Maya

Maya
8



Weeekend.


Mereka semua berkumpul di rumah Sinta. Keluarga Sinta sudah memesan bus dari travek agen untuk membawa pergi ke tempat liburan. Orang tua Sinta mempunyai kenalan yang kebetulan memiliki sebuah vila. Sambil menunggu bus datang Sinta mengenalkan teman-temannya kepada orang tuanya. “Pa, Ma, kenalin ini temen-temen aku” Sinta memperkenalkan. “Halo om, tante, aku Roki” Roki memperkenalkan dirinya sambil menjabat dan mencium tangan orang tua Sinta. Begitu juga dengan Lazar dan Ayu, melakukan hal sama dengan Roki. “wahh, pasti seru ni, rame-rame, ya kan Pa” kata mama Sinta. “iya, papa jadi ada teman mancing nanti disana” jawab Papa Sinta bersemangat.


Setelah semua persiapan selesai, tidak lama kemudian bus mereka datang. Mereka langsung menaikkan barang ke dalam bus. Lazar duduk disebelah Ayu, sedangkan Roki bersebelahan dengan Rani. Bus pun akhirnya berangkat. Setelah satu jam perjalanan mereka mulai memasuki jalan pedesaan yang asri, dikelilingi persawahan dan perkebunan. Rani melihat keluar jendela bus. “wahh, bagus ya” celetuk Rani. “ya, keren” timpal Roki. Mereka membuka jendela bus untuk menghirup udara pedesaan yang segar yang jarang mereka dapatkan di kota mereka. Satu jam kemudian mereka tiba di vila tempat mereka akan menginap. Papa Sinta dibantu oleh Lazar dan Roki menurunkan perlengkapan dan barang bawaan mereka.


Sementara itu dikamar sebelah. “eh, Zar, itu si Ayu pacar kamu?” tanya Roki kepada Lazar. “Ayu” jawab Lazar sambil tertawa. “lah, emang bukan?” tanya Roki lagi. “ya bukanlah, dia itu temenku, aku bisa akrab sama dia karna dia anaknya asik, seru” jawab Lazar. “oh, kirain pacar kamu” jawab Roki. “kalo kamu?, kamu suka sama Rani kan?” tanya Lazar tiba-tiba. “ehh, gak kok” jawab Roki gugup. “udah ngaku aja, gak apa-apa, kita ini sama-sama cowok bro” kata Lazar. “ya, iya sih, tapi Rani kayaknya suka sama orang lain deh” jawab Roki. “siapa?” tanya Lazar. “gak tahu juga, kamu mungkin” jawab Roki. Lazar hanya tertawa mendengar jawaban Roki.


Ada beberapa hal yang tidak bisa diungkapkan dan ada beberapa hal yang bisa diungkapkan. Hal yang tidak bisa diungkapkan itu terkadang yang menjadikan sesuatu itu rumit. Memendam sesuatu yang harusnya diungkapkan terasa lebih menyesakkan. Tapi semua hanya berpatok pada waktu, hingga semuanya menjadi mengerti dengan mengungkapkan atau tidak mengungkapkan.