Last Taste

Last Taste
BAB 1. Raffi dan Renata



Pagi hari itu rasanya matahari bersemangat menyinari penghuni bumi. Embun-embun yang membasahi dedaunan sudah hilang terpapar teriknya. Sekumpulan burung sudah bosan berkicau dan telah meninggalkan.


Jalanan kota sangat ramai di padati. Suara klakson kendaraan saling bersahutan. Bising sekali. Beberapa pedagang asongan dan kaki lima juga sudah siap meraup rupiah di hari Senin pagi ini. Melengkapi hiruk pikuknya jalanan yang tak perdam padam keramaiannya setiap pagi.


Seorang gadis cantik dengan rambut tergerai panjang berdiri di antara bapak-bapak berbadan besar. Pagi ini ia terpaksa harus menaiki bis menuju sekolahnya karena terlambat bangun. Biasanya ia pergi bersama Ayahnya yang juga sekalian pergi ke kantor.


Pengap sekali rasanya. Ada beberapa jiwa di dalam bis itu dan otomatis nafas mereka saling membalas. Ia menyesal telah menonton film Drama Korea terbaru semalaman sampai pukul 3 pagi sehingga jam tidurnya hanya sebentar.


"Neng geseran, sempit nih."


Kata salah satu bapak itu membuyarkan lamunannya. Terlihat tangan bapak itu menggenggam kuat besi yang di siapkan untuk penumpang yang tidak kebagian tempat duduk. Sesekali tubuhnya menabrak gadis itu ketika mobil mengerem mendadak atau melintasi tikungan.


Gadis itu memutar bola matanya. Keringatnya sudah membanjiri wajahnya. Mau geser kemana lagi? Ini udah sempit begini. Badan lo kegedean.


Ya. Ingin sekali ia mengatakan seperti kalimat yang ada di hatinya. Namun yang keluar malah, "Ngga bisa, Pak." katanya pelan.


Beberapa menit setelahnya, bis berhenti tepat didepan gang besar yang sudah sepi. Gadis itu segera turun setelah membayar ongkos kepada konektornya. Ia berlari menyusuri gang untuk menuju gerbang sekolahnya.


SMA Negeri Poesara memang terletak di ujung dan harus memasuki gang. Untuk menuju SMA ini, kita akan melewati beberapa SD Negeri Poesara, SMP Negeri Poesara dan juga gedung Alfamart.


Jadi kebayang kan betapa jauhnya?


Saat ini, mungkin teman-temannya sudah ikut berbaris di lapangan untuk mengikuti upacara bendera. Hari Senin memang menyebalkan. Untuk Renata.


Ya. Renata Alifya.


"Woi, telat lagi lo?"


Suara itu berhasil membuat Renata berhenti berlarian. Ia menatap seorang lelaki dengan tampang pecicilannya. Sudah terlambat, harus lari-lari, ketemu dia pula?


Renata menghela nafas.


"Apa lo?" katanya galak. Langkahnya kembali terayun namun tak secepat tadi.


"Gue rasa lo selalu ngikutin gue. Kenapa gue sering terlambat sama lo? Lo suka gue?"


Ah! Selain pecicilan, tingkat kepedean lelaki itu memang sangat tinggi.


"Pede banget sih lo? Gue juga ngga mau terlambat lah. Lo kira enak lari-larian kaya gini?" balasnya sewot. Moodnya sudah berantakan.


"Halah, bilang aja lo pengen nomer WhatsApp gue, kan? Iya, kan? Cuma lo malu buat mintanya." lelaki itu terkekeh. Ia menatap Renata dari samping. Meskipun sudah berkeringat seperti sekarang, namun pesonanya masih terlihat cantik.


"Heh lo bisa ngga sih sehari aja ngga gangguin gue?" Renata berhenti berjalan. Ia menatap lelaki di hadapannya dengan nametag Raffi Haidar Fauzan. Lelaki so cool dan so romantis itu. Bodoh sekali para gadis yang suka dan bahkan mengejarnya.


"Gue ngga bisa. Nih sini Hp lo, gue ketik nomer WhatsApp gue. Sini?" Raffi menengadahkan telapak tangannya setelah ia mengacak rambut hitam terbelahnya.


Renata meringis. Ia benar-benar ilfeel dan berjanji tidak akan pernah terseret seret untuk menyukai lelaki itu.


Tanpa mengindahkan ucapan Raffi, Renata melanjutkan larinya. Bertemu Raffi memang selalu membuang-buang waktunya.


"Ren, woi gue belum selesai ngomong. Ngga sopan banget sih!"


 


\\\\\


 


Benar-benar menyebalkan.


Renata mencari celah gerbang untuk mencari Pak Mus, penjaga gerbang sekolahnya.


"Pak Mus.." panggilnya dengan suara tertahan. Ia tak mungkin berteriak sedangkan masih ada salah satu guru piket yang masih di sekitar sekolah. Apalagi OSIS yang menyebalkan itu.


Tapi nihil. Pak Mus tetap tidak mendengarnya. Rupanya ia sudah masuk dan larut di zona santuy nya. Kopi hitam dan koran di tangannya sudah merenggut paginya untuk membuka berita terkait negara tercinta.


"Pak, buka Pak."


"Sini sama gue," Raffi tiba-tiba saja muncul dan meraih tempatnya untuk bisa memanggil Pak Mus.


"Pak Mus, woi Pak!!"


Astaghfirullah. Renata mengelus dadanya. Harus ya dengan kata 'woi' ?


"Yes berhasil!!" mata Renata berbinar mendengar itu. "Apa lo?" balas Raffi ketika ia menatap gadis galak di hadapannya.


Renata sontak mendelikkan wajah.


"Kalian lagi kalian lagi.." keluh Pak Mus. Mungkin ia bosan karena dua sejoli itu sudah berlangganan terlambat. Apalagi setiap hari Senin.


Gerbang terbuka. "Jangan telat terus, Nak Raffi dan Renata. Bapak capek bukai gerbangnya apalagi kalo lagi santuy kaya tadi." katanya nyengir.


Raffi dan Renata ikut nyengir. Mereka masuk ke dalam setelah mengucapkan terima kasih. Sekolah ini memang masih menerima siswa/i yang terlambat datang. Namun tidak untuk bisa mengikuti pelajaran pertama karena mereka harus di hukum. Dan itu, sama sekali tidak masalah bagi seorang Raffi.


"Siap-siap lo, bersihin toilet lagi." katanya berjalan di samping Renata.


"Lo juga lah," balasnya sewot.


Raffi nyengir. "Ya gue mah ngga masalah. Emang lo,"


"Lo mah datang ke sekolah emang bukan buat belajar,"


"Terus?"


"Buat bersihin toilet sama buat gangguin gue."


Raffi tertawa keras dan sontak membuat Renata menutup mulutnya rapat-rapat. Gila sekali lelaki itu. Memangnya ia tidak tahu kalau mereka kini tengah berjalan menuju barisan kelasnya? Agar tak ikut di barisan siswa/i yang terlambat. Memalukan sekali.


"Lo gila banget sih."


"Kelepasan gue,"


"Hey kalian.."


Suara itu sontak membuat Renata terkejut. Pasti ada salah satu guru yang melihat keduanya. Dan itu pasti Bu Selly. Guru piket terkiler sedunia mungkin.


"Nahkan ******!"


Bersambung~