Maya

Maya
9



Sore itu mereka berkumpul di halaman vila untuk mempersiapkan pesta kecil-kecilan yang akan mereka adakan. Lazar dan Roki mencari kayu bakar untuk membuat api unggun. Ayu, Rani, dan Sinta membantu ibu Sinta mempersiapkan bahan makanan. Setelah semua persiapan dilakukan, mereka memulai memasak. Lazar dan Roki menyiapkan api yang akan digunakan untuk membakar ayam. Sambil memasak dan menyiapkan makanan mereka bercakap-cakap satu sama lain. Bercanda dan tertawa. “udah jadi belum tu tempet bakar ayamnya?” tanya Sinta kepada Lazar dan Roki. “lagi bentar, taruh aja disitu ayamnya, nanti kita yang bakar” jawab Lazar.


Semua makanan telah siap, mereka bersiap-siap untuk makan malam bersama. Ditengah makan, Papa Sinta bertanya. “kalian kan sebentar lagi akan selesai kuliahnya, apa kalian udah punya rencana mau ngapain?” tanya Papa Sinta kepada semuanya. “iya, kalian dari sekarang minimal harus sudah mikirin kalian akan ngapain” tambah Mama Sinta. “nak Ayu, kamu mau jadi guru?” tanya Mama Sinta kepada Ayu. “eh, belum tahu tante, tapi kayaknya begitu, soalnya saya juga udah ngajar les untuk siswa” jawab Ayu. “wahh, oiya memangnya kamu jurusan apa?” tanya Mama Sinta. “Matematika, tante” jawab Ayu. “ya udah besok kamu ngajar les anak om juga ya” pinta Papa Sinta kepada Ayu. “iya, dia lagi tahun ini mau lulus SD, bisa ya” tambah Mama Sinta. “ehh, iya om, nanti saya aturin dulu jadwalnya” jawab Ayu.


“kalau kamu gimana nak Lazar?” tanya Mama Sinta kepada Lazar. “ya paling mau coba cari kerja yang sesuai hobi dulu tante” jawab Lazar cengengesan. “emang kamu gak mau jadi guru?” lanjut Mama Sinta. “belum tahu tante, tapi kayaknya gak” jawab Lazar. “lah, kok bisa, terus ngapain kamu kuliah ngambil ilmu keguruan” kata Mama Sinta. Semua tertawa mendengar percakapan itu. “terus kalau Rani, mau ngapain setelah kuliah?” tanya Papa Sinta kepada Rani. “mungkin nyari kerja di pariwisata om, kalo gak ya paling jadi guru” jawab Rani. “wah, bagus itu, nanti om usahakan ya rekomendasiin kamu sama temen om yang punya vila ini” jawab Papa Sinta. “iya, makasi om” jawab Rani cengengesan. Setelah semua mendapat pertanyaan dari orang tua Sinta, makan malam merekapun usai.


Mereka semua hanya mendengarkan, mengambil pelajaran dari cerita itu. Tidak semua hal dapat di tiru, tapi setiap bagian dari cerita itu bisa menjadi referensi untuk mereka. Karena mereka sadar, mereka akan tiba di fase itu suatu hari nanti.