Last Taste

Last Taste
BAB 9. Menulis Puisi



"Mana mungkin aku menjauh kalau ragaku masih ingin bersanding di sampingmu?"


- Last Taste -


***


Keesokan harinya, sore hari setelah pulang sekolah, Raffi mengantar Renata untuk membeli notebook di sebuah Gramedia kota. Mereka masih berseragam namun atasannya memakai sweater masing-masing, untuk menutupi atribut sekolahnya.


"Pilih deh, gue yang bayar," kata Raffi dengan mengibaskan rambutnya.


Renata mendelik, "Lo kira gue ngga punya duit?" tanyanya sambil memilih beberapa notebook lucu-lucu di sana.


"Sebenarnya gue juga punya notebook, tapi gue bosen liat covernya yang gitu-gitu mulu." lanjut Renata.


"Harusnya foto muka gue di jadiin cover ya? Biar lo semangat setiap liat notebook itu," canda Raffi menahan tawanya melihat ekspresi Renata mulai sangar.


"Diem lo,"


Renata melanjutkan pencairannya memilih notebook. Rencananya, notebook itu akan ia pakai untuk menulis puisi dari tantangan Raffi. Sedangkan Raffi sibuk melihat-lihat buku puisi karya orang-orang hebat di sana.


Selang beberapa menit kemudian, Renata membawa notebook pilihannya ke kasir. Meninggalkan Raffi yang masih berada di rak buku puisi.


"Ini saja, Mbak?" tanya sang penjaga kasir tersenyum ramah. Renata mengangguk, membalas senyumnya. Ia mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.


"Satuin, Mbak, sama yang ini." Raffi langsung menyerahkan buku pilihannya ke meja kasir.


"Gue aja yang bayar," bisiknya pada Renata.


"Udah gue aja." Renata mengelak.


"Gue." Raffi segera mengambil plastik putih berisi pembeliannya, kemudian memberikan uang ratusan dua lembar kepada kasir.


"Terimakasih, Mas." kata sang kasir menerima.


Renata menghela nafas kemudian menyusul Raffi yang sudah berlalu pergi.


***


"Lo tahu kenapa gue suka puisi?" tanya Raffi sambil sesekali menyomot kentang goreng pesanannya bersama Renata.


Kini sudah pukul 17.30 WIB dan mereka masih berada di salah satu kafe pinggir jalanan. Hanya memesan dua cup kopi panas dan kentang goreng.


Di luar sana langit sudah gelap namun mereka masih enjoy saja belum ada yang mengajak pulang.


"Karena lo suka ngayal, lo bucin dan makanya lo mellow banget jadi orang." jawab Renata langsung. Pertanyaan itu begitu mudah untuk ia jawab.


Raffi tertawa, ia gemas sekali dengan gadis di depannya itu. "Dasar ya lo, kalo ngomong emang ngga pernah di saring dulu." katanya.


"Bener, kan?" Renata memastikan. Ia menyeruput kopi hangatnya seraya menikmati semilir angin sore menerpa wajahnya. Meskipun mereka sudah berada di dalam kafe, namun sesekali angin masuk lewat pintu dan menampakkan pembeli baru.


"Salah. Lo pikir gue bucin banget ya? Kayaknya ngga deh,"


"Iya, parah. Lo bucin, lo mellow." Renata kekeuh.


"Sejak kapan gue nangis di depan lo? Emang pernah? Sampe lo manggil gue mellow?"


Renata nyengir. Raffi tidak pernah menampakkan wajah marah apalagi tampang sedih kepadanya.


"Yeh, siluman." Raffi sontak melempar satu kentang goreng ke arah Renata. Tawanya terdengar.


"Terus jawaban lo apa?" tanya Renata mengambil kentang itu dan melemparkannya kembali ke arah Raffi.


"Ya gue suka puisi karena gue cinta sastra. Dari kecil gue udah sering nulis-nulis puisi dan itu di ajarin sama bokap gue, dia lulusan S2 sastrawan. Mantep, kan?" Raffi membanggakan. Ia kembali terbayang bagaimana saat ayahnya wisuda, bersalaman dengan dosen dan menjadi mahasiswa terbaik kala itu ketika Ayahnya menceritakan.


"Ya baguslah. Tapi menurut gue, kimia jauh lebih mengesankan. Kimia itu bukan suatu pelajaran yang cuma bermodalkan materi, apalagi mengkhayal. Ah ngga ada kaya gitu," kata Renata membalas.


"Kenapa?" tanya Raffi.


"Karena setiap materi yang di bahas, pasti ada uji di laboratorium. Kita bakal belajar meneliti dengan menggunakan hipotesis atau dugaan sementara, sampai ketemu kebenarannya."


"Iya juga sih. Tapi bodo amatlah, ngga ngerti gue."


Renata tertawa. "Iya santai aja. Setiap orang itu ada pada bakatnya masing-masing. Kalo lo ngerasa bakat lo ada di Sastra, lanjutkan!" Renata tersenyum dengan semanis mungkin. Jarang sekali gadis itu seperti ini. Memberi wejangan dan terbuka diri.


Raffi membalas senyumnya. "Oke, jadi tantangan puisi buat lo, mulai dari sekarang ya?" Raffi memastikan, Renata mengangguk.


"Tapi kasih gue tips dan trik nya biar gue lebih gampang bikin puisi kaya lo," Renata mengambil buku dari dalam tasnya, bersiap mencatat apa yang Raffi katakan nanti.


"Kalo menurut gue, ketika bikin puisi itu kita harus galau dulu," Raffi memulai.


Renata mendelik, "Heh gue ngga mau galau-galauan, cebong!" katanya. Kegalakannya mulai tumbuh.


Renata berdehem, namun ia tak lupa mencatat itu.


"Lo pilih satu kata yang nantinya kata itu bakal di olah menjadi beberapa kalimat dalam 8 baris."


"Emang puisi harus ada 8 baris ya?" tanya Renata.


"Ya ngga sih. Tergantung penulisnya aja. Tapi kalo gue sih paling banyak sampe 12 baris."


"Oke, lanjut."


"Oke. Tadi yang pertama kan lo harus galau. Maksudnya, apa yang lo rasa, lo tuangkan aja dalam bentuk tulisan. Kedua, lo cari kata yang sangat menyentuh untuk di olah menjadi beberapa kalimat,"


Raffi menarik nafas, menatap Renata yang sibuk mencatat.


"Terus abis itu, lo sambungkan kata tadi sampai ke baris terakhir. Intinya, inspirasi itu ngga harus keluar rumah untuk melihat dunia baru. Tapi, lo cukup lihat langit atau malam yang bisa lo jadikan sebagai inti dari puisi lo." jelas Raffi.


Renata mengangguk mengerti. Ia menaruh pena nya setelah mencatat apa yang Raffi katakan tadi.


"Atau, lo juga bisa menjadikan seseorang sebagai inspirasi dari puisi lo."


"Gitu ya. Coba sekarang gue tantang lo bikin satu bait puisi tapi secara lisan." Renata mengambil kentang goreng dan kembali mengunyahnya. Rintik hujan di luar sudah mulai membasahi jalanan dan itu belum mereka sadari.


"Siapa takut." Balasnya bersemangat. Raffi terdiam sejenak untuk berfikir dan mencari kata yang akan ia olah menjadi beberapa kalimat.


" Kau bagai senyuman langit


Menawan dan menarik


Indahnya melebihi putri raja


Yang selalu berdiam di atas singgasana "


"Wow mantap!!" Renata menepukkan tangannya. Lelaki itu bisa langsung membuat satu bait puisi dalam waktu tak lebih dari tiga detik.


"Lo beruntung punya Ayah yang mau berbagi ilmu ke anaknya. Dan lo, jangan sampai ngecewain dia, Raf." kata Renata melanjutkan.


"Siap, bos. Oke lo mau pesan apa lagi?" tanya Raffi menawarkan.


"Udah ah. Eh gue baru sadar di luar hujan," Renata nyengir tak berdosa.


Raffi ikut tertawa pelan, "Sama, gue juga. Yaudah lo abisin itu makanannya, biar gemuk."


"Lo suka cewek gemuk?" Tanya Renata heran.


"Ga masalah sih bagi gue. Justru yang gemuk lah yang bikin gue suka." Balasnya kemudian menyeruput kopinya yang terakhir.


"Suka apanya?" Renata semakin penasaran.


"Kan ya gituuu, masa lo ga ngerti sih. Lo polos atau **** sih?"


PLUK


Renata melemparkan kentang goreng ke wajah Raffi. Bagaimana bisa otak lelaki itu mendadak mesum.


"Apaan si lo. Kebiasaan banget zholimin gue."


"Lo omes banget sih."


"Omes apanya? Emang lo kira yang gue maksud itu apa? Bodi sexi nya?" Raffi mulai ngegas.


"Terus?"


"Bukanlah. Gue suka cewek gemuk karena berarti dia sehat. Dia pinter jaga pola makan. Jadi kan dia bisa ngingetin gue tiap waktu buat makan."


"Oh gitu." Renata terkikik geli.


"Ya meskipun sexi di atas segalanya."


"TUHKAN LO OMES BANGET ASTAGHFIRULLAH!"


"Gaada cowok yang ga omes, Ren." balas Raffi terkekeh. Renata menahan amarah sekaligus tawanya.


"Yaudah lah ngapain juga bahas kaya gitu. Lo sendiri aja pas pasan. Rata lagi gaada yang bikin gue tertarik."


Renata melongo tak percaya.


"NGOMONG APA LO BARUSAN?"


BERSAMBUNG~