
Setelah menghabiskan makanan, Ayu kemudian menyuruh Lazar dan Rani duduk bersebelahan. “sekarang aku mau sidang kalian” kata Ayu. Lazar dan Rani terlihat heran. “biar semua jelas, aku gak mau masalah apapun diantara kalian yang bisa buat hubungan kalian berantakan” lanjut Ayu. “silahkan kalian ceritakan masalah kalian masing-masing” tambah Ayu. Lazar dan Rani masih terdiam keheranan melihat tingkah Ayu, tapi mereka pun berfikir bahwa apa yang dikatakan Ayu ada benarnya. Bahwa mereka bukan anak kecil lagi dan mereka harus bisa bersikap dewasa. “kalian tahu aku males bahas hal-hal yang seperti ini, tapi karena kalian berdua ada disini, jadi silahkan bicarakan kalau kalian merasa ada yang salah” sambung Ayu.
Rani akhirnya buka suara, ia memberitahu bahwa ia memang habis menangis dan alasan Rani menangis adalah karena Lazar. Lazar yang tidak mengerti kenapa dirinya dijadikan alasan oleh Rani sehingga ia menangis hanya bisa terdiam, mendengarkan, dan berfikir. Rani menceritakan bahwa ia juga pernah cemburu kepada Ayu ketika tidak sengaja melihat Lazar memeluk Ayu. “berarti mungkin gara-gara itu Roki pukul aku” kata Lazar. “kok bisa gitu?” tanya Ayu. “ya, karena Roki itu suka sama Rani” jawab Lazar. Ayu kemudian mengacak-acak rambutnya. “kok ribet sekali ya urusan perasaan ini” kata Ayu. “sekarang kamu” kata Ayu sambil menunjuk Lazar. “aku kenapa?” jawab Lazar dengan tampang tidak bersalah. “kamu mau tetep sama Rani atau mau ngejer Dita” kata Ayu blak-blakan. Lazar terdiam, karena ia sendiri pun tidak tahu siapa sebenarnya yang benar-benar membuatnya jatuh cinta. “kamu itu cowok, jangan plin plan dan jangan pernah coba nyakitin perasaan orang” kata Ayu karena Lazar tak kunjung menjawab.
Setelah berbicara dengan jujur Lazar dan Rani menjadi lebih memahami satu sama lain. Mereka berterima kasih kepada Ayu karena sudah membuat mereka bisa berbicara jujur terhadap satu sama lain. Beberapa lama kemudian Rani pamit untuk pulang terlebih dahulu. Lazar dan Ayu mengangguk. “kamu juga pulang sana” kata Ayu kepada Lazar. “ntaran ahh” jawab Lazar. “sana, sekalian temenin Rani pulang tu” lanjut Ayu sambil mendorong Lazar. “ngusir banget sih” jawab Lazar masih enggan untuk pulang. “iya, aku mau ngusir kamu, sanaa” jawab Ayu mendorong Lazar lebih kuat. Lazar hanya menghembuskan nafas kemudian menurut. Lazar dan Rani pulang berbarengan. Lazar menemani Rani sampai ke rumahnya. Rani menarwarkan Lazar untuk mampir, akan tetepi Lazar menolaknya karena luka di wajahnya masih terlihat dan Lazar juga ingin istirahat setelah beberapa kejadian yang menimpanya hari ini. Rani memakluminya, Lazar kemudian langsung pamit untuk pulang ke rumahnya.