
Raffi berjalan menuju ruang kesenian sekolah. Ia akan meminjam gitar untuk tampil di hadapan teman-temannya setelah pembagian raport siang ini.
Sudah menjadi tradisi di sekolah Poesara ini, usai pembagian raport mereka akan mengadakan acara yang di gelar oleh anggota kesenian, teruntuk siswa lainnya.
Acara itu di adakan sebagai hiburan, isinya seperti bernyanyi solo, paduan suara, band, pembacaan puisi, musikalisasi puisi dan lainnya yang berhubungan dengan seni. Biasanya, panggung yang terletak di lapang upacara itu akan menghadap ke arah ruang guru, namun untuk tahun ini, panggung menghadap kelas siswa. Tujuannya agar semakin banyak yang menonton meskipun dari dalam kelas.
Bedanya, tahun ini panggung itu cukup besar. Tidak seperti biasanya yang lebarnya tidak memakan habis lapangan. Pasalnya, panggung itu akan kembali di pakai oleh acara perpisahan kelas XII yang di akan sebelum akhir tahun.
Memang jarang sekali perpisahan kelas XII di adakan di akhir tahun karena biasanya itu masih pergantian semester, namun karena sekolah ini sempat mengalami kendala saat penerimaan siswa baru, maka dua semester itu genap menjadi satu tahun full dan perpisahan kelas XII terpaksa harus di dahulukan.
Raffi membuka pintu ruang kesenian, di sana cukup ramai oleh para anggotanya yang tengah bersiap-siap. Anak-anak perempuan ada yang masih bermake-up, rebahan di lantai dengan kedua headset terpasang di telinganya, dan ada juga yang sibuk mondar-mandir entah mencari apa.
Raffi mengedarkan pandangannya, mencari sosok Tiara, ketua kesenian di sekolahnya, yang pertama kali mengusulkan ide untuk membuatkan acara setiap selesai pembagian raport.
"Ra!" Raffi berteriak ketika mendapati Tiara yang baru saja keluar dari dalam ruangan kecil, sepertinya itu ruang khusus menyimpan alat-alat musik tradisional.
Tiara menoleh, tangannya yang membawa berkas-berkas itu melambai ke arah Raffi.
"Sini, Raf, ambil nih." katanya menunjuk beberapa gitar milik anak kesenian yang di simpan tepat di samping Tiara berdiri.
Raffi mengangguk. Ia berjalan melewati riuhnya anggota kesenian di sana.
"Misi, pangeran Raffi mau lewat," katanya dengan cengiran.
Gadis-gadis itu ikut tertawa, ada juga yang merasa risih namun tetap memberi ruang jalan untuk Raffi.
"Raf, taun ini lo mau mempersembahkan apa?" tanya salah satu gadis yang tengah sibuk dengan make-up nya. Sesekali ia melihat kaca kecil untuk membenarkan eyeliner yang di pakai di kedua sudut matanya.
"Ada deh. Kalian jangan lupa nonton gue cuy." Raffi mengedipkan sebelah matanya dan langsung mendapatkan respon teriakan dari gadis-gadis itu.
"Biasa aja, Raf, gue makin diabetes."
Raffi terkekeh mendengarnya. Ia mengambil gitar yang biasa di pakainya di sana, kemudian mengobrol sebentar dengan Tiara.
"Gue tampil abis Band, kan?" Raffi memastikan.
Tiara mengangguk, "Lo tetep mau nyanyi lagu Kamu adalah Angan, kan?"
"Iya. Lagu spesial untuk orang yang spesial." balas Raffi dengan kekehannya. Ia teringat Renata yang menjadi tujuan dari lagu ciptaannya itu.
Tiara tertawa, "Masih sama Tiffany lo?" tanyanya.
"Nggak, udah lama. Ya udah gue mau gladi dulu, ngecek suara." pamit Raffi dengan senyuman mautnya. Ia kemudian meninggalkan ruang kesenian setelah sebelumnya melambaikan tangan kepada teman-temannya di sana.
***
"Jangan balik dulu ya. Gue mau lihat acara ini, tumben tahun sekarang rame banget." Firda memasukkan raportnya ke dalam tas.
Sepeninggal Pak Deden yang sudah membagikan raport kepada anak didiknya, juga memberikan wejangan berupan pesan-pesan untuk mereka, lelaki paruh baya itu keluar kelas dengan wajah berseri.
Semua siswa kelas XI IPA 2, di nyatakan naik kelas semua dengan nilai yang memuaskan. Renata tetap menjadi juara kelas, di susul Raffi kemudian Hendar. Tidak ada yang berubah, mereka masih tetap di posisi peringkatnya sejak semester ganjil.
"Mungkin karena bakal disatuin sama graduation." balas Renata.
Kini Renata dan Firda berjalan meninggalkan kelas yang sudah sepi. Mereka berbondong-bondong membanjiri lapangan upacara untuk melihat penampilan dari anak-anak kesenian di sana.
"Lo tahu kan kalo sekarang Raffi juga tampil?" tanya Firda menatap sahabatnya dari samping.
Renata mengangkat bahunya, tidak terlalu peduli. Tadi, saat pembagian raport, raport lelaki itu memang lebih dulu di bagikan karena Pak Deden tahu hari ini Raffi akan tampil dan harus bersiap-siap. Namun Renata tidak berfikir sejauh itu, ia malah mengira Raffi lebih di utamakan daripada siswa/i lainnya.
Dan, setelah mendengar pernyataan Firda, Renata merutuk dirinya sendiri. Kenapa bisa gadis itu semakin sentimen kepada Raffi?
Ah! Raffi nya juga sudah tidak peduli dengan Renata, kan? Jadi gadis itu bebas untuk terus bersikap galak ataupun lainnya seperti biasa.
Tapi jujur saja, Renata kesepian.
"Woi, Ren! Sini belok!" Firda berteriak, membuyarkan lamunan Renata.
Renata sontak terkejut dan sadar dari lamunannya. Ia menatap Firda yang sudah berbelok ke arah kanan, menuju lapangan upacara yang ramai. Sedangkan dirinya terus lurus berjalan tak tahu arah.
"Yaampun, gue kenapa, sih?"
***
Suara riuh tepuk tangan terdengar setelah penampilan band sekolah yang terdiri dari lima anggota itu. Disana, entah bagaimana ceritanya, hari ini Tiffany lah yang menjadi vokal dari band sekolah.
Biasanya sih oleh Rayna, vokalis utama band itu. Namun gadis tinggi itu rupanya tidak bisa menghadiri acara ini seperti biasa. Pantas saja di barisan depan sana banyak sekali anak lelaki yang riuh ketika Tiffany bernyanyi dengan suara anggunnya.
Oke.
Renata ikut bertepuk tangan, mengakui kalau suara Tiffany memang bagus. Tapi beruntunglah, setelah gadis itu mengucapkan terimakasih lewat mikrofon, ia dan teman-teman band lainnya menuruni panggung.
"Oke terimakasih kepada Band Poesara tercinta kita yang sudah mempersembahkan lagu barunya. Sekaligus kepada Tiffany yang suarany bagus banget yaaa?"
Suara MC itu meminta pendapat penonton. Penonton berteriak riuh mengiyakan. Renata memutarkan bola matanya. Firda yang berada di sebelahnya itu terkekeh geli.
"Sinis banget, sih, Ren." katanya.
Renata nyengir, "Ini gue kelilipan," balasnya beralasan.
"Setelah ini, kita akan melihat penampilan dari laki-laki yang udah terkenal banget sama puisi-puisinya. Yang langganan banget dan akrab sama Bu Selly," kata MC itu tertawa sejenak, menyebutkan ciri-ciri seseorang yang akan kembali tampil.
Renata terdiam. Mencerna kembali ucapan MC yang tidak di ketahui namanya itu.
Puisi?
"Kalian sudah tahu siapa dia?" tanya sang MC dengan menyodorkan mikrofon ke bawah panggung.
"Raffi!!!"
Para kaum Hawa sontak berteriak menyebutkan namanya. Sedangkan kaum Adam yang tadi duduk di barisan paling depan, menyoraki dan berbalik pindah ke belakang. Sudah tidak asik.
"Ya, kita panggilkan Raffi!!"
Suara tepuk tangan kembali riuh. Suasana semakin ramai dan memadati lapangan. Siswi/i yang tadi masih berada di dalam kelas dan hanya menonton lewat kaca, kini duduk mendekati panggung. Bahkan siswi yang tadinya masih berada di kantin, kini berpindah ke lapangan dengan membawa makanannya yang belum habis.
Renata menepuk jidatnya diam-diam. Kenapa mereka harus segitunya sih melihat Raffi?
Disana, Raffi mulai menaiki panggung. Kulit putihnya berseri dengan rambut hitam terbelah duanya yang sudah tersisir rapi. Lelaki itu berganti pakaian, memakai Hoodie yang biasa di pakainya serta jeans hitam.
Terlihat simpel namun menawan.
Raffi duduk di bangku yang sudah di sediakan. Ia memangku gitarnya kemudian membenarkan posisi mikrofon agar tepat didepan bibirnya.
Semua penonton hening. Mereka benar-benar takjub dan penasaran dengan apa yang akan Raffi bawakan hari ini. Sepertinya bukan puisi seperti tahun kemarin yang berhasil meninggikan derajatnya di sekolah.
"Lagu ini gue persembahkan untuk seseorang yang selama ini udah menjadi rembulan bagi pagi, siang, dan malam gue." kata Raffi perlahan. Lelaki itu begitu tenang, tidak seperti biasanya yang pecicilan.
Pandangan Raffi mengedar, mencari seseorang. Namun ia tidak menemukan dan mungkin saja orang yang di carinya tidak tertarik menontonnya disini.
"Oke, ini lagu ciptaan gue yang berjudul Kamu adalah Angan," lanjut Raffi seraya memetik gitarnya memulai.
Jreng..
Jika saja kamu tahu
Hidupku adalah kamu
Ku berjanji takkan ku lepas ikatan ini
Namun ternyata kamu jauh
Meski ragamu di depanku..
Raffi menyanyikannya dengan tenang dan menghayati. Sesekali matanya terpejam menikmati setiap lirik lagunya.
Di ujung sana, Renata ikut mendengarkan dengan tenang. Ia tidak menyangka Raffi bisa bernyanyi sebagus itu, apalagi mengetahui bahwa itu lagu ciptaannya sendiri.
Bukan untukku.. dirimu
Hanya anganku.. kasihmu
Begitulah kamu
Adalah ilusi dalam mimpiku
Suara Raffi kembali menghiasi pendengarannya. Renata jadi bertanya-tanya. Ia teringat ketika Raffi mengucapkan bahwa setiap karya pasti ada inspirasinya.
Dan sekarang, mustahil lagu Kamu adalah Angan itu Raffi ciptakan tanpa adanya inspirasi, kan?
*Tiadanya kamu adalah kesunyian
Hadirnya kamu begitu menyiksa kan
Mungkin takdirmu, bukan untukku...
Bukan untukku.. dirimu..
Hanya anganku.. kasihmu*..
Jreng..
Petikan gitar Raffi itu menutup lagunya. Tepuk tangan kembali riuh setelah beberapa menit tadi suasana terasa hening. Teriakan-teriakan dari adik kelas dan teman-temannya membuat Renata menutup telinganya rapat-rapat.
"Thanks, jangan lupa follow Instagram gue ya." Raffi tertawa di susul tawa penonton yang berteriak.
"Udah, Raf. Follback!!"
"Follback woi!"
"Jangn lupa follback, Raf!"
Raffi tersenyum singkat kemudian ia menuruni panggung.
"Bagus ga, Ren?" tanya Firda meminta pendapat Renata.
Renata yang sejak tadi memperhatikan Raffi itu tersentak kaget. Ia langsung tersadar dan menatap Firda.
"Apa?" tanyanya.
"Lo tuh ya, ngelamun terus. Hati-hati lo, ntar kesambet."
Bersambung~
Yang baca dari Bab 1-3 pasti inget lagu ini😂
Semoga sukaa ya.. jangan lupa Like, komen dan Vote ok!🥰