
Lazar bangun ketika Bu Dian membangunkannya. “bangun, ini mau malem, Lazar” kata Bu Dian sambil menggoyang tubuh Lazar. Lazar membuka mata dan kaget ketika melihat jam, sudah pukul setengah 6 sore. “kamu udah ngapain sih? Capek banget kelihatannya sampe tidur sebegitu pulesnya” tanya Bu Dian. Lazar hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan Bu Dian. “mandi sana” kata Bu Dian yang kemudian keluar dari kamar Lazar. Lazar langsung menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, Lazar mengecek ponselnya dan melihat ada chat yang masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Lazar membuka chat tersebut kemudian melihat foto profil dari pengirim dan disana ada foto Dita. “hi, sibuk gak?” tulis Dita dalam chatnya. Lazar kemudian membalasnya. “sorry, baru lihat HP. Gak sibuk juga sih, kenapa?” balas Lazar. Beberapa lama kemudian Dita membalas. “jalan yuk” tulis Dita. “kemana?” balas Lazar. “ya kemana aja deh” balas Dita. “Ok. Nanti aku jemput kamu” balas Lazar. “Ok” balas Dita.
Lazar berangkat dari rumahnya menuju kos Dita. Sesampainya disana, Dita sudah menunggu. “langsung jalan?” tanya Lazar. “ya, emang mau ngapain?” tanya Dita balik. “ya gak sih, kirain kamu belum siep-siep” jawab Lazar. Dita hanya tersenyum kemudian langsung naik ke atas motor Lazar. “jadi kita kemana?” tanya Lazar setelah Dita naik. “kemana aja deh, aku juga gak tahu” jawab Dita. Lazar berfikir sejenak, kemana ia akan membawa Dita jalan-jalan. ‘ah, ntar deh, pikirin sambil jalan’ batin Lazar karena ia sendiri juga bingung jarus kemana karena Lazar memang jarang keluar jalan-jalan atau nongkrong seperti kebanyakan anak muda. Mereka pun berangkat tanpa tujuan. Beberapa menit setelah keluar dari kos-an Dita tiba-tiba ponsel Lazar berbunyi. Lazar langsung menepi untuk mengangkat telepon masuk. “halo” jawab Lazar setelah mengangkat telepon. “dimana?” tanya seseorang diseberang telepon. “jalan, kenapa?” tanya Lazar. “maen futsal yuk, ada temen ni yang ngajakin, nah saya disuruh ajak temen juga” jawab orang diseberang telepon. “jam?” tanya Lazar. “jam 8, di tempet biasa” jawab orang diseberang telepon. “saya usahain ya, ntar lihat” jawab Lazar. “ok. Usahain dateng, jangan usahain gak dateng” jawab orang diseberang sambil tertawa. “ok” jawab Lazar kemudian mematikan sambungan telepon. “kenapa?” tanya Dita. “diajakin maen futsal” jawab Lazar. “oh, ya udah, aku temenin” jawab Dita. “beneran?” tanya Lazar. “iya beneran, daripada bingung juga mau kemana kan” jawab Dita. “ok” jawab Lazar.
Lazar kemudian membawa Dita ke rumahnya karena ia harus mengambil baju olahraga dan sepatu futsalnya. Sesampainya di rumah Lazar mengajak Dita masuk dan menyuruhnya menunggu diruang tamu. “Ma, ada temenku ni aku ajak” teriak Lazar memanggil Bu Dian. Bu Dian yang mendengar Lazar memanggilnya langsung menghampiri Lazar ke ruang tamu. “tante, saya Dita” Dita mengenalkan diri sembari bersalaman dan mencium tangan Bu Dian. “oh, saya Dian. Panggil tante Dian aja” kata Bu Dian mengenalkan dirinya. “duduk aja dulu, tante buatin minum” lanjut Bu Dian. Dita kemudian duduk sedangkan Lazar langsung menuju kamarnya. Beberapa menit kemudian Bu Dian kembali dari dapur membawa teh kemudian duduk menemani Dita. Bersamaan dengan Lazar yang sudah mengambil pakaian dan sepatunya. “ini temannya Ayu juga Ma, mereka satu jurusan” kata Lazar kepada Bu Dian. “oh, temannya Ayu” jawab Bu Dian. “iya tante” jawab Dita. Setelah mengobrol beberapa hal Lazar kemudian pamit kepada Bu Dian untuk berangkat main futsal bersama teman-temannya. “pergi dulu Ma” kata Lazar. “mari tante” kata Dita. “iya, hati-hati ya” jawab Bu Dian.