
Lazar sedang berada di kos temannya untuk mengambil barang pesanannya. Setelah menghabiskan kopi yang disediakan oleh temannya, Lazar pamit untuk pulang. Baru saja Lazar mengeluarkan motornya dari gerbang tak sengaja ia melihat lantai dua kos didepannya. Disana Lazar melihat Dita yang sedang duduk seperti sedang melamun. “Dita” panggil Lazar. Orang yang dipanggil kemudian menoleh ke sumber suara. Dita kaget melihat orang yang memanggilnya. “ngapain?” tanya Lazar. “eh, gak ada sih” jawab Dita sambil nyengir. “kamu ngapain disana?” tanya Dita. “abis ambil pesenan” jawab Lazar. “mampir sini” ajak Dita. “boleh emang?” tanya Lazar. Dita yang ditanya justru tertawa. “ya, boleh kok. Tunggu bentar” jawab Dita. Dita kemudian turun untuk membuka gerbang kemudian mempersilahkan Lazar untuk masuk.
Setelah Lazar memarkir motornya, Dita kemudia mengajaknya untuk naik ke lantai dua tempat kamar kosnya. “ngekos disini ternyata” kata Lazar. “iya, udah dari semester satu disini” jawab Dita. “wahh, betah ya” kata Lazar. “ya, mau gimana lagi, males juga mau cari tempet lain” jawab Dita. “kok kamu kelihatan kayak orang abis nangis” kata Lazar. “nggak kok” jawab Dita sambil tersenyum. Mereka duduk di teras depan kamar Dita. Mata Dita memang terlihat sembab dan dia memang habis menangis. “maaf ya, gak ada apa-apa di sini” kata Dita. “iya gak apa-apa” jawab Lazar. “terus kamu kalo makan, beli gitu?” tanya Lazar. “ya begitulah” jawab Dita. “gak boros emang?” Lanjut Lazar. “mau gimana lagi, tapi ya cukuplah, standar kok aku makannya” jawab Dita. Dita memang tergolong berasal dari keluarga yang berada, orang tuanya adalah seorang pengusaha.
Setelah mengobrol cukup lama membahas berbagai macam hal, Dita tiba-tiba kembali terlihat sedih, matanya berkaca-kaca. Lazar sempat menyinggung tentang pacar Dita ketika mereka mengobrol. “aku udah putus” kata Dita. “kok” hanya itu yang keluar dari dari mulut Lazar menanggapi perkataan Dita. “iya aku udah putus seminggu yang lalu” jawab Dita lebih detail. “kenapa?” tanya Lazar. “gak tahu juga, katanya, dia udah dijodohin sama orang tuanya” jawab Dita. “terus kamu terima gitu aja?” kata Lazar. “ya, mau gimana lagi, mungkin memang aku sama dia udah gak cocok juga” jawab Dita. “sabar ya” kata Lazar sambil memegang kepala Dita. Dita hanya menunduk menahan agar air matanya tidak jatuh.
“makasi ya” kata Dita ketika Lazar sudah kembali duduk disampingnya. “untuk?” tanya Lazar. “ya, karena udah dengerin aku curhat, udah ngehibur aku, dan udah ngajakin aku kesini” jawab Dita. Lazar hanya menganggukkan kepala dan tersenyum ke arah Dita. “ehh, ngomong-ngomong, kamu sama Rani gimana?” tanya Dita tiba-tiba. Lazar tertawa mendengar pertanyaan Dita. “aku sama Rani sebenernya belum bener-bener jadian, masih belum jelas aja” jawab Lazar sambil memandang ke lautan. “maksudnya?” tanya Dita penasaran. “yaaa, Dia bilang suka sama aku, terus aku jawab, jalanin aja dulu, karena aku gak bisa janjiin apa-apa sama dia” jawab Lazar. “ohhh” kata Dita sebagai tanggapan.