
Ayu menyuguhkan kopi untuk Rani, mereka duduk di dalam. “aku daftar beasiswa” kata Rani. “oh, ya. Wah, terus gimana?” tanya Ayu. “ini baru selesai tes, lulus sih passing grade, tapi tunggu pengumuman resminya” jawab Rani. “wow, selamat ya. Ngambil yang dimana?” kata Ayu. “belum tahu, belum nentuin, lihat besok aja kalo udah resmi lulus semua tahapan seleksinya” jawab Rani. “luar negeri?” tanya Ayu. “iya, maunya ngambil yang di luar negeri sih” jawab Rani. “udah yakin mau keluar negeri?” tanya Ayu. “yakin gak yakin sih. Mau coba aja dulu” jawab Rani. “karena Lazar?” tanya Ayu menebak. “kok” jawab Rani sambil melihat ke arah Ayu dengan raut wajah kaget. Ayu kemudian tertawa, “ya gak pake kaget gitu dong” kata Ayu. “gak kok, emang dari dulu pengen lanjut kuliah kok” jawab Rani agak gugup. “oh” jawab Ayu. “kenapa kamu mikir gitu?” tanya Rani. “gak ada sih, nebak aja” jawab Ayu. “gak mungkin cuma nebak” kata Rani sangsi. “sesayang itu ya kamu sama dia” kata Ayu. “kok malah kesana sih bahasnya” jawab Rani tidak bisa menyembunyikan gugupnya. Ayu hanya tertawa melihat wajah Rani yang memerah. Ayu kemudian pergi ke kamar mandi masih dengan tawanya.
Setelah keluar dari kamar mandi Ayu memperhatikan Rani yang menunduk. “udah ah, jangan nangis” kata Ayu. Ayu hanya menebak karena Rani hanya menunduk, padahal Ayu tidak benar-benar melihat Rani yang memang sedang menangis atau tidak. Rani kemudian mengangkat kepalanya. “kok tahu sih aku nangis” kata Rani sambil memandang ke arah Ayu. “tu klihatan diatas kepalamu ada tulisan ‘jangan ganggu, Rani lagi nangis'" kata Ayu mencoba menghibur. “garing” Rani sambil tersenyum. “ya, jangan senyum dong kalo garing” jawab Ayu. “kamu tu ya, orang lagi nangis malah dikatain” kata Rani. Ayu hanya tertawa. “ya udah berhenti nangis makanya” kata Ayu. Ayu kemudian duduk disamping Rani. “dia bener-bener gak bisa ya belajar untuk suka sama aku” kata Rani lirih. “ya bisa aja sih, cuma kan gak bisa dipaksa” jawab Ayu sambil menyandarkan tubuhnya. “kamu gak bisa bantuin ya untuk ngomong ke dia” kata Rani. “bisa, tapi kalaupun aku ngomong ke dia emang bisa ngubah perasaannya dia?” jawab Ayu. “ya kamu coba yakinin dia gitu” kata Rani. “Ran, segimanapun aku yakinin dia kalau dari dia sendiri gak mau, ya tetep aja jadinya” jawab Ayu. Rani menangis semakin menjadi-jadi. Ayu membiarkannya, ia hanya memeluk Rani. “aku kok menyedihkan banget ya” kata Rani dalam tangisnya. “emang, baru sadar ya” jawab Ayu menggoda. “iiihhh” kata Rani sambil mendorong Ayu. “cup cup cup” kata Ayu sambil membelai rambut Rani. “iihh, apaan sih” kata Rani mengibaskan tangan Ayu. “sini sini aku peluk” kata Ayu semakin senang menggoda Rani. “udah ahh” kata Rani yang kemudian tangisnya mereda. “kamu tu sama aja kayak Lazar” lanjut Rani. “lah, emang aku kenapa kok disamain sama dia?” tanya Ayu. “sama-sama nyebelin” jawab Rani. “cari makan yuk, laper” kata Ayu. “masak aja yuk” ajak Rani. “emang kamu bisa masak?” tanya Ayu. “kan ada kamu” jawab Rani. “hahahahaha” Ayu tertawa didepan wajah Rani. “ya udah ayo belanja, cuci muka tapi dulu sana” kata Ayu. Rani kemudian masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.