Maya

Maya
27



Ayu kemudian dengan telaten mengobati luka pada wajah Lazar. Mengoleskan rivanol untuk membersihkan darah dan kotoran yang masih tersisa pada luka Lazar. “gak perih?” tanya Ayu. “ya perihlah” jawab Lazar sinis. “yee, jangan sinis dong, ini syukur-syukur aku mau obatin” kata Ayu. “iya, iya” jawab Lazar. “emang kamu habis ngapain sih?” tanya Ayu. “abis berantem sama Roki” jawab Lazar. “kok bisa?” tanya Ayu penasaran. “aku juga gak tahu masalahnya apa, dia tiba-tiba maen hantam aja” jawab Lazar. “ada-ada saja” Ayu menanggapi. Mereka tidak membahas lagi masalah luka di wajah Lazar dan penyebabnya. Lazar dan Ayu memiliki kemiripan sifat yang cuek terhadap masalah yang dianggap tidak penting. Sebab mereka tidak suka berasumsi atas segala hal. Mereka lebih suka untuk bicara apa adanya jika ada masalah dan mereka lebih suka berdiskusi terhadap masalah tersebut.


“laper” kata Lazar kepada Ayu. “terus?” jawab Ayu yang hanya melirik ke arah Lazar. “beli makanlah, atau pesen gitu” jawab Lazar. “gak usah pesen, biar aku aja yang keluar cari makan” kata Ayu. Ayu kemudian berangkat membeli makanan karena ia juga merasa lapar. Lazar kemudian masuk ke dalam kamar Ayu untuk membuat kopi. Lazar sama sekali tidak memikirkan kenapa Roki tiba-tiba menyerangnya.


Belum sempat Rani menjawab, Ayu sudah kembali dari membeli makanan. “woii, kos ku bukan tempet pacaran” kata Ayu sambil tertawa melihat Lazar yang sedang memegang wajah Rani. Setelah mengambil piring dan menaruh makanan, Ayu melihat mata Rani yang sembab. “nih anak dua kenapa lagi, yang satu berantem, yang satu abis nangis” kata Ayu. “kalian ini kenapa sih?” tanya Ayu geram melihat kedua temannya. “kamu berantem sama siapa?” tanya Rani kepada Lazar. “udah ahh, jangan dipikirin dan jangan dibahas lagi” jawab Lazar. “sama Roki” celetuk Ayu tiba-tiba. “astaga” kata Rani sambil menutup mulutnya karena kaget. “gini aja, sekarang kita makan dulu, ntar abis makan kita bahas, biar kelar urusan ini” kata Ayu sambil cengengesan. Lazar kemudian menjitak kepala Ayu. “dasar, tukang makan” kata Lazar. “biar otak bisa lancar mikir, jadi harus makan dulu” jawab Ayu. Mereka kemudian makan bersama. Rani sebenarnya tidak berselera, tapi Rani merasa tidak enak kalau harus menolak, ia masih berfikir kenapa Lazar dan Roki berantem.