
Setelah bercerita dan berbagi pengalaman, orang tua Sinta pamit untuk istirahat. Tinggalah mereka ber lima masih menikmati sisa malam.
Lazar mengambil gitar, mencoba mengisi suasana dengan mengajak teman-temannya bernyanyi. “mau lagu apa nih?” tanya Lazar kepada teman-temannya. “bebas” jawab Ayu. “lagu yang romantis dong” kata Rani. “ya lagu yang romantis itu lagu apa” jawab Lazar. “ini aja, lagunya Christina Perri” jawab Rani. Mereka pun bernyanyi bersama.
'Heart beats fast
Colors and promises
How be brave
How can i love when i’m afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt, suddenly goes away somehow
I have died everryday, waiting for you
Darling don’t be afraid, i have love you for a thousand years
I’ll you for a thousand more.'
“yeeeeeeeyyy” mereka bertepuk tangan dan bersorak setelah lagu selesai dimainkan. “eh, tapi bener juga yang dibilang sama orang tuaku tadi, kita harus mikirin dari sekarang kita mau ngapain setelah lulus kuliah” kata Sinta tiba-tiba. “ya udahlah, besok aja kita pikirin lagi, sekarang kita nikmatin dulu apa yang ada” jawab Lazar. “ya sih, tapi tumben-tumben Papa sama Mama aku cerita kayak gitu” jawab Sinta. “namanya juga orang tua, pastilah mau anak-anaknya dapet yang terbaik” jawab Roki. Malam semakin larut, mereka masih ingin berlama-lama di depan api unggun. Bercerita tentang diri mereka masing-masing. Apa yang mereka inginkan, itu masih samar-samar, mereka hanya bisa memikirkannya, sebab mereka belum berada di fase yang sudah di alami orang tua Sinta.
“aku istirahat duluan ya, capek banget rasanya” kata Sinta. “aku juga duluan ya” kata Roki. Setelah Sinta dan Roki pergi untuk istirahat, tersisalah mereka ber tiga. Rani bertanya kepada Ayu, darimana Ayu berasal, dan semua tentang Ayu. Begitupun Ayu juga bertanya kepada Sinta. Mereka mengobrol hingga malam benar-benar larut. Setelah mengobrol banyak dan malam semakin larut, Ayu pun pamit untuk istirahat.
“kamu gak istirahat” tanya Lazar kepada Rani. “ntar aja deh, masih belum ngantuk” jawab Rani. “ya udah, kalo gitu, sana buatin aku kopi” pinta Lazar. “yee, malah nyuruh-nyuruh” jawab Rani kesal. “ya biar ada kegiatan sambil nunggu ngantuk” jawab Lazar asal. “gimana mau ngantuk kalo minum kopi” jawab Rani. “ya udah sana” jawab Lazar tertawa. Rani pergi ke dapur untuk membuat kopi untuk Lazar dan membuat teh untuk dirinya. Sekembalinya Rani dari membuat minuman, Rani duduk di dekat Lazar. “eh, Ran, by the way siapa cowok yang kamu suka yang pernah kamu bilang dulu pas di kantin?” tanya Lazar tiba-tiba. “haa, ada deh pokoknya” jawab Rani gugup. “ceritalah, kamu ni sama temen sendiri kok gitu” jawab Lazar sambil mencubit hidung Rani. “yee sakit” jawab Rani sambil menarik tangan Lazar. “ya, makanya jawab” pinta Lazar. “emang kenapa sih, penasaran banget” jawab Rani. “ya gak, cuma pengen tahu aja, siapa tahu aku bisa bantu” jawab Lazar sambil tersenyum menggoda kepada Rani. Rani masih tidak bisa memberitahu Lazar bahwa cowok yang dia suka adalah Lazar. Apalagi setelah Rani tahu bahwa Lazar menyukai orang lain. “jawab dong, malah ngelamun” pinta Lazar sambil mengusap kepala Rani. Rani kaget dengan sikap Lazar yang tiba-tiba mengusap kepalanya membuatnya salah tingkah dan pipinya merah. Rani menunduk untuk menghindari tatapan Lazar. “hmm, ya udah yuk, kita istirahat aja, udah larut juga” Lazar mengajak Rani. Mereka pun pergi menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.