Maya

Maya
17



Seminggu kemudian Rani sudah menyelesaikan proposalnya. Hari ini Rani akan ujian proposal. Setelah menyiapkan kelengkapan bahan presentasi dan dokumen proposalnya Rani berangkat menuju kampus. Diruang tunggu sidang, sudah ada dua mahasiswa yang juga akan ujian proposal hari ini. Rani ikut duduk bersama mereka. Tak lama kemudian nama Rani di panggil karena ia memang mahasiswa pertama yang akan ujian hari ini. Rani langsung berbegas memasuki ruang sidang.


Setelah Rani masuk ke dalam ruang sidang, Sinta datang. ‘wah, berarti Rani udah diruang ujian kayaknya’ batin Sinta sesampainya didepan ruang sidang dan tidak melihat Rani disana. Sinta duduk dibangku kosong untuk menunggu. Sibuk memainkan ponselnya, Sinta tidak melihat Lazar datang. “hi, Sin” sapa Lazar ketika melihat Sinta. “hi” jawab Sinta mengalihkan wajahnya dari ponsel ke Lazar. “Rani udah di dalem?” tanya Lazar. “kayaknya gitu, soalnya pas aku nyampe tadi, aku gak lihat dia” jawab Sinta. Mereka duduk bersebelahan.


Satu jam kemudian Rani keluar dari ruang sidang dengan wajah sedikit kecewa. “kenapa?” tanya Sinta ketika melihat Rani keluar dari ruang sidang dan Sinta langsung menghampirinya. “lulus sih, tapi disuruh revisi sedikit” jawab Sinta kecewa. “ya udah gak apa-apa” jawab Sinta sambil memeluk Rani. “udah gak apa-apa yang penting udah ujian, tinggal revisi dikit dan tetep bisa lanjut bab 4 juga kan” kata Lazar sambil mengacak rambut Rani. Rani pun tersenyum.


Sinta mengajak Rani untuk pulang, karena ia harus mengerjakan skripsinya. Rani menyuruh Sinta untuk duluan pulang, karena ia mau ke perpustakaan. Sinta pamit kepada Rani untuk pulang. Setelah Sinta pergi, Rani ke parkiran untuk mengambil motornya kemudian pergi. 15 menit kemudian Rani tiba ditempat tujuannya. “permisi” kata Rani sambil mengetuk pintu. Ayu yang baru keluar dari kamar mandi langsung membuka pintu. “hi” sapa Rani. “Rani” jawab Ayu. “ayo masuk” Ayu mengajak Rani masuk ke kos-annya. “katanya hari ini kamu ujian, gimana?” tanya Ayu. “iya, udah selesai tadi, lulus tapi disuruh revisi bab 3 sedikit” jawab Rani. “maaf ya gak bisa kesana, aku baru bangun” jawab Ayu meminta maaf. Rani tersenyum untuk menanggapi Ayu.


Rani dan Ayu mengobrol tentang perkembangan skripsi masing-masing. Hingga Rani mulai bercerita kepada Ayu tentang Lazar. Ayu mendengarkan cerita Rani dengan baik. Setelah menceritakan semuanya kepada Ayu, tiba-tiba air mata Rani jatuh. “apa aku salah ya maksain semua ini” kata Rani lirih. “gak, gak ada yang salah. Kamu berhak atas apapun dan untuk apapun. Kamu udah berani menyatakan perasaanmu sama dia terlebih dahulu, dan itu keren. Walaupun gak semua hal harus sesuai, setidaknya kamu mencoba jujur, minimal jujur sama diri sendiri. Apapun yang kamu pilih, pertahanin, sampai kamu tiba dimana kamu ngerasa cukup. Jadi, menurutku kamu hanya terlalu khawatir, kamu mulai ragu sama perasaanmu sendiri, bukan perasaan Lazar. Ya udah, jangan dipikirin lagi ya, kamu sama Lazar akan sangat cocok kok” kata Ayu yang berusaha untuk meyakinkan Rani. “makasi ya” jawab Rani kemudian memeluk Ayu. “eh, eh, aku belum mandi” kata Ayu bergurau. “pantes bau” jawab Rani mulai tersenyum. “ya udah aku mandi dulu ya, tu ada cemilan, kalau mau buat teh atau kopi, buat sendiri ya” jawab Ayu sambil tertawa. “dasar” jawab Rani ikut tertawa dengan gurauan Ayu.