Maya

Maya
15



Hari-hari mereka diisi dengan kebersamaan, Lazar berusaha untuk meluangkan waktu lebih banyak bersama Rani. Lazar sadar bahwa ia belum benar-benar mencintai Rani, namun Lazar terus berusaha untuk bisa mencintai Rani. Sedangkan Rani merasa sangat bahagia dengan sikap Lazar kepadanya. Walaupun Lazar belum benar-benar mencintainya, tapi Rani sangat bahagia dengan perubahan sikap Lazar kepadanya. Rani berfikir semakin kesini, Lazar menjadi semakin perhatian dan bersikap manis padanya.


Setelah konsultasi skripsi dengan Dosen, Lazar dan Rani pergi untuk mencari makan. “mas, mie ayam bakso dua ya sama es jeruk dua” Rani memesan makanan kepada penjual. Setelah mendapat tempat duduk kosong, mereka berdua duduk berhadapan. Lazar memperhatikan wajah Rani, sedangkan Rani asik memainkan ponselnya. Ekor mata Rani menangkap mata Lazar yang sedang memandangnya. “eh, kenapa ngelihatinnya gitu banget?” tanya Rani salah tingkah. Lazar yang ketahuan sedang memandang wajah Rani mengalihkan pandangannya. “kamu cantik” celetuk Lazar. Wajah Rani menjadi memerah.


Pesanan mereka tiba, Lazar dan Rani langsung mulai makan, untuk menghilangkan rasa canggung yang mereka rasakan. “kok kita jadi agak canggung ya” kata Lazar tiba-tiba ketika mereka sedang menyantap makanan. Lazar tidak bisa menyembunyikannya dan dia tidak bisa memendamnya. “eh, nggak kok, biasa aja” jawab Rani. “ya gak tahu sih kamu ngerasa atau gak, tapi aku ngerasa kayak kita sekarang canggung banget” jawab Lazar. Rani menyadarinya dan dia juga merasakannya, tapi Rani tidak mau mengakuinya. Selesai makan mereka akan langsung pulang, mereka berjalan bersama menuju parkiran untuk mengambil motor mereka. Rani berjalan agak di belakang Lazar. Lazar menarik tangan Rani untuk mendekat dan membuat Rani berjalan disisinya. Rani yang kaget dengan perlakuan Lazar menjadi senyum-senyum sendiri dan merasa sangat bahagia.


Sesampainya diparkiran, mereka menghidupkan motor masing-masing. Lazar mengacak rambut Rani kemudian menyodorkan tangannya untuk disalami oleh Rani. Rani tersipu dengan perlakuan tersebut, ia kemudian menyalami Lazar kemudian menaruh tangan Lazar dikeningnya. “eh, kamu ni udah kayak salaman sama orang tua” kata Lazar kemudian menarik tangannya. “udah kebiasaan” jawab Rani sambil nyengir. Mereka akhirnya berangkat pulang.


Malam hari.


Setelah makan malam bersama keluarga, Rani dan Bu Mira duduk untuk menonton televisi. “gimana skripsimu” tanya Bu Mira. “lagi proposalan Ma, kalo bulan ini aku bisa ujian proposal, bulan depan aku udah bisa lanjut Bab 4” jawab Rani. “ya sudah, kerjain dengan serius, biar tahun ini kamu bisa lulus” jawab Bu Mira. “iya” jawab Rani sambil tersenyum ke arah Ibunya. “kamu kok kelihatan lagi senang sekali” kata Bu Mira. “gak kok Ma, biasa aja” jawab Rani nyengir. “pasti ada sesuatu ni, anak Mama lagi jatuh cinta kayaknya” goda Bu Mira. “Mama apaan sih” jawab Rani malu-malu. “sini, cerita ke Mama” kata Bu Mira sambil menarik anaknya untuk mendekat. “Rani pacaran sama Lazar” kata Rani kepada Bu Mira. “oh ya” jawab Bu Mira heran dan antusias. “bukannya kalian sahabatan” lanjut Bu Mira. Rani pun menceritakan semuanya pada Bu Mira. Bu Mira mendengarkan dengan baik cerita Rani, sesekali menimpali memberi saran dan masukan, tak lupa Bu Mira selalu mengingatkan Rani untuk tetap fokus mengerjakan skripsinya.