
Sesampainya Lazar dan Dita dilapangan futsal, disana sudah ada teman-teman Lazar. Lazar menghampiri mereka, kemudian bersalaman dan Lazar juga mengenalkan Dita kepada teman-temannya. Lazar kemudian pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian sedangkan Dita duduk menunggu di kursi yang tersedia disana. Setelah berganti pakaian Lazar menghampiri Dita. “titip ya” kata Lazar memberikan pakaiannya kepada Dita. “iya taruh sini dah” jawab Dita. Lazar dan teman-temannya kemudian masuk ke lapangan mereka melakukan pemanasan sebelum bertanding.
Setelah beberapa menit Lazar dan teman-temannya memulai pertandingan, Dita kemudian pergi untuk membeli minuman. Setelah hampir setengah jam menonton, Dita baru seperti sadar. ‘kok tumben aku gak ngerasa bosen nonton cowok-cowok maen futsal’ kata Dita kepada diri sendiri. Sedari mulai pertandingan tadi memang mata Dita tidak lepas memperhatikan Lazar, kadang Dita senyum - senyum sendiri ketika melihat ekspresi Lazar yang tidak mencetak gol atau timnya kebobolan.
Setelah pertandingan selesai, tim Lazar yang akhirnya menang selisih dua gol. “yee, menang” kata Dita sedikit berteriak ketika Lazar menghampirinya. Lazar tersenyum ke arah Dita. “ini minum” Dita menyorkan minuman kepada Lazar. Lazar menerimanya kemudian menenggak sampai setengah isi botol. “haus sekali kayaknya” kata Dita. “gimana gak, maennya full sejam gak ada yang ganti” jawab Lazar. Lazar menghambiskan sisa minumannya kemudian ia pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Setelah berganti pakaian Lazar pamit kepada teman-temannya untuk pulang duluan. “makan dulu yuk, laper” kata Lazar ketika mereka berada di parkiran. “ayok” jawab Dita.
“kalo aku suka sama kamu gimana?” kata Dita dengan suara pelan ketika mereka berada diatas motor setelah mereka selesai makan. “haaa, apa?” kata Lazar karena ia tidak terlalu mendengar apa yang dikatakan Dita. “kalo aku suka sama kamu gimana?” ulang Dita dengan intonasi yang sama. “gak denger, besaran dikit dong suaramu” kata Lazar yang masih tidak mendengar apa yang dikatakan Dita. “gak ngomong apa-apa” teriak Dita disebelah telinga Lazar. “lah, terus tadi ngapain, ngomong sama hantu?” tanya Lazar. Dita tidak menjawab, ia hanya senyum-senyum sendiri.
Sesampainya di kos Dita, Lazar kembali bertanya tentang apa yang dibilang oleh Dita ketika mereka diatas motor tadi. “gak bilang apa-apa kok” jawab Dita nyengir. “dasar” jawab Lazar sambil menjitak kepala Dita. “aww” keluh Dita. “ya udah, aku langsung pulang ya” kata Lazar. “gak mau mampir dulu” Dita menawarkan. “gak deh” jawab Lazar. Dita hanya mengangguk. Lazar kemudian mengacak rambut Dita kemudia pamit pulang. Dita tidak bereaksi apa-apa, ia hanya diam mematung. Bahkan setelah Lazar pergi Dita masih diam berdiri untuk beberapa saat.