
Dua bulan kemudian.
Ayu sedang berada di sekolah untuk melakukan penelitian. Ponsel Ayu berdering, tapi Ayu tidak melihatnya karena Ayu membisukan ponselnya, Dia sedang serius mengajar di kelas untuk mendapatkan hasil penelitian yang bagus. Bel berbunyi menandakan jam pelajaran telah habis. Ayu menutup pembelajaran dan mempersilahkan murid-muridnya untuk pulang. Ayu sedang membereskan berkas materi pembelajarannya ketika Ayu melihat ponselnya terdapat pemberitahuan panggilan tak terjawab. Ayu langsung mengambil ponselnya kemudian membukanya. Betapa terkejutnya dia melihat 30 panggilan tak terjawab dari Pamannya dan sebuah pesan. Ayu membuka isi pesan tersebut, seketika kakinya terasa lemas, Ayu jatuh terduduk di kursi guru. Mata Ayu berkaca-kaca, kemudian air matanya pun jatuh. Beberapa menit kemudian Ayu tersadar dan langsung bergegas pulang.
Sepanjang perjalanan pulang Ayu terus berfikir kenapa cobaan datang disaat seperti ini. Ayu tidak pernah menyangka akan dihadapkan dengan cobaan seperti ini. Ayu tidak pergi ke rumahnya, Ia langsung menuju rumah sakit tempat Ibunya di rawat. Sesampainya di rumah sakit Ayu berlari menuju ruang perawatan Ibunya. Didepan ruang perawatan Ayu bertemu dengan Pamannya. “gimana keadaan Ibu?” tanya Ayu pada Pamannya. “masih kritis, sekarang masih diperiksa oleh Dokter” jawab Pamannya dengan lesu. Ayu duduk di lantai sambil menitikkan air mata.
Ibu Ayu hanya bertahan 3 hari. Pada hari ke tiga itu Ibu Ayu meninggal dunia. Ayu dan adiknya menangis sejadi-jadinya di samping jasad Ibu mereka. Petugas rumah sakit mempersiapkan mobil ambulance kemudian mengangkat jasad Ibu Ayu untuk dibawa pulang. Ayu, Mia, bersama Paman dan Bibinya mengikuti mobil ambulance menuju rumah Ayu. Hari itu juga Ibu Ayu langsung dimakamkan oleh warga. Setelah proses pemakaman selesai, Ayu dan Mia masih tinggal di tempat pemakaman, mereka duduk disamping pusara Ibu mereka. “Ayu belum sempat buat Ibu bangga, Ayu belum sempat bahagiain Ibu, Ayu bahkan belum sempat meminta maaf atas semua hal pada Ibu” kata Ayu lirih sambil memeluk Mia. “kenapa Ibu ninggalin kami secepat ini” lanjut Ayu menangis. Tiba-tiba ada yang memegang pundak Ayu. “yang sabar ya, Yu. Kamu kuat” kata Lazar. Ayu menoleh melihat siapa yang memegang pundaknya dan mengatakan hal itu. Ayu kaget ketika melihat Lazar berdiri dibelakangnya. “kok kamu bisa ada disini?” tanya Ayu kepada Lazar. “tiga hari ini aku hubungi kamu dan cari kamu ke kos, tapi kamu gak ada” jawab Lazar. “aku di kasi tahu sama Ibu kos kamu” lanjut Lazar. Lazar kemudian memeluk Ayu dan Mia. Setelah merasa lebih tenang Ayu melepas pelukannya. “adek siapa namanya” tanya Lazar kepada Mia. “Mia” jawab Mia. Mereka ber tiga akhirnya beranjak pulang ke rumah Ayu. “sini, kakak gendong” kata Lazar kepada Mia. “adek jangan sedih ya, Ibu udah tenang disana, jadi adek harus semangat” lanjut Lazar setelah Mia naik ke punggungnya. Ayu mulai bisa tersenyum melihat mereka. Sekarang hanya tinggal mereka berdua. Ayu dan Mia, dua bersaudara yang telah ditinggal oleh kedua orang tuanya.