
Ujian Akhir Semester telah usai. Seperti biasa, setiap tahunnya SMA ini selalu mengadakan Classmeeting (Pertemuan antar kelas) untuk mengikuti setiap perlombaan yang di adakan seperti Volly, Basket, Futsal dan lainnya.
Tujuan di adakannya Classmeeting ini untuk memberi kesempatan kepada setiap siswa yang mengikuti ekstrakurikuler di bidang olahraga. Selain itu, untuk menunggu hasil rapat guru soal ujian akhir semester yang sudah di laksanakan seminggu lalu. Siswa/i yang masih bermasalah dengan nilai, atau harus mengikuti remedial, masih bisa di terima saat acara Classmeeting berlangsung.
Pagi ini, di hari pertama Classmeeting, perlombaan Basket putra sedang berlangsung. Lapangan sudah ramai di padati warga sekolah. Para supporter masing-masing kelas bersenandung ria menyemangati temannya yang tengah bertanding. Bahkan ada juga kelas yang membawa alat pukul seperti drum untuk memeriahkan permainan.
Dari kelas XI IPA 2, yang mewakili lomba basket putra adalah Raffi, Hendar, Derry, Sony dan Jaya. Mereka tengah bersiap-siap memakai jersey kebanggaan kelasnya. Sedangkan teman-teman yang lainnya sibuk menghafal yel-yel kelas. Kelas ini akan tanding setelah permainan pertama dan melawan kelas X IPA 1.
"Tetap kalem. Lawan kelas Sepuluh doang mah cil." kata Hendar dengan cengirannya. Lelaki itu sangat optimis karena ia benar-benar bisa mengalahkan kelas di bawahnya.
"Doa, jangan sombong." timpal Sony, membuat keempat temannya terkekeh.
Di sela-sela tawanya, Raffi mengedarkan pandangannya ke ambang pintu, ke sudut kelas, dan terakhir ke bangku Renata yang masih kosong.
Di mana gadis itu?
"Renata kayaknya kesiangan lagi, Raf." kata Hendar mengerti dari gerak-gerik Raffi.
"Ceileh, nyariin ratu kimia euy," timpal Jaya dengan kekehannya.
Raffi ikut terkekeh. "Mana mungkin dia kesiangan, dia tahu sekarang gue bakal main," gumamnya.
Tak lama, sosok Renata muncul di pintu kelas. Wajahnya sudah berkeringat, rambutnya berjuntaian sedikit menutup dahinya. Bibir gadis itu mengukir senyum ketika tatapannya tertuju pada Raffi.
Renata mendekat, "Semangat ya, cebong." bisiknya membuat Raffi bergidik. Gadis itu menaruh tas di bangkunya, kemudian ikut berkumpul dengan Firda dan teman-teman lainnya yang tengah membuat yel-yel dadakan.
Raffi terkekeh. Ia tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.
"Jiaaah, bucin..."
***
Setelah pertandingan pertama selesai, suara Tiffany dari sumber suara mulai terdengar. Gadis itu mengabsen nama kelas dan peserta yang mengikuti pertandingan untuk bersiap - siap memasuki lapangan.
Di sumber suara, Tiffany tidak sendirian. Ia di temani oleh anak OSIS kelas XI dan kelas XII lainnya. Seperti Tania, Rendy, Okta dan Haikal si ketua OSIS tahun ini.
"Teruntuk kelas XI IPA 2 dan X IPA 1, di harapkan berkumpul di lapangan karena pertandingan sebentar lagi akan di mulai," kata Tiffany dengan wajah cerianya menyebutkan nama kelas XI IPA 2.
"Di kelas XI IPA 2, ada Jaya, Sony, Hendar, Derry, dan Raffi.." lanjutnya menahan senyum. Beberapa teman di sampingnya mulai menyenggol bahu Tiffany, menggodanya.
Tiffany menatap lapangan basket yang masih kosong, sedangkan di lapang Volly mulai ramai karena sudah memasuki pertandingan pertama.
Beberapa menit setelah itu, sekumpulan kelas XI IPA 2 datang dengan Raffi dan Hendar yang berada di barisan terdepan. Raffi dan penghuni kelasnya menggunakan ikat kepala bertuliskan Vespa. Vespa adalah singkatan dari Vederasi Sebelas IPA 2. Jadi, di sekolah ini mengharuskan setiap kelasnya untuk menggunakan nama kelas. Seperti Vespa ini, misalnya.
Raffi dan keempat temannya langsung masuk ke lapangan, sedangkan teman-teman yang lainnya, termasuk Renata dan Firda, berada di tengah-tengah para supporter kelas. Mereka memegang spanduk besar bertuliskan;
You'll Never Walk Alone, Vespa!
Begitulah kira-kira tulisannya. Firda mulai memimpin pasukan yel-yel kelasnya dan langsung di ikuti teman-temannya. Teriakan kelas mereka sontak menarik perhatian seribu mata.
Adik-adik kelasnya langsung meneriaki nama Raffi ketika tahu bahwa lelaki itu sudah mulai bermain di lapangan.
"Bum bum bum ciki bum..
Bum bum ciki bum
Satu dua.. Bum bum bum...!"
Supporter kelas IPA 2 mulai rusuh ketika melihat Raffi yang terjatuh ketika hendak mempertahankan bola basket. Permainan sempat terhenti namun kembali lanjut atas permintaan Raffi sendiri.
Renata menatap lelaki itu khawatir. Ia tahu sedari tadi anak kelas X itu menatap Raffi tak biasa. Seperti ada rasa kesal yang Renata sendiri pun tidak tahu.
Namun karena pertandingan berlanjut, Renata tak begitu mempedulikan, ia fokus menatap Raffi berlaga di sana dengan bibir yang tidak bersuara keras meneriakkan yel-yel.
"Parah ganteng banget gila!"
"OMG! Lebih ganteng dari yang di foto..."
"Aaaah Raffi uwuuuu,"
Ya begitulah teriakan adik-adik kelasnya. Mereka bahkan rela tidak mendukung kelasnya sendiri dan memilih melihat Raffi bertanding.
"Tes tes.."
Di sela-sela permainan, suara dari mikrofon sumber suara terdengar. Suara itu mungkin tidak begitu di dengar banyak orang, namun sekarang Renata sangat memasang telinganya untuk mendengarkan. Ia tahu Tiffany yang akan berbicara di sana.
"Salam, untuk Raffi. Semangat main basketnya, Raf!"
Tiffany kembali menaruh mikrofon di depannya, ia fokus menatap permainan Raffi. Namun tanpa di duga, lelaki itu juga menatap ke arah sumber suara, melihat Tiffany dengan sesekali menyeka keringatnya.
***
Raffi mengambil air minumnya yang ia bawa dari rumah. Kelasnya memenangkan pertandingan pertama ini. Besok pagi ia dan team basketnya juga akan kembali bertanding sebagai pembukaan.
"Raf, yaaaah, aku udah bawain minum buat kamu." Tiffany tiba-tiba datang menghampirinya ke dalam kelas. Melewati Hendar, Derry, Sony, dan Jaya yang tengah selonjoran mengistirahatkan kakinya.
"Tuh, belum pada minum," Raffi menunjuk keempat temannya dengan dagunya.
Tiffany mengerucutkan bibirnya, "Kan aku beliin buat kamu." balasnya. Tak menyerah, gadis itu mengeluarkan sapu tangan lalu hendak mengelap keringat di sekitar wajah Raffi.
"Tif, plis, jangan berlaku seolah lo masih sama gue." Raffi menyingkirkan lengan Tiffany pelan.
"Raf, aku nggak minta apa - apa. Tapi tolong, hargain perhatian aku."
Bersamaan dengan itu, Renata muncul dari balik pintu, tangannya membawa satu botol minuman utuh. Langkah gadis itu terhenti di ambang pintu ketika melihat Tiffany ada di kelasnya.
"Eh, Ren, sini! Duh gue belum minum asli," kata Derry sedikit berteriak.
Teriakan Derry membuat Raffi dan Tiffany menoleh, menatap Renata yang kini melangkah ke arahnya.
"Ah iya! Buat kalian nih, sori tadi gue beli satu doang. Gue kira bendahara udah beliin satu dua air minum." katanya.
"Nggak apa - apa, satu botol ini cukup buat empat orang, ko." balas Jaya nyengir.
"Iya gue lupa nyuruh Shafira beli dus, ke mana ya tuh anak?" Hendar mengedarkan pandangannya, mencari sosok Shafira yang notabene nya adalah bendahara kelas.
"Di kantin mungkin." balas Renata.
"Ren," panggil Raffi pelan.
Renata menoleh dengan alis kanan yang terangkat.
"Nanti besok lo beneran ikut Volly?" tanyanya.
"Iya, gue gantiin Hani, besok dia nggak bisa ke sekolah katanya." jawab Renata.
"Wah bagus dong kalo Renata juga ikut Volly. Semoga kita bisa jadi lawan ya, aku juga bakal main," jelas Tiffany.
Renata menganggukkan kepalanya,
"Oke."
Bersambung~