis lokal yang makan rujak. Ia yakin turis manca negara tidak terlalu suka dengan olahan mangga muda seperti ini. Tidak adakah makanan yang lebih baik, dari rujak ini. Sehingga mereka kompak menginginkan hal yang sama.


Liam mendekati wanita separuh baya yang berjaga.


"Bu saya pesen rujak mangga," ucap Liam tenang.


Ini merupakan pertama kalinya, ia membeli rujak mangga untuk kekasihnya. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah sekalipun membelikan ini untuk wanitanya. Mereka juga tidak meminta hal yang aneh-aneh seperti ini.


"Mau di bungkus atau makan sini?" Tanya ibu itu ramah, sambil melirik Liam.


"Di bungkus,"


"Berapa bungkus,?"


"Lima bungkus, semuanya pedes," ucap Liam, ia melipat tangannya di dada.


Ibu-ibu separuh baya itu tersenyum kepada Liam, sambil mengiris mangga muda.


"Untuk siapa mas, istrinya ya,"


"Iya bu, untuk istri saya," ucap Liam tenang.


"Owh, untuk istrinya. Hamil berapa bulan mas," tanyanya lagi.


"Tiga bulan,"


"Owh tiga bulan, seneng ya mas, mau punya anak,," ucap Ibu itu sambil membungkus, mangga pesanannya.


"Seneng dong bu,"


"Anak yang keberapa mas?"


"Anak pertama bu,"


"Selamat ya mas, sebentar lagi mau jadi bapak,"


"Iya bu, sama-sama," ucap Liam.


"Tapi kok banyak bener mas sampe lima bungkus,"


"Kebetulan ada teman-temannya juga bu, enggak enaklah kalau beli satu bungkus. Nanti yang ada, malah ngiler semua,"


Wanita separuh baya itu tertawa mendengar pernyataan Liam. Ibu itu lalu menyerahkan bungkusan itu kepada Liam. Liam membayar semua rujak itu dan kembali mendekati mobil, sambil membawa tentengan plastik keresek berwarna hitam. Andai saja Dian tidak menginginkan makanan ini, ia tidak akan membeli rujak mangga ini jauh-jauh. Liam membuka hendel pintu, ia menyimpan bungkusan itu di atas dasbor.


"Gue salut sama lo men, biasa lo enggak bakalan mau beli kayak gini," ucap Darka.


"Kalau enggak demi Dian, ya gue enggak maulah,"


"Lo, beneran suka sama tu cewek,"


"Menurut lo gue enggak suka sama dia," ucap Liam, ia menstater mobil dan meninggalkan area warung Bu Putu.


"Jadi beneran lo serius sama tu cewek,"


"Ya, iyalah,"


"Gue pikir lo main-main," ucap Darka dan ia lalu tertawa.


"Kampret lo,"


"Lo cipokkan di depan kita lagi. Dasar brengsek lo, Lo enggak liat cewek lo tu takut gitu," ucap Darka.


"Dia harus di ajarin, agar terbiasa men. Macam lo enggak tau gue aja,"


Percakapan itu berlanjut sepanjang perjalanan menuju Vila.


********