
pak Yanto menangkap senyum imam,dia merasa aneh.
"pak, kalau begitu saya antar saja"kata pak Yanto dengan hati hati.sedangkan imam masih dalam senyumnya.
"pak"sambil menyentuh pundak imam.imampun tersadar.
"em,ia pak"sedikit kaget.
"saya antar saja bapak kekelas pak."tawar pak Yanto lagi.
"tidak usah pak Yanto,saya sudah dijemput"menunjuk ke arah Dira yang sudah dekat.
"oh, kalau begitu saya kedalam dulunya"pamit pak Yanto meninggalkan imam,tak lama setelah kepergian pak Yanto Dira pun telah sampai.
"mari pak,,,"kata sambil tersenyum sedikit terpaksa, melangkah lagi dengan cepat, melihat Dira melangkah sangat cepat,imam pun berinisiatif mensejajarkan langkah mengikuti Dira, sehingga mereka berdampingan.
"bapak jangan dekat-dekat"protes Dira.
"salah siapa,kamu mau ninggalin saya"
"bukan ninggalin,kan bapak bisa ngikutin saya masuk ke kelas,saya yang didepan."
"kamu ngak pernah belajarnya,"? tanya imam.
"belajar apa?"
"kamu pernah liat ngak pak presiden jauh ditinggal sama bodigadnya, mereka akan berada didekat pak presiden untuk menuntun arah yang harus kemana saja pak presiden lewati."
"emang bapak hari ini jadi presiden"?potong Dira.
"ya bukan gitu maksudnya,kamu harusnya itu".
"itu pak kelasnya,pintu yang kedua dari sini"Dira menghentikan langkahnya.
"yaudah ayok masuk,ngapain kamu berdiri disitu"?
"maaf pak,bapak aja yang duluan masuk,saya,,,saya mau ketoilet dulu.".Dira hendak berbalik meninggalkan imam.
"walaupun kamu sudah dapat tanda tangan,tapi saya tidak akan memberikan nilai kepadamu ya kalau kamu tidak masuk kelas saya."ancam imam.
"saya tau kamu tidak mau masuk bareng sayakan"
"apa masalahnya, bapak kalau mau masuk, masuk aja"
"susah saya ngomong sama kamu"
Dira mengambil langkah besar, istilah nya berlari meninggalkan imam,dia langsung masuk dan duduk ditempatnya,dengan nafas yang ngos ngosan.
"kenapa lo,dikejar pocong,tadi kemana lo,kok ngilang,pas balik,udah kanyak dikejar pengemar aja lo "?tanya Lia disaat Dira sampai disampingnya.
"bukan,gue..."lagi Dira mau lanjutin,imam sudah masuk,dan langsung menyapa.
"siang semua,kita jumpa lagi"melirik kearah Dira.
jadi kumpulin semua yang harus saya tanda tangan"mengarah kemeja tempat duduk dosen.
para mahasiswa pun maju satu persatu, yang anehnya bukan tanda tangan yang imam beri melainkan stempel perusahaannya.
"lah,pak kok stempel,bukannya tanda tangan nya bapaknya?"pas yang maju pertama sikaira.
"yang saya beri tanda tangan,yang mau menemui saya,bukan saya yang menemui."jawab imam tegas.
kaira terlihat kecewa,dia langsung kembali ke kursinya.
dan terus berlanjut hingga tinggal Dira dan sahabatnya, mereka maju hanya menyerahkan kertas mereka saja yang sudah ditanda tangani oleh imam.
"berarti benar dong mereka sudah dapat tanda tangannya pak imam,kok bisa"bisik kaira pada teman nya yang lain,termasuk si angel.
"ok semua selesai,nanti nilainya saya kirim ke pak Yanto."kata imam langsung bangkit keluar dari kelas Dira.
setelah kepergian imam kelas menjadi sangat riuh,terutama kelompok kaira.
"OOO,,, jadi benar kalian udah dapat tanda tangan, kok bisa pasti kalian ngikutin pak imam,kalian kan kelompok anak brandal,bawa motor ugal ugalan dijalan,eh Lia,Lo gue laporin papa,semua kelakuan Lo,mending Lo jauh jauh sama mereka"kata kaira menjelek jelekan temen Lia.
"stop deh kai,selama ini ngak capek apa Lo jadi penguntit kegiatan gue sama temen temen gue,anak sama ibu sama saja,tukang ngadu,kalian yang buat salah gue yang Lo tunjuk,asal kamu tau papa sudah tau kalau gue kemana kemana bereng mereka"?
tak banyak yang tau,kalau Lia dan kaira itu saudara tiri,semenjak papa Lia menikahi mamanya kaira hidup Lia sudah seperti kisah ibu tiri yang menyiksa anak tirinya,bukan menjadi ibu pengganti yang baik,padahal itu tujuan utama papanya Lia menikahi mamanya kaira,dia berpikir ada kaira yang akan menjadi temannya Lia,Lia adalah anak tunggal,tapi semua Tak sesuai keinginan Lia dan papanya,dan papa Lia tau atas kelakuan kaira dan ibunya terhadap lia,cuman papanya Lia menunggu janji yang kata kaira dan ibunya akan berubah.