
Rani duduk sambil menangis, ia sedang menunggu Sinta. Beberapa lama kemudian Sinta datang bersama Roki ke tempat yang sudah di beritahu oleh Rani. “kamu kenapa lagi?” tanya Sinta ketika ia sampai lalu menghampiri tempat duduk Rani. “Lazar” jawab Rani. “Lazar kenapa emang?” tanya Sinta masih belum mengerti. Roki yang melihat Rani menangis seperti itu menjadi geram sendiri. Rani menceritakan kepada Sinta dan Roki bahwa kemarin Rani tidak sengaja melihat Lazar dan Dita sedang berboncengan. Rani tidak tahu kemana mereka akan pergi, mereka terlihat begitu asik mengobrol diatas motor. Rani juga tidak mengerti kenapa sekarang dia menjadi pencemburu. Setelah sebelumnya Rani merasa sangat cemburu dengan kedekatan Lazar dan Ayu. Rani sadar bahwa Lazar memang belum benar-benar menyukainya dan belum menyatakan bahwa Lazar bersedia menjadi pacarnya.
“sabar ya” kata Sinta mencoba menenangkan. Roki kemudian berdiri, ia menghubungi seseorang. Setelah selesai menelepon, Roki pamit untuk pergi duluan. Rani dan Sinta hanya mengangguk. Sinta kemudian memesan minuman kepada pelayan. Sinta sangat perihatin melihat sahabatnya seperti ini. Sinta merasa harus menanyakannya kepada Lazar secara langsung. “aku gak tahu kenapa aku jadi kayak gini” kata Rani lirih. Sinta hanya menghembuskan nafas. Sinta juga sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi antara Lazar dan Rani.
Lazar tidak pulang ke rumahnya, ia justru ke kos-an Ayu. Ayu sedang menyapu ketika Lazar datang, dan Ayu kaget setelah melihat wajah Lazar yang lebam, dan tangan Lazar yang sedikit berdarah. “astaga, kamu kenapa?” kata Ayu yang langsung melepas sapu kemudian menghampiri Lazar. Ayu membantu Lazar duduk di teras depan kamarnya. Ayu kemudian mengambil kotak P3K dari dalam kamarnya. Lazar hanya diam, ia masih menahan sakit yang masih terasa di pelipis dan sudut bibirnya.