
"Kamu menemani ketika aku ingin sendiri. Dan aku mencari ketika kamu sudah pergi."
- Last Taste -
***
Renata menatap dirinya di depan cermin besar. Beberapa menit lalu ia baru saja selesai mandi dan duduk menghadap meja riasnya.
Gadis itu jarang sekali duduk di sini untuk merias wajah seperti wanita pada umumnya. Maka tidak heran jika saat ini, Renata masih menatap nanar peralatan make-up yang ia punya.
Renata larut mengingat kedatangan Raffi beberapa jam lalu, lelaki itu datang ke rumahnya di waktu yang tidak tepat. Pasalnya, sore tadi Renata baru saja menangis dan bercerita sendiri layaknya orang yang terluka karena kehilangan.
Ia tiba-tiba merindukan Raffi yang sudah tidak sekonyol dulu. Raffi yang tidak lagi mengganggunya, membuatnya marah, dan bertindak untuk menzholiminya lagi. Raffi yang sekarang sudah berubah tanpa Renata tahu alasannya.
Tanpa sadar, air mata sialan itu kembali menetes membasahi pipi kirinya. Renata langsung menghapusnya dengan kasar. Tidak! Ia tidak boleh lemah!
"Ya Tuhan. Gue kangen." lirihnya tidak bisa membohongi.
Ingin rasanya Renata mengobrol berdua dengan Raffi. Membahas sikap lelaki itu yang sudah hampir sebulan ini menghindar darinya. Namun Raffi masih tetap mematikan ponselnya sehingga nomornya tidak lagi aktif.
Cklek.
Pintu kamar terbuka. Mamanya muncul dari sana dengan membawa satu gelas cokelat panas. Di luar memang tengah turun hujan dan mungkin Raffi akan cukup terlambat menjemputnya.
Ya memangnya, Renata siapa? Ia bukan lagi gadis yang selalu Raffi utamakan seperti dulu.
"Belum siap-siap aja?" tanya Mamanya seraya menaruh gelas itu di atas meja rias Renata.
Wanita paruh baya itu mengetahui bahwa gadisnya di undang untuk mengikuti makan
malam di rumah Raffi.
"Belum, Ma."
Mamanya terkekeh melihat wajah Renata yang semakin sembab. Ia belum bertanya apa sebabnya dan menundanya ketika putrinya itu sudah cukup tenang.
"Sini Mama pakaikan, ya?" katanya seraya mengambil satu bedak yang wadahnya sudah berdebu. Ia terkekeh dan segera meniup debunya membersihkan.
"Sama Renata aja, Ma," Renata yang sempat melamun, langsung mengambil alih bedak itu dari tangan Mamanya.
"Iya, tapi Mama liatin, ya?"
Renata mengangguk. Kemudian mulai memoleskan bedak itu di wajahnya. Menutup sedikit demi sedikit kedua kantung matanya yang menghitam dan mata yang sembab.
"Setelah itu kamu pakai ini," Mamanya memberikan wadah blash on kepada Renata.
Renata memakaikannya dengan hati-hati. Gadis itu memang jarang sekali berdandan. Namun ia tahu dan mengerti fungsi setiap alat make-up untuk apa.
"Anak Mama cantik sekali." kata Mamanya memerhatikan wajah Renata yang tidak lagi kusut seperti tadi. Aura gadis itu sudah keluar meskipun bibirnya masih sulit untuk tersenyum.
"Ayo, sekarang pakai lipstik." Mamanya memberikan lipstik yang biasa Renata pakai.
Renata tentu mengangguk dan memakainya dengan rapi.
"Kalau mau ketemu Raffi, nggak boleh dengan wajah yang sedih." bisik wanita itu di telinga Renata.
Renata terdiam. Justru Raffi sendiri yang membuatnya bersedih seperti ini.
"Kalau ada masalah sama Raffi, atau teman kamu yang lain, jangan sungkan untuk bertanya dan membahasnya. Meminta maaflah meskipun kamu tidak tahu letak salahmu dimana." lanjutnya memberi pesan.
Renata mengangguk. "Iya, Ma." katanya. Setidaknya, saat ini Renata sudah lebih tenang dari sebelumnya.
Tak lama dari itu, Bi Sum membuka pintu kamar Renata. Memberitahu bahwa Raffi sudah menunggunya di bawah.
Renata mengangguk kemudian memakai sepatunya, ia berjalan keluar kamar dan di ikuti Mamanya di belakang.
"Nak, Raffi, jangan malam-malam ya anterin Renata pulang nya." kata wanita itu tatkala sudah berada di ruang tamu. Ucapannya mengagetkan Raffi yang tengah sibuk dengan lamunannya.
Raffi tersenyum mengangguk seraya beranjak bangun, "Iya, Tante." katanya. Tatapannya kemudian beralih pada Renata yang kini memakai dress berwarna putih. Rambut cokelat gadis itu di gerai dengan polesan make-up tipisnya.
"Raffi pakai mobil, kan?" Mamanya memastikan.
Raffi mengangguk dengan tak sadar diri. Ia masih mematung menatap Renata yang sedari tadi juga menatapnya datar.
Renata jarang sekali berdandan seperti ini. Biasanya pakaian gadis itu tidak jauh-jauh dari kaos dan celanja jeans. Kalau Renata seperti ini terus, bisa-bisa Raffi semakin susah melupakan gadis itu.
"Awas ntar lo ngeces." gumam Renata yang langsung membuat Raffi tersadar. Lelaki itu mengusap wajahnya gusar.
Mama Renata terkekeh melihat kedua sejoli di hadapannya. "Hati-hati, ya. Salamin ke Mama kamu, Raf." katanya.
Raffi dan Renata mengangguk kemudian berpamitan kepada Mama Renata.
"Iya, Tan, nanti Raffi sampaikan salamnya." Raffi tersenyum.
***
Suasana di dalam mobil Raffi sangat hening. Tidak ada yang mencoba berbicara terlebih dahulu. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Renata menatap jalanan yang sepi dan basah terguyur hujan, sedangkan Raffi sibuk fokus menyetir.
"Lo beda banget malam ini." gumam Raffi seraya memelankan laju mobilnya.
Renata meruba posisi duduknya menatap ke depan. Gadis itu terkekeh pelan.
"Mau sampe kapan lo non aktifkan nomor hp?" tanya Renata.
"Udah gue nyalain. Sori, mungkin gue udah nyakitin lo."
"Oh jelas. Lo nyakitin gue banget." sahut Renata langsung. Nafasnya tak beraturan, ingin rasanya gadis itu meluapkan semua emosinya kepada lelaki di depannya saat ini.
"Nyakitin dari mananya?" tanya Raffi polos. Tidak sih, hanya pura-pura tidak tahu saja.
"Eh lo udah jauhin gue tanpa gue tahu alasannya apa. Lo masih nanya letak lo nyakitin itu dari mana?" Renata menatap Raffi gemas.
Raffi terkekeh. Tatapannya tetap fokus ke depan.
"Kan gue nggak mau ganggu hubungan lo sama Ryan. Lo bahagia, kan, sama dia?"
"Nggak sama sekali."
Ucapan itu bersamaan dengan berderingnya ponsel Raffi yang berada di saku celananya. Raffi langsung merogoh dan lebih memelankan laju mobilnya ketika di layar sana tertera nama Tiffany yang meneleponnya.
"Sayang? Kamu dimana?"
Deg.
Renata benar-benar terkejut mendengarnya suara seorang gadis di seberang sana. Suaranya mirip sekali dengan Tiffany. Benarkah Raffi dan Tiffany balikan? Jika iya, mengapa lelaki itu tidak memberitahunya?
Lalu mengapa, rasanya sakit sekali?
"Aku di jalan, bentar lagi nyampe." balas Raffi dengan kehati-hatian.
"Yaudah, hati-hati. Aku tunggu di sini."
Raffi mengangguk meskipun ia tahu Tiffany tidak akan melihatnya. Setelah panggilan terputus, Raffi kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Lo punya cewek baru?" mulut Renata sudah gatal untuk bertanya itu. Persetan dengan semua gengsi yang di milikinya, ini demi menjawab segala pertanyaannya yang menyebalkan.
"Ngga." balas Raffi. Lelaki itu membelokkan mobilnya memasuki perumahan komplek.
"Yang tadi?"
"Tiffany, gue balikan sama dia."
***
Renata menatap ibu-ibu komplek yang kini meramaikan meja makan rumah Raffi. Mereka terlihat rempong dan banyak bicara. Beberapa perhiasan menghiasi telinga, tangan dan jari kelingkingnya. Membuat Renata semakin yakin bahwa mereka bukan ibu-ibu seperti di kompleknya yang pakaian sehari-harinya adalah daster.
Renata duduk di sebelah Raffi, sedangkan lelaki itu duduk di antara Renata dan Tiffany. Sedari tadi Tiffany belum bertanya apapun ketika Raffi datang ke rumahnya bersama Renata. Tiffany malah semakin memperlihatkan perhatiannya kepada Raffi.
Contohnya seperti sekarang, gadis dengan rambut bergelombang itu menuangkan nasi kuning ke piring Raffi kemudian memberi lauknya. Renata jadi mengutuk gadis itu dalam hatinya.
"Jeng, anaknya udah ganteng, tinggi, punya pacar 2 lagi." kata salah satu ibu-ibu arisan itu yang langsung membuat ketiga anak muda di hadapannya menoleh.
Mama Raffi mengangkat alisnya, ia bingung memberi penjelasan. "Bukan, Jeng. Mereka temenan aja." katanya nyengir. "Udah ayo di makan, dari tadi rempong sama perhiasan terus." lanjutnya.
Raffi tersenyum canggung. Ia sebenarnya malu harus bergabung bersama semua wanita dan kedua gadis di sini. Kalau saja Ayahnya sudah pulang dan Rifal sudah bangun dari tidurnya, setidaknya Raffi mempunyai teman sebagai status seorang lelaki.
"Sayang ayo di makan." Tiffany menyenggol lengannya, membuyarkan lamunannya.
Raffi menatap Renata sekilas, gadis itu sudah fokus menyantap makanan tanpa ia tahu keadaan hatinya saat ini.
Bersambung~
Semoga sukaa. Jgn lupa like, komen dan Vote yah!🥰