Maya

Maya
32



Rani kembali menangis dikamarnya, ia sebenarnya merasa kecewa setelah tahu bahwa Lazar tidak akan bisa mencintainya. Terlebih Rani merasa kecewa terhadap dirinya sendiri yang tidak bisa menahan perasaannya. Setelah matanya lelah, Rani akhirnya tertidur


Keesokan harinya Rani merasa lebih baik dan ia harus segera  berbenah diri agar tidak terbawa oleh perasaannya kepada Lazar. Rani sedang sarapan bersama keluarganya. “Pah, Ma, aku daftar beasiswa S2 yang keluar negeri ya” kata Rani kepada orang tuanya. “bagus itu, emang kamu mau ambil yang kemana?” tanya Pak Wahyu. “kemana aja Pah, dimana diterimanya disitu aku ambil” jawab Rani. “kamu yakin mau sekolah keluar negeri?” tanya Bu Mira. “Iya Ma, yakin” jawab Rani. Walaupun sebenarnya Rani tidak begitu yakin, tapi yang bisa ia lakukan dan pikirkan sekarang untuk menghindar dari pikirannya tentang Lazar adalah dengan menjauh.


Setelah menghabiskan sarapannya, Rani menuju ke kampusnya untuk mencari informasi tentang beasiswa yang pernah ia lihat di papan pengumuman di kampusnya. Sesampainya dikampus Rani langsung menuju tempat pengumuman beasiswa itu ditempel. Rani kemudian memfoto pengumuman beasiswa tersebut. Rani duduk ditaman kampusnya sambil membaca persyaratan dan kampus mana saja yang menerima beasiswa tersebut. Setelah membaca persyaratan yang harus dipenuhi, Rani mulai mengumpulkan persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan. Semua persyaratan yang dibutuhkan sudah Rani kumpulkan, ia kemudian mendaftar secara online melalui situs yang tersedia. Setelah mendaftar Rani mulai belajar untuk persiapan menghadapi tes nantinya. Rani nyaris tidak pernah keluar rumah, ia benar-benar serius belajar agar bisa lulus dan mendapatkan beasiswa tersebut.


90 menit kemudian tes selesai dilaksanakan, Rani merasa puas dengan hasil tesnya, ia lulus passing grade yang ditentukan oleh penyelenggara. Sekarang Rani hanya tinggal menunggu pengumuman resminya. Rani tidak langsung pulang, ia menuju rumah Sinta untuk memberitahukan hal ini kepada Sinta. Sesampainya dirumah Sinta, Rani mengetuk pintu yang kemudian dibuka oleh pembantu Sinta. “Sintanya ada bi?” tanya Rani. “Mbak Sinta lagi gak dirumah” kata pembantu Sinta. “Dia kemana?” tanya Rani. “gak tahu juga Mbak” jawab pembantu Sinta. Karena tidak menemukan Sinta dirumahnya, Rani kemudian langsung pamit untuk pergi kepada pembantu Sinta.


Setelah berfikir sejenak, Rani memutuskan untuk ke kos-an Ayu. Sepanjang jalan Rani merasa ragu. ‘mudah-mudahan Lazar gak ada disana’ batin Rani. Sesampainya disana, Rani memarkir motornya didepan gerbang, ia kemudian masuk dengan berjalan pelan-pelan, setelah masuk dan bisa melihat kamar Ayu, Rani tidak melihat motor Lazar disana. Rani hanya melihat ada motor Ayu disana, Rani kemudian mengetuk pintu. Ayu kemudian membuka pintu. “hi” sapa Rani. “kok gak ada suara motor, aku kira tetangga sebelah tadi” kata Ayu. “iya, aku parkir diluar, kirain ada Lazar disini” jawab Rani nyengir. “astaga, kamu tu ya, bawa masuk motormu, ntar ilang lagi kalo ditaruh didepan” kata Ayu. Rani kemudian mengambil motornya kemudian membawanya masuk.