
Pagi ini, halaman SMA Negeri Poesara sudah ramai di datangi siswa. Kelas XII sudah duduk di bangku yang telah disiapkan menghadap panggung acara. Sedangkan kelas X dan XI berpencar di sekitar koridor dan kantin sekolah.
Raffi uring-uringan mencari Renata yang sedari pagi belum ia temukan batang hidungnya. Padahal rencananya, pagi ini mereka akan melaksanakan gladi bersih sebelum nanti tampil sekitar pukul 10.
Raffi sudah mengecek kelas dan ruang KIR namun Renata tidak ada di sana. Nomornya aktif tetapi tak kunjung di angkat ketika Raffi meneleponnya. Lelaki itu jadi bingung sendiri. Rambutnya yang sudah rapi dan terbelah dua, terpaksa harus ia acak-acakki karena saking pusingnya.
"Lo tahu Renata nggak, sih?" tanya Raffi hampir menyerah. Ia menatap Hendar yang tengah membenarkan alat-alat musik di belakang panggung. Derry kelihatannya sibuk sekali karena harus menjadi MC hari ini bersama Shafira di atas panggung sana.
"Belum datang kali?" balas Hendar.
"Udah jam 8 gini masa belum datang."
"Coba lo telepon Tiffany." saran Hendar. Raffi mengangguk, menyetujui saran sahabat karibnya itu.
Raffi mencari kontak Tiffany dan langsung menekan tombol hijau hingga panggilan tersambung.
***
"Lo ngalah aja napa, sih?"
Suara itu menggema di bawah ruangan kotor tak bertuan. Gudang sekolah yang tak pernah di sentuh siapapun dan di letakkan di ujung koridor dekat pepohonan yang rindang.
Renata duduk dengan tangan yang terikat juga mulut yang di bekap sapu tangan. Ia menatap ponselnya yang sedari tadi berdering berada di genggaman Tiffany. Itu pasti dari Raffi yang tengah mencarinya.
Tadi, ketika Renata melangkahkan kakinya untuk menemui Raffi di sanggar kesenian, Tiffany, Rayna dan Poppy membawanya secara paksa dan membekapnya disini. Sedari tadi pula Tiffany menyuruhnya untuk menggantikan posisi Renata agar bisa membacakan musikalisasi puisi bersama Raffi. Namun Renata tetap tidak mengiyakannya.
Renata dengan susah payah kembali membuka ikatan tali di tangannya, sesekali kakinya berusaha menendang kedua dayang-dayang Tiffany di hadapannya. Ia sungguh kesal dan murka. Tiffany ternyata tidak sebaik dan selembut penilaiannya.
"Mpphhh-"
"Ngomong yang becus!" Tiffany beranjak bangun dan meraih dagu Renata. Wajah cantik Renata terlihat jelas di bawah pantulan cahaya lampu yang sudah berkedip-kedip.
Renata sama sekali tidak menangis. Ia justru sangat murka dan ingin membalas semua perbuatan gadis manja di depannya. Ingat, bukan Renata namanya kalau tidak pemberani.
"Lo mau gue tinggalin disini? Atau lo nyerahin tugas lo ke gue sekarang juga?" kata Tiffany lagi memberi penawaran.
Renata terkekeh menatap Tiffany, tak harus berfikir panjang, ia menendang paha Tiffany yang terlihat jelas menggunakan kakinya yang tidak terikat.
Tiffany sontak terjengkang ke belakang dan jatuh mengenai tumpukan kardus-kardus di sana. Wajah gadis itu terlihat murka.
Renata menggertakkan giginya kesal. Jika saja ia menendang Tiffany lebih keras, mungkin gadis itu akan terpental hingga tertimbun lemari besar di pojok sana yang sudah usang.
"Sialan lo!" bentaknya sambil membersihkan kedua sikutnya yang kotor.
Rayna membantu Tiffany bangkit, sedangkan Poppy mencari tali untuk mengikat kedua kaki Renata.
"Lo benar-benar mau gue tinggalin disini, hah?" tanya Tiffany sekali lagi. Ia berjaga jarak dengan Renata dan membiarkan Poppy mengikat kakinya terlebih dahulu agar gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa.
"Makanya lo jangan macem-macem, **** banget sih, lo." gumam Poppy setelah mengikat kedua kaki Renata.
Renata terdiam sejenak, mencari cara untuk bisa keluar dari tempat ini. Tentunya setelah nenek-nenek sihir itu pergi.
Tiffany mendekat, ia mengambil sapu tangan di mulut Renata dengan ekspresi menjijikkan.
"Buka ikatan tali gue, atau kalian gue habisi setelah ini?" kata Renata pelan.
Tiffany dan kedua dayang-dayang tertawa keras. Tiffany bahkan tidak segan-segan mendorong dahi Renata dan langsung membuat Renata melotot mengeluarkan kesangarannya.
"Lo ngajak gue berantem, hah?" Renata beralih menatap Rayna yang juga menatapnya linglung. Rayna memang gadis yang polos dan lugu. Maka dari itu Renata bingung sendiri mengapa bisa ia berteman dekat dengan Tiffany.
"Lo lagi ikut-ikutan," sentaknya menatap Rayna. Rayna yang tadinya memasang wajah takut dan kaget, langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi so marah. Dan itu membuat Renata tertawa keras.
Tiffany terkekeh. "Gue udah kasih lo penawaran, tapi lo tetap nggak mau ngasih pilihan. Oke, gue akan tunggalin lo disini dan bakal gantiin posisi lo untuk due sama Raffi." katanya dengan senang.
"Lo nggak akan bisa."
Tiffany kembali menyumpalkan sapu tangan itu ke dalam mulut Renata. Renata berusaha teriak dan merutuk ketiga nenek sihir itu dalam hati.
Mereka sudah keluar dari gudang ini dan meninggalkan dirinya sendirian. Renata menatap ponselnya yang tidak bisa ia jangkau karena terlalu jauh.
Ia terdiam sejenak. Tangan dan kakinya kelelahan. Dadanya sesak dan kesulitan bernafas karena saking berdebunya tempat ini. Raffi pasti sudah kewalahan mencarinya dan Renata merasa bersalah akan hal itu.
Namun, bukan Renata namanya jika harus menyerah. Ia dengan susah payah melepehkan sapu tangan itu dari mulutnya dan akhirnya bisa. Renata menghela nafas.
"Dasar, ketiga anak anjing itu harus gue kasih pelajaran. Lihat aja lo." gumamnya kesal.
Kemudian Renata berteriak minta tolong sambil berusaha membuka ikatan tali di tangan dan kakinya.
"Tolong!!"
***
"Udah setengah 10, lo harus cari pengganti Renata, Raf." kata Tiara yang baru saja datang ke lapangan.
Raffi melihat jam di tangannya, kemudian kembali mengedarkan pandangannya mencari Renata.
"Nanti dulu," katanya.
"Atau lo minta ke Tiffany buat gantiin dia?" saran Tiara ketika melihat Tiffany dan kedua temannya muncul dari ujung jalan.
Raffi menatap mereka yang tengah berjalan ke arahnya. "Tiffany kurang bisa baca puisi." katanya asal.
"Masa, sih?"
Raffi mengangguk kemudian menatap Tiara dengan wajah kelelahannya. "Gue minta sama lo, undurin waktu tampil gue sama Renata. Jadi jam 11 aja, gimana?" pintanya.
Tiara langsung menggeleng cepat. "Nggak bisa lah, Raf. Jam 11 itu waktunya kelas XII makan siang sekalian istirahat."
"Ya udah, kalo jam 1 gimana? Sekalian penutupan."
Tiara nampak berfikir keras.
"Bisa, sih. Tapi mungkin setengah 2, pas banget sama penutupan. Tapi masalahnya, nyambung nggak sama puisi lo nantinya?"
Raffi tersenyum lega. "Nyambung, puisi gue mah nyambung kemana aja."
"Ya udah, gue atur- atur sama Shafira dulu." katanya kemudian berjalan ke samping panggung.
Sepeninggal Tiara, Tiffany dan kedua temannya datang dengan wajah sumringahnya.
"Rok kamu kependekan," kata Raffi to the point ketika Tiffany sudah berada di hadapannya.
"Iya nanti di ganti." Tiffany tersenyum dengan manisnya.
"Dari mana?" tanya Raffi.
"Dari kelas, Raf. Abis make-up." balasnya nyengir.
"Serius? Tadi aku telepon ko nggak di angkat?"
Tiffany bingung mencari alasan apalagi. "Hmmm tadi aku-"
"Ngurusin Renata di gudang, Raf." celetuk Rayna dengan tampang polosnya.
Mendengar itu, Raffi menatap Tiffany tak percaya. "Lo apain dia disana, hah?" katanya dengan nada tinggi.
"Nggak, Raf, nggak ada Renata di sana. Aku abis dari kelas."
"Raf!"
Raffi melepaskan cekalan tangan Tiffany dengan kasar, ia langsung berlari menuju gudang sekolah yang jaraknya cukup jauh dari sini.
"Sialan! Ternyata Tiffany yang udah bikin semuanya kacau!"
Bersambung~
Hayoloooo ternyata ada udang di balik batu😂😂
Jangan lupa di like, komen dan Vote yaa!🥰 semoga sukaa 🖤