
Rumah Lazar.
Makan malam. Lazar dan keluarga makan malam bersama. “Pa, tadi Lazar bawa cewek loo ke rumah” celetuk Bu Dian tiba-tiba. “oh ya. Siapa?” tanya Pak Darma. “temen kok Pa” jawab Lazar menghentikan suapannya karena mendengar celetukan Ibunya. “kamu itu cari pacar makanya, masak temen semua yang kamu ajak ke rumah” kata Pak Darma. “iya, kayaknya si Ayu tu cocok sama kamu” tambah Bu Dian. “Bu, Pak, aku mau selesein kuliah dulu” kilah Lazar. “emang kamu sama Rani nggak pacaran” tanya Pak Darma. “ya ampun Bapak, aku sama Rani cuma temen aja” jawab Lazar.
Seminggu kemudian.
Hari pertama masuk kuliah semester baru.
Lazar dan Ayu menjadi jarang bertemu, mereka benar-benar disibukkan oleh skripsi masing-masing. Lazar lebih sering bertemu dengan Rani karena mereka satu jurusan dan terlebih Rani sering mengajak Lazar untuk mengerjakan skripsi bersama.
“Zar, aku boleh ngomong sesuatu gak?” tanya Rani kepada Lazar ketika mereka berada di perpustakaan untuk mencari bahan skripsi mereka. “ya, ngomong aja, sejak kapan kamu mau ngomong aja pake harus izin” jawab Lazar yang fokus dengan bukunya. Rani terdiam sejenak, menimbang-nimbang apakah ini waktu yang tepat untuk Dia mengatakan kepada Lazar bahwa Rani menyukai Lazar. Setelah beberapa lama, sambil menghembuskan nafas mencoba menenangkan diri, Rani akhirnya siap untuk menyampaikannya. “Zar, gini” Rani terdiam sejenak. Lazar mengalihkan pandangannya dari buku untuk melihat dan mendengar apa yang akan Rani katakan. “sebenernya, aku suka sama kamu” kata Rani akhirnya dengan nafas yang tertahan. Lazar yang mendengar itu tidak bereaksi apa-apa, Lazar hanya menatap Rani lekat-lekat. “Ran, kamu ngomong apa sih” jawab Lazar tak acuh. “maaf, tapi aku udah gak bisa lagi nahen ini semua dan aku memutuskan untuk mengatakannya” jawab Rani gugup. Lazar tidak tahu harus bersikap dan menjawab seperti apa, Ia hanya diam. Melihat sikap Lazar seperti itu, Rani mulai menitikkan air mata. Rani tidak pernah menyangka Dia akan merasa sesakit ini setelah mengatakan perasaannya, walaupun Lazar belum menjawabnya. Lazar yang sedari tadi hanya diam akhirnya memutar badannya menghadap Rani. “Ran, kita udah kenal dari baru masuk kuliah, kita udah tahu satu sama lain, kita sahabatan Ran dan aku gak pernah menyangka kalau kamu suka sama aku, itu sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiranku” jawab Lazar sambil memegang kepala Rani. Mendengar jawaban Lazar, Rani semakin terisak. “aku gak tahu apa aku suka sama kamu, apa aku cinta sama kamu. Tapi aku nyaman sama kamu dan aku sayang sama kamu sebagai sahabat” lanjut Lazar. “apa kita bener-bener gak bisa memulai untuk bisa menjadi lebih dari sekedar sahabat” jawab Rani lirih, suaranya seperti tenggelam oleh tangisannya. Lazar memeluk Rani dan setelah beberapa lama Rani mulai merasa tenang. “ok, kita akan coba, tapi aku gak bisa janjiin apa-apa sama kamu” jawab Lazar akhirnya.