Maya

Maya
23



Puas menikmati pemandangan Lazar dan Rani pun segera bersiap untuk pulang. Mereka berjalan bersisian, Lazar menggandeng tangan Rani. Rani yang kaget karena Lazar tiba-tiba menggandengnya menjadi tidak melihat jalan, kakinya tersandung akar pohon, hingga Rani jatuh. Lazar juga ikut tersungkur tapi tidak jatuh karena ia sedang memegang tangan Rani. “aduhhh” keluh Rani. “astaga, sini coba lihat” Lazar melihat kaki Rani setelah menyuruh Rani duduk dan membuka sepatu Rani. Lazar kemudian mengeluarkan balsem dari dalam tas nya. Lazar memang selalu membawa P3K didalam tasnya. Lazar mengoles balsem di kaki Rani yang terkilir sambil memijatnya. “kok bisa kamu kesandung?” tanya Lazar. “gak lihat jalan, jadi gak lihat ada akar pohon” jawab Rani.


Setelah merasa kakinya terasa membaik, Rani mencoba untuk kembali berjalan, mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Baru beberapa langkah Rani mengeluh karena kakinya terasa sakit lagi. Lazar menyuruhnya duduk untuk istirahat. Sudah satu jam dari mereka berangkat pulang dari air terjun tadi tapi mereka belum sampai ke tempat parkir. Setelah berfikir dan mengira-ngira Lazar akhirnya memutuskan untuk menggendong Rani. Lazar membungkuk kemudian menyuruh Rani naik ke punggungnya. “kamu ngapain?” tanya Rani. “udah ayo naik, masak mau diem disini” jawab Lazar. “aku berat lo” kata Rani. “gak apa-apa, dari pada kelamaan diem disini kan” jawab Lazar. Rani akhirnya naik ke punggung Lazar yang kemudian mencoba beridiri. “keberatan dosa dah kamu ni” celetuk Lazar ketika ia sudah berdiri. “yeeee, kamu tu, banyak dosa” jawab Rani. “makan apa sih, berat banget” kata Lazar lagi. “Cuma makan sate aja kan tadi” jawab Rani polos sambil cengengesan. Lazar hanya menghembuskan nafas. Lazar kemudian berjalan sambil menggendong Rani yang tersenym-senyum sendiri melihat perlakuan Lazar padanya.


Setelah bersusah payah dan Lazar penuh dengan keringat, mereka akhirnya sampai di parkiran. Lazar menurunkan Rani di salah satu warung yang dekat dengan tempat motornya parkir. Lazar kemudian memesan es kelapa kepada pemilik warung. “gimana kakimu?” tanya Lazar. “udah mendingan rasanya, tapi masih ada rasa ngilu-ngilu dikit” jawab Rani. “itu kakinya kenapa?” tanya pemilik warung ketika dia menyajikan es kelapa kepada Lazar dan Rani. “terkilir tadi Bu” jawab Lazar. “astaga, sini saya lihatin, mau di urut gak?” tanya pemilik warung. “Ibu bisa ngurut?” tanya Lazar balik. “ya bisa, orang-orang sini kebanyakan bisa ngurut” jawab Ibu pemilik warung. “ya udah, lihatin aja Bu, kasian ntar kalo tambah bengkat dan jadi parah” jawab Lazar. Ibu pemilik warung kemudian mengambil minyak dari dalam kolong gerobaknya, kemudian duduk didekat kaki Rani. Rani berteriak ketika Ibu pemilik warung memegang kakinya. “yaelah, belum aja di urut” kata Lazar. Kaki Rani merasa lebih enakan ketika selesai di urut. Lazar dan Rani mengucapkan terima kasih kepada Ibu tersebut. Setelah menghabiskan es kelapa dan membayarnya mereka akhirnya pamit untuk pulang kepada Ibu pemilik warung.