Last Taste

Last Taste
BAB 11. Weekend



Raffi memarkirkan motornya di pekarangan rumah Renata. Hari minggu ini Raffi sengaja mengunjungi rumah gadis itu tanpa bilang kepada Renata sebelumnya.


Rumah gadis itu tampak sepi namun terlihat rapi di sepanjang jalan menuju pintu utamanya. Di sekelilingnya terdapat beberapa pohon mangga yang buahnya sudah lebat. Kalau saja rumah itu tidak terawat, mungkin kini pekarangan rumahnya sudah di banjiri dedaunan kering.


Tok Tok Tok


Raffi mengetuk pintu rumah Renata. Sesekali ia mengedarkan pandangannya ke seantero komplek. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 10.10 WIB. Namun jalanan komplek tampak sepi-sepi saja. Berbeda dengan komplek rumahnya yang selalu ramai, apalagi setiap malam minggu.


Cklek.


Pintu terbuka. Seorang wanita dengan lap di bahunya itu tersenyum menatap Raffi.


"Ada perlu dengan siapa, Mas?" tanyanya ramah.


Raffi sontak membalas senyumnya, ia beranjak bangun dari kursi yang sempat di dudukinya beberapa menit tadi.


"Renata nya ada bi?" tanya Raffi.


"Ada. Biasanya jam segini non Renata lagi les kimia di Blok sebelah, tapi sekarang sih dia belajar di rumah." jelas wanita itu.


"Oiya, nama saya Bi Sumi, saya asisten rumah tangga di sini." katanya memperkenalkan.


Raffi mengangguk dengan senyuman. "Iya bi. Saya Raffi, teman sekelasnya Renata."


"Silahkan masuk, Mas Raffi." kata bi Sumi menyediakan jalan.


Raffi mengangguk kemudian masuk terlebih dahulu. Lelaki itu duduk di sofa ruang tamu setelah di persilahkan. Menatap sekeliling isinya. Banyak foto keluarga yang terpajang di sana. Termasuk foto gadis kecil dan sosok lelaki tampan di sampingnya. Raffi terkekeh melihatnya.


"Itu Neng Renata sama Mas Irfan, kakaknya." jelas Bi Sumi yang baru saja datang dengan nampan berisi kopi panas.


"Terimakasih, bi." balas Raffi tersenyum.


"Sama-sama, Mas. Saya panggilkan Neng Renata dulu ya," katanya kemudian berlalu.


Selang beberapa menit, Renata datang dengan hanya memakai kaos kebesaran dan celana pendek. Rambut cokelat gadis itu di cepol asal.


"Ko lo bisa tahu rumah gue?" tanya Renata to the point. Gadis itu duduk di sofa yang berseberangan dengan Raffi.


"Emang rumah bidadari siluman bukan di bumi ya? Sampai gue ngga tau?" balas Raffi.


Oke. Renata malas berdebat.


"Ada apa?" tanyanya malas.


"Lo lagi belajar?"


"Iya, gue pusing banget. Tadi ada satu soal kimia yang bikin gue mumet karena gatau caranya gimana." jelas Renata, ia mengusap wajahnya.


Raffi membuka jaket hitam yang di pakainya. Menaruhnya di sandaran sofa.


"Cuma gitu doang lo mumet. Gue juga biasa aja tiap ngerjain soal kaya gitu." katanya enteng.


"Ya itu sih lo. Beda sama gue."


Raffi terkekeh. Ia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Renata, gadis itu memang cantik. Meskipun galak.


"Puisi lo?" Raffi mengingatkan. Alis sebelah kanannya terangkat.


Mata Renata berbinar. Ia kembali teringat puisinya yang sudah jadi.


"Ada. Udah jadi dong. Pokoknya lo siap-siap aja traktir gue."


"Oke. Mau sekarang?" tanya Raffi semangaat.


"Lo belum liat puisinya. Bentar gue ambil dulu." Renata beranjak bangun untuk mengambil notebook di kamarnya.


Drttt Drtttt


Tiffany's Calling


Raffi berdecak. Ia men-slide ponselnya hingga panggilan tersambung.


"Raf? Aku di rumah kamu. Ko sepi sih?" sapa gadis itu yang membuat Raffi terkejut setengah mati.


"Sorry, Tif. Gue lagi di luar," balasnya.


"Pada kemana?"


"Ngurusin bisnis di Malang."


"Oh gitu, terus kamu dimana sekarang?" tanya Tiffany lagi. Tak mau menyerah.


"Di luar. Lagi ada urusan, lo pulang aja, Tif."


"Nih puisi karya gu-" Renata sontak menutup mulutnya ketika mendapati Raffi yang tengah teleponan dengan Tiffany. Sepertinya.


"Raf emang kamu ngga bisa ke sini dulu?"


"Gabisa, Tif. Gue sibuk. Sorry,"


Sambungan terputus. Raffi kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya. Menatap Renata yang juga menatapnya.


"Lo kenapa ngga ke sana aja sih?" kata gadis itu.


"Kan gue udah disini. Masa balik lagi ke rumah."


"Kasian Tiffany. Lo ngga punya hati banget dah,"


Raffi terdiam. Ia tidak suka pembahasan ini.


"Sini coba gue liat puisi lo," katanya dengan tangan menengadah. Renata langsung memberikan notebook nya.


Raffi terkekeh. Membaca puisi karya Renata. Tulisan gadis itu memang rapi dan bagus sehingga setiap kata dari puisinya sangat terlihat jelas di baca.


"Lo rindu gue?" tanyanya dengan percaya diri.


"Dih ya ngga lah. Apa coba. Ngaco." Renata mulai kesal.


"Ya ini puisinya tentang rindu," Raffi tertawa. "Tapi bagus. Gue suka," lanjutnya.


Renata tersenyum malu. "Gue berhasil?" tanyanya.


"Maunya?"


"Ya berhasil lah. Gila aja lo, puisi sebagus ini masa ngga lolos ujian." katanya kembali ngegas.


"Kalo lo berhasil, nanti lo ngga bakal ngajarin gue Kimia." kata Raffi pelan. Wajahnya di buat sendu.


"Ah mukanya biasa aja, Pak. So sedih banget lo,"


"Asli."


"Oke. Karena gue baik hati dan tidak sombong, gue bakal tetep ngajarin lo kimia." katanya.


Raffi berbinar. "Nah gitu dong. Lo jadi cantik kalo lagi baik kaya gini," godanya.


"Kemana aja lo baru sadar gue cantik?"


Raffi terkekeh. Ia mengembalikan notebook itu kepada pemiliknya.


"Eh tapi gue ngajarin lo bukan karena pengen deket sama lo ya. Ini sebagai balas budi karena lo udah ngajarin gue gimana caranya bikin puisi." jelas Renata.


"Iya bos, santai aja. Lo takut banget gue geer."


"Yaudah ayo jalan, lo mau gue traktir, kan?"


Renata nyengir. "Tapi gue mager banget."


"Mama sama Ayah lo kemana?" tanya Raffi mengedarkan pandangannya. Ia baru sadar sedari tadi tak menemukan orang tua Renata.


"Lagi ke tempat usaha kakak gue." jawab Renata. Gadis itu membuka ikatan rambutnya sehingga berjuntaian ke bahu.


Raffi melongo. Gadis di hadapannya memang bidadari.


"Yaudah gue ganti baju dulu. Lo diem di sini." Renata berlalu pergi. Cuek sekali.


Lihat saja! Gadis itu tidak menyadari Raffi yang kini masih melongo melihat pemandangan di depannya. Memang tidak peka.


Raffi segera tersadar dari lamunannya. Ia mengusap wajahnya. "Gila! Kenapa dia cakep banget!"


***


Raffi dan Renata kini berada di parkiran mall. Tidak ada tempat lain yang harus di kunjungi karena keduanya malas berfikir.


Setelah memarkirkan motor, mereka berjalan menuju pintu utama, yang langsung di sambut oleh tempat Timezone.


"Lo mau main?" tawar Raffi. Renata menggeleng.


"Kenapa? Atau lo lebih suka naik Ding dong?" Raffi menahan tawanya.


"Apaan sih. Lo kali!" kesal Renata. Ia meninju lengan lelaki itu.


"Galak banget sih!" Raffi mengusap rambut Renata yang tertutup tudung hoodie yang di kenakannya.


"Lo ngga mau beli tas atau apa gitu?" tanya Raffi heran. Sedari tadi Renata tak menunjukkan reaksi apapun padahal mereka sudah melewati toko tas, sepatu atau baju yang di pajang di bagian terdepan.


"Ngga. Males gue. Mau makan," bibir gadis itu mengerucut. Raffi gemas dan sontak menarik leher Renata hingga jatuh ke pelukannya.


"Kuy makan!"


Renata terdiam. Ia merasakan jantungnya yang berdetak tidak seperti biasanya. Perasaannya tidak karuan. Raffi, lelaki itu menarik tubuhnya ke pelukannya?


Bersambung~


Jgn lupa like, komen dan Vote ya!! terimakasih 🥰