
setelah kepergian Dira.
"silahkan duduk dulu nak imam"kata mamy fana tersenyum,imam langsung menduduki kursi yang kosong.
"emang nak imam kapan bertemu pertama kali dengan Dira?"papi Indra membuka suara,sambil mengangkat gelas menuju kemulutnya
"ia ya..?secara kamu kan baru pulang dari London?"tambah mamy fana.
"kalau bertemu pertama dikampus Dira,ada hal yang ditugaskan papi,setelah tiga hari setelah pulang dari London om"kata imam sopan,sambil memelintir kan ujung jasnya untuk menutupi kegugupannya.
"kenapa jadi gugup gini sih"batin imam.
"OOO,,,kan mahasiswa banyak nya disana,kok bisa kebetulan bertemu Dira?"tanya mamy fana lagi.
"emm,,,mungkin jodoh om"ceplos imam"aduh,kok bisa jawab gitu"batin imam dalam hatinya.
papi dan mamy pun tersenyum,tanpa sepengetahuan imam mamy mengode papi lewat mata.
"maksudnya?"sambung papi.
"se...sebenarnya sa..saya ada perasaan nyaman sama Dira,istilahnya rasa suka"
"kok bisa nyimpul gitu,emang kamu udah nyakin?"tanya mamy fana.
"sa saya dulu juga pernah memiliki kekasih,jadi saya sudah nyakin pada hati saya saat ini,karna rasa ini berbeda disaat saya dengan kekasihnya saya dulu,saya merasa lebih nyaman sama Dira"terang imam panjang.
"jadi kamu sudah suka sama anak om dari perjumpaan kalian pertama kali"tanya om Indra.
"awalnya saya jengkel sama Dira,Dira yang menabrak saya tapi dira nyuruh saya minta maaf sama tembok,dan Dira selalu membantah setiap perkataan saya,"cerita imam jujur.
hahaha tawa mamy dan papi sedikit tertahan.
"tapi... padahal dari ketemu hari itu saya selalu terbayang terus tingkah Dira"jujur imam lagi,sedangkan mami fana dan papi Indra hanya mendengar.
"jadi sekarang kamu nyakin kamu cinta sama anak saya?"tanya Indra
"ia om"sambil mengangguk.
"gini nak imam,,, bukannya kami tidak merestui imam sama Dira,tapi Dira sudah kami jodohkan"
"prank"suara gelas jatuh dibelakang pintu.
imam,Indra dan fana bangkit dari duduk ya melihat dibalik pintu.
"yaampun sayang...kok bisa jatuh,ada luka ngak?"khawatir mamy fana sambil mendekati Dira yang lagi memunguti gelas yang pecah.
"ngak apa apa my,Dira bisa"jawab Dira tanpa melihat kearah mamynya.
"panggil bibik aja,kamu bersihin tangan kamu aja"membantu Dira berdiri.
mamy hendak kembali ketempat imam dan papi Indra.
"my,"Dira menahan tangan mamy fana.
""emm"gumam mamy.
"apa benar yang mamy bilang tadi?"tanya Dira sambil menatap wajah mamynya.
"emm...
ia dong,maafnya sayang,kamu ngak usah mikirin apa apa,kami ingin yang terbaik buat kamu"kata mamy tersenyum sambil membelai kepala Dira dan berlalu meninggalkan Dira.
Dira kembali kekamarnya merebahkan tubuhnya di kasur empuknya menatap langit langit kamarnya.
tiba tiba hpnya berdering.
dreettttt drettt
Dira terbelalak disaat melihat nama penelfon.
"hahh,kapan aku mengubah namanya?"
Dira pun menekan tanda hijau dan meletakkan ketelinganya,tanpa mengatakan apapun.
"halo sayang"suara diseberang.
Dira menelan ludahnya dengan kasar.
"kok diam?"karna tiada jawaban dari seberang,imampun mematikan hpnya.
"dimatiin"Dira memandang layar hpnya yang gelap.
tiba tiba hp Dira bercahaya lagi menampilkan nama penelfon tapi kali ini dengan cara Vidio.dira melihat tampilannya di kaca besar kamarnya,merapikan rambut nya dengan jari dan menepuk nepuk mukanya cepat,setelah dirasa siap mengambil hpnya,
Dira langsung menggeser layar ponselnya,dan langsung munculah seorang pria yang akhir akhir ini mengacaukan pikiran nya.
dengan jantung ya dag Dig dug
"hai sayang..."kata imam dengan senyum manisnya sehingga memperlihatkan kedua sumur dikedua pipinya.
"se sejak kapan?"tanya Dira yang kedua pipinya sudah memerah.
"maksudnya?"tanya imam seolah tak mengerti dengan pertanyaan Dira.
"itu... sayang"sambil memalingkan wajahnya.
"OOO...mulai hari ini"jawab imam tanpa beralih menatap layar hpnya.
"mas tau kamu juga suka sama mas,mas bisa mendengar suara jantungmu disaat dengan mas"kata imam yang sudah membalikkan panggilan untuknya.
"apa sekeras itu bunyinya?"batin Dira.
"gimana?..."tanya imam.
"gi gimana apanya?"
"walaupun kamu sudah dijodohkan,mas akan memperjuangkan kamu sayang,kamu mau kan?kita berusaha sama sama ok?"harap imam.
"tapi aku ngak mau nyakitin hati mamy"kata Dira sedih.
"OOO..berarti kamu akan mau bila perjodohan mu itu berjalan,apa kamu sudah bertemu dengan orangnya,apa dia membuat dirimu nyaman,apakah jantungmu berdetak,atau dia lebih tampan dariku,apa kau tidak berpikir tentang kebahagiaan mu sendiri?"imam marah,sedangkan Dira sudah tak bisa membendung lagi air y mengalir dari kedua matanya.
"aku tidak tau"jawab Dira terisak.
"apa kau menangis?maaf bukan maksud ku begitu,mas hanya ingin kita berjuang bersama sama."kata imam yang sudah melembutkan suara nya lagi.
"kamu benar suka sama saya?"tanya Dira masih tak percaya.
"apa perlu mas datang kerumah mu lagi?"tanya imam,Dira pun tak menjawab.
dan tiba tiba pintu kamar Dira diketuk.
"sayang...mari makan malam,papi sama kakak udah nunggu"suara mamy fana didepan pintu kamar Dira,pintu kamar Dira dikunci dari Dira masuk kamar tadi.
"iya my"jawab Dira singkat,jujur Dira kecewa pada mamynya,tapi boleh dikata.
Dira kembali melihat ponselnya yang masih terhubung Vidio.
"yasudah makan dulu sana,mas juga mau turun,makan yang banyaknya?"kata imam,sedangkan Dira hanya mendengar saja.
"by sayang...jangan kangennya"Sambil tersenyum jail.
senyum Dira pun lepas mendengar kata kata imam,dan imam pun mematikan hpnya.
Dira langsung keluar dari kamar menuju makan malam.