Last Taste

Last Taste
BAB 4. Tiffany Andreas



Keesokan paginya, Renata mengambil satu lembar roti yang ia tangkup untuk mengganjal perutnya. Renata harus buru-buru menuju sekolah sebelum jalanan kembali ramai di padati.


"Ma, Renata pergi dulu. Assalamualaikum," pamitnya kemudian berlari keluar. Ayahnya sudah berangkat lebih awal meninggalkan anak gadisnya yang lagi-lagi kesiangan.


"Ren hati-hati.."


***


Suasana kelas XI IPA 2 tengah hening, di dalamnya hanya ada Raffi, Renata dan Pak Wawan, guru kimianya. Mereka berdua sedang mengikuti ulangan susulan kimia di waktu istirahat ini.


Renata duduk di tempatnya, di bangku paling depan yang langsung berhadapan dengan meja guru. Sedangkan Raffi duduk di belakangnya, lelaki itu terlihat resah melihat kertas putih di hadapannya masih kosong, belum menemukan jawaban dari soal kimia yang di tulis oleh Pak Wawan.


Dugh


Raffi menendang pelan bangku di depannya. Mulai mengganggu Renata yang sedang fokus mengisi soal.


Pak Wawan kelihatannya masih sibuk memeriksa hasil ulangan. Ia tidak menyadari bahwa Raffi tengah membuat ulah lagi.


Dugh.


Renata menghela nafas kasar. Ia mengangkat bangkunya untuk lebih maju ke depan. Tanpa menoleh ke belakang, menghiraukan lelaki yang di Landa kesulitan itu.


"Ren, woi. Nomor satu doang apaan jawabannya." Bisik Raffi pelan. Namun sampai lima menit, gadis itu tidak memberikan jawaban.


Raffi mulai nekat. Ia berdiri untuk menggapai bangku Renata yang cukup jauh, ia mengetuk-ngetuk pelan bangku itu dan langsung mendapat respon dari Renata. Namun..


Bugh


Kedua jidat itu bertabrakan. Raffi dan Renata saling meringis. Tadi, saking kesalnya Renata, ia buru-buru menghadap ke belakang dan siap memarahi Raffi. Tanpa ia tahu kalau jarak wajah lelaki itu sangat dekat dengannya.


Pak Wawan tersadar, "Ada apa?" tanyanya.


"Ini, Pak, Raff-"


"Mau minjem tip-x, Pak." potong Raffi nyengir sambil tangannya mengangkat tip-x yang ada di atas mejanya. Tip-x itu padahal miliknya, bukan punya Renata.


Renata mendelik. Lelaki itu pandai sekali beralasan.


"Waktu kalian mengerjakan soal tinggal lima belas menit lagi,"


"Siap, Pak."


****


"Gitu ya lo sekarang? Gue tadi ngisinya asal-asalan." Raffi memasang wajah cemberut. Ia menatap Renata yang tengah menghabiskan makanannya.


Mereka kini berada di bawah pohon rindang yang letaknya ada di ujung lapangan. Sore ini rencananya akan latihan soal lomba debat nanti. Mereka tengah menunggu Tiffany yang belum datang juga.


"Emang gue pernah ngasih lo jawaban soal kimia gitu?" Tanya Renata memastikan.


"Pernah waktu itu," jawabnya seraya mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya.


"Gue nge share ke grup kali, bukan japri ke lo." Ralatnya.


Raffi nyengir, "Beda ya?"


Renata tak menjawab. Ia mengambil berkas itu dari tangan Raffi, membacanya.


Peran media sosial terhadap lingkungan.


"Nanti gue yang jadi orang pertama, sebagai penyanyi pembahasan. Tiffany orang kedua, sebagai penanya, dan lo orang ketiga sebagai penyampai kesimpulan." Jelas Raffi yang rupanya sudah menyiapkan hal-hal seperti ini sendiri.


"Oke."


Kemudian Tiffany datang dengan wajah berbinarnya. Gadis itu memang terkenal ramah dan selalu tersenyum, maka tidak heran jika dulu Raffi mengejarnya.


"Hai, udah lama?" Sapanya kemudian langsung duduk di samping Raffi. Ia memerhatikan berkas-berkas di tangan Raffi dan Renata.


"Hai," Renata menyapa balik.


Raffi hanya diam saja.


"Jadi gimana, Raf?" tanya Tiffany menatap Raffi.


"Setiap perlombaan debat kan di bagi tugasnya masing-masing. Nah di sini, gue sebagai orang pertama, yaitu penyaji materi. Saat pembukaan nanti, gue yang bakal menjelaskan tentang materi ini. Misalkan pengertian media sosial menurut beberapa ahli, menjelaskan peran penting media sosial begitu juga pengaruh buruknya."


Jelas Raffi, ia menarik nafas untuk melanjutkan.


"Kalau misalkan kita ada di tim pro, berarti kita harus mencari informasi tentang sosial media yang bermanfaat. Kita ngga usah cari keburukan sosial media nya. Begitupun kalo kita ada di tim kontra, kita harus fokus kepada pengaruh buruk dari sosial media saja."


"Jadi, penentuan kita akan mendapatkan tim pro atau kontra, itu belum di tentukan sekarang. Tapi nanti ketika debat akan berlangsung. Jadi harus siap-siap dari sekarang. Siapin semua materinya."


Tiffany dan Renata mengangguk. Mereka larut dalam penjelasan Raffi yang sangat jelas. Tiffany sendiri sambil menatap kagum wajah lelaki itu.


"Oke, penjelasan orang kedua?" tanya Renata.


"Tiffany sebagai orang kedua. Tugasnya bertanya kepada lawan. Jadi, setelah gue selesai menjelaskan materi, sang Juri bakal ngasih kesempatan kepada orang kedua untuk bertanya. Setiap peserta di kasih waktu untuk bertanya dan menjawab pertanyaan."


"Kalo lawan nanya ke tim kita? Yang jawab harus gue aja?" tanya Tiffany.


"Ngga, kalau misalkan Renata punya jawaban sendiri ataupun gue juga punya, kita boleh menjawab setelah meminta izin kepada jurinya."


"Kita boleh menyanggah ucapan lawan?"


"Oke. Orang ketiga?" tanya Tiffany.


"Nah, Renata sebagai orang ketiga. Tugasnya menyampaikan kesimpulan dari hasil debat tadi. Jadi, kalo misalkan apa yg lo tulis sekarang di buku, tapi berbeda sama hasil debat nanti, lo boleh ganti kesimpulan di sana."


Renata mengangguk-angguk mengerti.


"Dan lo harus hati-hati. Kemenangan tim untuk masuk final, itu di lihat dari kekompakannya, ketegasan, dan hasil kesimpulannya."


"Kita semua hati-hati, bukan Renata doang." ralat Raffi setelah melihat wajah Renata berubah pucat. Lelaki itu terkekeh pelan.


"Oke. Ada yang mau di tanya lagi?"


"Cukup deh. Udah jam lima nih," kata Renata melirik jam tangannya.


"Yaudah. Kalo ada yang lupa untuk ditanyakan, japri gue aja."


"Siap bos." Tiffany semangat.


"Tapi di bales ya?" lanjutnya tersenyum.


"Oke. Gue duluan ya?" Renata yang sudah siap, berdiri untuk bergegas pulang.


"Ren, gue anter lo."


"Raf?" Tiffany mencegah lengan lelaki itu. "Rumah aku yang jauh." katanya.


"Iya. Udah lo anter Tiffany aja. Gue bisa naik bis."


Raffi merapikan berkasnya kemudian memasukkannya ke dalam tas. "Ngga, gue anter Renata aja."


"Raf apaan sih! Gue bukan anak kecil ya. Udah lo anter Tiffany aja." tolak Renata mentah-mentah.


Setelah mengatakan itu, Renata berlalu pergi.


Raffi menatap Tiffany datar. "Langsung pulang ya?"


"Mau makan dulu, laper." Tiffany nyengir tak berdosa.


****


"Raf ayo di makan," kata Tiffany ketika melihat Raffi yang belum menyentuh makanan di depannya. Lelaki itu sedari tadi fokus pada ponselnya, entah menunggu balasan dari siapa.


"Kamu inget ngga sih dulu kita sering banget ke sini. Hampir setiap pulang sekolah, dan weekend." Tiffany mengenang seraya memotong daging di depannya untuk ia makan.


Raffi tak membalas. Kini sibuk melahap pesanannya. Nasi goreng tanpa kecap.


"Oiya, Mama sehat?" tanya Tiffany menatap Raffi.


"Alhamdulillah,"


Tiffany tersenyum. "Aku kangen banget sama Mama, Rifal, Ayah, dan kamu." katanya pelan. Namun Raffi tetap mendengarnya.


Rifal Haidar Fauzan. Adik Raffi yang masih berusia tujuh tahunan itu memang sudah dekat dengan Renata. Terkadang jagoan kecil itu menanyakan keberadaan Tiffany yang kini sudah tidak pernah lagi mengunjungi rumahnya.


"Rifal juga sering nanyain lo," jujurnya.


Tiffany tersenyum, "Tuh kan. Kenapa kita ngga balikan aja sih, Raf?" tawarnya tak berdosa.


"Udah lo makan dulu, abisin." balas Raffi.


"Raf, aku kangen puisi-puisi kamu. Semua puisi yang kamu kasih ke aku, masih aku simpan."


Raffi terkekeh. "Yaudah lo simpan aja. Gapapa."


Selang beberapa menit kemudian, mereka selesai makan dan bergegas untuk pulang. Langit di luar sudah gelap, malam akan datang dan mereka masih saja di jalanan.


"Aku duluan ya, kamu hati-hati." Tiffany turun dari motornya. Ia tersenyum hangat, "makasih buat waktunya," lanjutnya.


"Sama-sama. Udah sama masuk."


"Yakin ngga mau mampir?" tawar gadis itu nyengir.


"Ngga. Salamin aja ya ke Tante Rani." balas Raffi.


Tiffany mengacak-acak rambut gondrong Raffi dengan gemas. "Sekarang manggilnya udah Tante ya," tawanya pelan.


Raffi ikut tertawa.


"Jangan lupa potong rambut, ini udah Rebel banget."


"Kalo ngga lupa," Raffi nyengir.


"Yaudah aku masuk, kamu hati-hati." ucap Tiffany lagi, lembut.


Raffi menatap gadis di hadapannya, Tiffany memang 'perempuan banget'. Sikapnya selalu menyejukkan. Sayangnya, satu kesalahan gadis itu membuat Raffi tak mau lagi masuk dalam pelukannya.


Ia menatap Tiffany yang masuk ke dalam pekarangan rumahnya setelah tadi membuka gerbang.


Setelah memastikan gadis itu masuk, Raffi mulai menyalakan motornya kemudian melaju dan hilang di telan tikungan.