
"Lo udah dapet kartu belum?" tanya Raffi ketika mendapati Renata yang baru saja datang memasuki gerbang.
Sejak pukul 6 pagi, Raffi sudah menanti kedatangan gadis itu di ambang pintu gerbang sekolahnya. Hari ini ujian sekolah akan di laksanakan pukul 7.30 WIB.
Renata mengernyitkan dahinya, "Lo tumben banget udah ada di sini." katanya heran. Kakinya tetap melangkah membiarkan Raffi mengejarnya di belakang.
"Eh gue BT banget di rumah. Tadinya mau jemput lo tapi gue males nunggu, pasti lo make up nya lama banget, sejam ya?" Raffi terkekeh. Pagi-pagi seperti ini lelaki itu sudah menggoda Renata. Memancing keributan saja.
"Berisik. Gue mau ambil kartu di Hendar. Lo tahu dia di mana?" tanya Renata, menatap Raffi yang sudah berada di sampingnya.
Raffi merogoh saku celananya, menunjukkan satu lembar kartu ujian sekolah milik Renata.
"Punya lo?"
"Thanks." Renata merubah ekspresi wajahnya menjadi kesal. Raffi dengan tawanya mengangkat kartu itu ke atas yang tak bisa di jangkau oleh Renata. Tinggi badan Raffi sekitar 175 cm sedangkan Renata hanya mencapai sebahu nya.
"Sini gak!" Renata meninju perut lelaki itu, Raffi malah berlari menjauh bersama tawanya.
"Ya Allah pagi-pagi udah nguras tenaga aja," Renata mencoba bersabar. Ia tidak mau energinya habis untuk meladeni Raffi, sehingga nantinya malas mengerjakan soal ujian.
***
Raffi memasuki kelas yang akan menjadi ruangan ujiannya selama seminggu ini. Ia satu ruangan lagi bersama Renata, bahkan tempat duduknya saja berhadapan. Raffi duduk di depan Renata sesuai abjad absennya. XI IPA 2 di satukan dengan kelas X IPS 1.
Seisi kelas sudah ramai. Sayangnya, Hendar dan Derry ada di ruangan sebelah sehingga ia tidak bisa berulah lagi seperti biasa.
"Kak Raffi, sekarang kan ada pelajaran bahasa Indonesia, nanti kalau aku ngga bisa ngisi soalnya, bantuin ya?" kata gadis mungil yang ternyata duduk bersamanya.
Raffi terdiam sebentar, memeriksa nama dan kelasnya yang sudah tertempel di meja itu. Setelahnya, ia menghela nafas. Sebangku lagi dengan perempuan.
Dulu, sewaktu Raffi masih kelas X, dia duduk bersama kakak kelas XII IPA yang dikit-dikit meminta bantuannya. Padahal harusnya sebagai kakak kelas, dialah yang membantu adik kelasnya. Ya kan? Sekarang sih dia sudah lulus.
Raffi meringis. Ia jadi trauma kalo misalkan adik kelasnya itu terlalu sering meminta bantuannya. Jujur saja, itu sangat mengganggunya.
"Boleh kan?" gadis itu berucap lagi.
Gisella Friananda. Raffi membaca nametag nya.
Baru saja Raffi hendak menjawab, Renata datang dengan menjewer telinganya. Raffi meringis dengan berteriak.
"Siniin kartu gue!" katanya paksa.
Seisi kelas fokus kepada Raffi dan Renata. Termasuk anak XI IPA 2 yang absennya dari huruf N-Z. Mereka tertawa menyaksikan Raffi meminta ampun sedangkan Renata tetap menjewernya.
"Ampun, Ren. Ini gue balikin. Lo lepas dulu tangannya." katanya memelas. Wajahnya sudah memerah padam. Menahan sakit dan marahnya.
Renata melepaskan tangannya. "Makanya lo jangan main-main sama gue,"
Raffi menatap Renata sebal, "Nih." katanya menyerahkan kartu itu dari saku celananya.
Renata mengambilnya kemudian duduk di bangkunya tanpa mengucapkan terima kasih. Gadis itu belum di ketahui duduk bersama siapa, Raffi sendiri belum mengecek nama kelas X yang sudah tertempel di mejanya.
Beberapa detik setelahnya, bel berbunyi menandakan mata pelajaran pertama yang di ujikan akan di mulai. Siswa/i yang masih berada di luar kelas, mengobrol sana-sini, atau yang masih nongkrong di kantin, langsung bergegas masuk ke ruangannya masing-masing ketika beberapa guru yang di tugaskan untuk mengawas keluar dari dalam kantor.
Renata rupanya duduk bersama seorang gadis. Syukurlah. Raffi terkekeh dalam hatinya.
***
"Jadwal kimia ada di hari apa sih?" tanya Firda seraya mengaduk es teh manisnya. Matanya fokus menatap seantero kantin yang di padati teman-temannya seperti biasa.
Mereka berlalu lalang keluar masuk kantin. Bising sekali. Apalagi ada senior kelas XII yang tengah bernyanyi tidak enak di ujung sana.
Beberapa siswa kelas IPS dan IPA, pentolan sekolah yang selalu membuat suasana kantin berisik. Namun juga menjadi asik dan terhibur seperti Jeslyn, Dani, Haikal, Beni dan..
Ah tidak!
"Raffi, Ren!" Firda menganga tak percaya. Ia mendapati Raffi bergabung dengan kelas XII itu. Di sana ada juga Hendar, Derry dan Ryan.
Renata sontak mengalihkan pandangannya. Raffi tengah memainkan gitar sementara yang lainnya mengiringi dengan lagu dangdut.
Sekumpulan lelaki itu masih menghibur penghuni kantin. Setidaknya, mereka kembali membuat fresh otak teman-temannya yang beberapa menit lalu sangat ngebul mengerjakan soal PAI.
"*Biasanya tak pakai minyak wangi..
Biasanya tak seperti itu..
Saya curiga.. Saya cemburu..
Takutnya ada main di sana..
Somali lali.. Ola olala* .. "
Penghuni kantin sontak tertawa melihat tingkah Hendar dan Derry yang bernyanyi dengan sangat menghayati.
"Ganti coi, lagu lain ah jangan dangdut." Ryan mulai request.
Raffi berhenti memetik senar gitarnya. Mencari lagu yang ia hafal kunci-kunci gitarnya.
Jreng..
"*Tak bisa ku lupa..
Saat-saat indah bersamamu..
Semua cerita.. Kini semua hanya tinggal kenangan*.."
Raffi memulai dari awal, kemudian di lanjutkan oleh yang lainnya. Suasana kantin semakin berisik ketika Raffi menyanyikan beberapa baris lirik lagunya.
"Mulai deh, pindah yuk, Ren." kata Firda mulai terganggu. Renata sedikit terkejut karena sedari tadi ia juga larut memerhatikan Raffi.
Entahlah, padahal Renata sendiri kurang suka berada di tempat keramaian. Namun kali ini rasanya berbeda.
"Eh sebentar, tadi lo nanyain jadwal kimia ada di hari apa, kan?" tanya Renata memastikan.
Firda mengangguk. "Iya, gue mau belajar sama lo. Boleh?" tanyanya seraya berdiri, membenarkan seragamnya yang sedikit berantakan.
"Hari Rabu, Fir. Ya udah nanti besok balik sekolah, lo ke rumah gue aja." balas Renata. Ia ikut beranjak bangun kemudian berjalan di samping Firda. Sebisa mungkin, jangan sampai Firda curiga dan tahu kalau tadi ia sempat memerhatikan Raffi.
"Siap. Eh, Ren, Ryan udah ngehubungin lo belum?" tanya Firda.
Pertanyaan itu membuat alis Renata mengernyit. Ryan?
"Emang kenapa?"
"Lo tahu? Beberapa hari setelah dia ngajak lo balik bareng, dia minta nomor lo ke gue." jelas Firda. "Gue baru inget makanya baru sempet bilang," lanjutnya dengan cengiran.
Ryan? Meminta nomor ponselnya? Untuk apa?
"Kayaknya dia beneran naksir sama lo. Lo mau bales perasaan dia?" tanya Firda.
"Apasih, Fir. Gue ngga suka sama dia. Kenal juga cuma sebatas nama." balas Renata.
"Nanti kalo misalkan dia minta nomor lo lagi, gimana?" tanyanya lagi. Kini mereka sudah menaiki tangga untuk menuju ruangan ujiannya.
"Jangan di kasih." jawab Renata cuek. Ia malas sekali menerima orang baru di kehidupannya.
"Oh.. Nunggu dia minta langsung sama lo?" tebak Firda terkekeh.
"Ya ngga lah. Apaan coba."
"Atau lo lagi suka sama yang lain? Raffi gitu?"
Renata terdiam. Membisu dengan segala perasaannya.
Bersambung~
Jangan lupa Like, Komen dan Vote ok!!🥰