Last Taste

Last Taste
BAB 14. Di Kenalkan



"Sekarang gue ajak Firda juga buat belajar kimia bareng," kata Renata seraya memakaikan helm di kepalanya. Raffi mengangguk setuju. Tidak masalah.


Kedua sejoli itu tengah berada di parkiran sekolah, setelah mengerjakan dua soal ujian tadi, kini mereka akan menuju rumah Raffi untuk belajar kimia bersama. Tidak hanya kimia sih, pelajaran yang lainnya juga. Seperti fisika, biologi dan kawan-kawannya yang sangat menguras otak.


Ini adalah hari kedua ujian, Raffi mengerjakan soalnya dengan cepat-cepat karena tidak mau di ganggu oleh gadis yang duduk di sebelahnya. Bodo amat dengan hasil nilainya.


"Lo tahu? Cewek yang duduk di samping gue?" tanya Raffi ketika Renata sudah duduk di belakangnya.


Renata mengangguk, padahal ia tidak terlalu mengenali wajahnya. "Kenapa?" tanyanya.


"Gangguin gue terus. Nanyain jawaban mulu tiap menit. Risih banget gue, asli." keluh Raffi seraya menyalakan gas motornya.


"Lo bisa ngerasa risih juga ya." Renata terkekeh. Tangannya sontak mencekal pinggang Raffi ketika lelaki itu mengegas motornya tiba-tiba.


"Yang bener!" Renata memukul bahu Raffi, kesal. Untung saja dirinya tidak terjatuh.


"Pegangan makanya." balas Raffi berteriak ketika motornya keluar dari gang sekolah dan menyatu bersama kendaraan lainnya.


"Apa? Ngga kedengeran!!" Renata balas berteriak. Padahal sebenarnya ia mendengar apa yang lelaki itu ucapkan tadi.


Tangan kiri Raffi langsung melepas stang motor untuk mencari jemari Renata. Awalnya Renata menolak mentah-mentah namun dia mau juga memegang pinggang Raffi.


Renata melihat kekehan Raffi dari kaca spion. Kini tangannya melingkar indah di pinggang lelaki itu. Ia tidak bisa terus menolak.


Sepanjang perjalanan, Renata hanya menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Telinganya harus menahan bising dari klakson kendaraan yang bersahutan meskipun ia sudah memakai helm. Sampai tiba motor Raffi memasuki komplek perumahannya yang terlihat ramai itu.


Rumah Raffi tidak terlalu jauh dari gerbang komplek tadi, hanya melewati dua gang maka cat rumah besar berwarna biru itu sudah terlihat.


Raffi memberhentikan motornya ketika sudah memasuki gerbang. Di sana sudah terparkir mobil hitam ayahnya yang sepertinya sudah selesai menyelesaikan bisnisnya di Malang.


Lelaki itu membuka helmnya setelah men-stadarkan motornya. "Kayaknya bokap gue udah balik lagi." katanya seraya menuruni motornya.


Renata masih berada di jok motor, kesulitan membuka helm yang di kuncinya. Raffi sontak membantunya sehingga wajah mereka tampak berdekatan.


"Thanks," balas Renata ketika lelaki itu sudah berhasil membukakan helm yang sempat di pakainya.


"Firda kesininya sama siapa? Emang dia tahu rumah gue?" tanya Raffi seraya menaruh helm itu di spion motor.


"Katanya sih di anterin sama pacarnya, tapi ngga tau juga sih." balas Renata.


"Ya udah, yuk masuk." Raffi berjalan duluan memasuki rumah, diikuti Renata di belakangnya.


Dari dalam, terdengar suara gelak tawa dari seorang anak lelaki kemudian di susul oleh tawa orang tua Raffi, sepertinya.


"Raf gue malu," Renata refleks menahan lengan Raffi. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, ragu.


"Malu kenapa? Lo kan pake baju," Raffi terkekeh. Ia kemudian menarik Renata untuk berjalan di depannya.


"Santai aja, emak bapak gue baik ko." katanya menenangkan. "Lagian segala malu, kaya mau di kenalin sama calon mertua aja." lanjutnya tertawa pelan.


Renata tak menjawab, ia mengatur degupan jantungnya yang sedari tadi tidak normal. Ini kenapa sih? Kenapa gadis itu jadi salah tingkah sendiri?


"Raffi pulaaang!" Raffi berteriak di seantero ruang keluarga. Di sana terdapat Mama, Rifal dan Ayahnya yang sedang bercerita ria, sontak menatap kedatangan Raffi dan gadis di sampingnya.


Raffi mendekat seraya mendorong Renata yang berjalan di depannya, menyalami Mama dan Ayahnya. Tak lupa, mencubit pipi gembul Rifal yang semakin hari semakin besar. Apalagi rambutnya.


"Wih, Ma, jagoan kita akhirnya bawa gadis ke rumah." Haidar, Papanya itu terkekeh. Ia mengelus rambut Renata ketika gadis itu menyalami tangannya sopan.


Mamanya hanya tersenyum menanggapi. "Iya tumben banget. Siapa, Raf?" tanyanya kepada Raffi yang tengah mengambil air minum di dalam kulkas.


"Saya Renata, Om, Tante. Temennya Raffi," balas Renata tersenyum ramah. Ah ini bukan Renata sekali. Sejak kapan gadis itu bersikap ramah?


"Oh iya, Renata, yuk duduk, Nak." ajak Mama Raffi mempersilahkan.


Renata duduk bersebrangan dengan sofa yang di duduki kedua orang tuanya Raffi. Ia memerhatikan Rifal yang masih asik memakan es krim di wadahnya. Gemas sekali, Renata ingin sekali mencubit pipinya.


"Mau belajar bareng, Ma." kata Raffi seraya menaruh minuman di meja kemudian duduk di samping Renata. Lelaki itu mengacak rambutnya, merasa gerah.


"Lagi Ujian Akhir ya?" tanya Mamanya. Raffi mengangguk.


"Iya udah, mau belajar di sini atau di mana?" tanyanya lagi.


"Di kamar sih, maunya-Aw!" Raffi sontak meringis kesakitan ketika kaki Renata yang masih lengkap dengan sepatunya, menginjak kaki Raffi.


"Apaan sih, Raf!" bisiknya kesal.


"Ya boleh-boleh aja di kamar, toh kamar Raffi juga ada cctv nya, jadi Om ngga perlu takut." balas Ayahnya membuat Raffi cengo.


"Sejak kapan?" tanyanya.


"Udah dari sebulan yang lalu. Emang kamu belum tahu?"


"Parah nih, Ayah, kaya Raffi ngelakuin hal-hal yang ga wajar aja." katanya dengan wajah so sedih.


Haidar terkekeh, "Di balkon aja, Raf. Enak banyak angin." sarannya.


Raffi mengangguk. Ia kemudian beranjak bangun, "Ayo, Ren." ajaknya.


"Nanti Rifal ikut ya ke kamar Abang," Rifal berucap dengan sisa-sisa es krim di pipinya.


"Siap!"


***


Cklek.


Pintu kamar Raffi terbuka. Raffi menyalakan saklar lampu supaya lebih terang meskipun sudah terkena sinar matahari siang ini.


Renata menatap sekeliling kamar lelaki itu. Bernuansa hitam putih. Di setiap dindingnya terdapat beberapa foto Raffi sewaktu kecil dan yang sekarang. Ada banyak piala yang di pajang di atas meja belajarnya. Beberapa piagam dan medali juga menggantung di sana. Renata mendekat untuk membaca kalimat yang tertempel di secarik kertas.


Aku adalah puisi. Begitupun puisi adalah aku. Kita satu tubuh, satu jiwa dan satu nyawa. Semoga raga ini akan bermuara di tubuhmu yang indah.


Renata terkekeh membacanya dalam hati. Piala-piala itu lebih dominan terhadap kemenangan Raffi di setiap lomba-lomba menulis puisi, atau membaca puisi. Sedangak sisanya atas kerja kerasnya di bidang akademik.


"Gue cuci muka dulu, sebentar." Raffi yang baru saja mengambil handuk kecil di balkon, kemudian melangkah masuk ke kamar mandi.


Renata mengangguk. Menatap balkon kamar Raffi yang cukup luas itu. Kasur besarnya berada di ujung sehingga langsung menghubungkannya dengan balkon kamar.


Gadis itu melangkahkan kakinya ke sana. Duduk di sofa yang masih menyisakan gitar Raffi. Sepertinya lelaki itu baru saja memainkan gitar semalaman.


***


"Oke, jadi mau mulai yang mana dulu?" tanya Renata ketika sudah mengeluarkan buku-buku dari dalam tasnya.


Beberapa menit tadi Raffi sudah kembali dengan berganti pakaian dan rambut yang basah. Lekai itu mandi sekaligus, bukan hanya cuci muka saja. Gerah katanya.


"Dari mana aja, terserah lo." balas Raffi yang sesekali mengusap rambut basahnya.


Renata mendelik, "Yang mau belajar tuh gue atau lo sih?" kesalnya. Renata mulai dengan kesangarannya.


Raffi terkekeh, "Iya sori bos." katanya kemudian fokus dan sangat fokus.


Drtttt..


Ponsel Renata bergetar, layarnya menampakkan nama Firda yang menelponnya. Ia segera men-slide tombol hijau hingga panggilan tersambung.


"Halo? Fir?" sapanya terlebih dahulu.


"Ren? Sori gue ngga bisa ke rumah Raffi, ini si Kevin kecelakaan, gue lagi di Rumah sakit."


Renata sontak terkejut, "Ya Allah, Fir. Tapi lo ngga apa-apa, kan?" tanyanya memastikan.


"Ngga, dia jatoh pas mau jemput gue di rumah."


"Ya udah. Nanti kalo sempet, balik dari sini gue ke Rumah sakit."


"Iya, makasih. Sori ya, Ren?"


"Ngga apa-apa, udah lo yang tenang dulu. Jangan panik. Btw kondisi nya dia gimana?"


"Dia cuma lecet-lecet tapi pinsan."


"Lo tetep tenang okey?."


"Ya udah gue mau lihat kondisi Kevin dulu ya, thanks udah ngertiin gue."


"Iya, Fir. Lo baik-baik di sana."


"Iya, lo juga. Bye baby!"


Panggilan terputus.


"Kevin siapa sih?" tanya Raffi penasaran.


"Cowoknya Firda. Dia kecelakaan pas mau jemput Firda di rumah,"


"Ya Tuhan. Mau jengukin sekarang?" tawar Raffi.


"Ngga, udah lo sekarang jangan ikutan panik. Lo kerjain tugas dari gue nih cepetan."


Raffi menganggukkan kepalanya. "Mungkin besok ya jenguknya?"


"Iya, Raf."


Bersambung~


Oiya ada yang masih penasaran dengan sosok Renata?😁 ini diaaa...




Cut Beby Tsabina. Imut banget, kan wajahnya? Tapi dia sangar kalo lagi sama Raffi😂


Kenapa aku pilih dia sebagai sosok Renata? Karena ya Renata yang berperawakan kecil, lucu tapi garang sama banget kaya Beby. Seimbang lah ya. Cocok, kan?😁


Oiya, jangan lupa Like Komen dan Vote ok!! Semoga Sukaaa🥰