Last Taste

Last Taste
BAB 23. Raffi, Ryan dan Kopi



Setelah makan malam, Raffi kembali memasuki kamarnya dan mengambil gitar kemudian menyendiri di balkon. Banyak sekali hal yang di fikirkannya dan membuat otaknya suntuk.


Siang tadi, Renata datang ke rumahnya. Raffi tidak tahu tujuannya apa, namun ia sudah berhasil mengatakan satu kebohongan.


Raffi tidak benar-benar kembali pada Tiffany, namun sepertinya itu harus ia lakukan sekarang demi melindungi perasaannya. Mengingat kini Renata tak lagi bersamanya dan menjadikan Ryan sebagai tambatan hatinya.


Kenapa harus Ryan? Temannya sendiri?


Raffi mengacak-acakkan rambutnya. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Raffi tidak bisa memaksa Renata untuk memilihnya dan meninggalkan Ryan begitu saja.


Tapi sekali lagi, kenapa harus Ryan?


Jrenggg


Suara petikan gitar itu terdengar. Raffi menatap langit malam yang terlihat mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan.


" *Terakhir ku tatap mata indahmu


Di bawah bintang-bintang


Terbelah hatiku


Antara cinta dan rahasia*. "


Memori kebersamaannya dengan Renata terputar di benaknya. Jika saja Raffi menyatakan cintanya sejak itu, pasti Ryan tidak akan mengincar Renata.


"*Ku cinta padamu


Namun kau milik sahabatku


Dilema.. hatiku


Andai ku bisa berkata sejujurnya*."


Lagu yang berjudul Cinta dan Rahasia itu Raffi nyanyikan dengan dalamnya. Entahlah rasanya begitu menyakitkan melihat kedatangan Ryan bersama Renata siang tadi.


Mungkin mereka sudah terikat hubungan, mungkin juga Renata sudah tidak segalak dulu dan berubah menjadi Renata yang manja.


Biasanya seorang gadis akan seperti itu, kan? Setelah mendapatkan lelaki dan menjadikannya sebagai kekasih.


" *Jangan.. kau pilih dia


Pilihlah aku


Yang mampu mencintamu


Lebih dari dia..


Bukan.. Ku ingin merebutmu


Dari sahabatku


Namun kau tahu


Cinta tak bisa


Tak bisa di paksakan*."


Raffi larut dalam nyanyiannya. Lelaki itu menghela nafas, kemudian mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat disana.


**To Tiffany:


Besok gue jemput lo kesini, Rifal mau ketemu.


Send**-


Setelah mengirim pesan itu, ponselnya bergetar dan menampilkan nama Ryan di sana. Temannya itu menelepon disaat Raffi benar-benar pusing memikirkannya.


Raffi men-slide tombol hijau kemudian panggilan terhubung.


"Halo?" sapa Raffi mendahului. Apapun alasannya, Ryan tetaplah temannya.


"Raf," panggilnya


"Kenapa, Yan?"


"Gue mau ngomong serius. Gue sayang sama Renata." kata Ryan di seberang sana.


Raffi terkekeh.


"Gue rasa pembahasan seperti ini nggak enak banget kalo dibahas di telepon." balas Raffi.


"Karena lo ngerasain hal yang sama, kan? Kaya gue." tebak Ryan.


"Nggak." Raffi menyangkal. Meskipun sebenarnya iya, namun ia harus pintar-pintar menyembunyikan perasaannya.


Tidak semua rasa harus di sampaikan, kan?


"Oke. Sekarang kita ketemu, ngopi di kafe biasa."


"Sip."


Panggilan selesai. Raffi langsung bergegas keluar kamar dan mengambil motornya di bagasi, kemudian menemui Ryan yang rumahnya cukup dekat dengan kafe langganannya.


***


Di sisi lain, Renata menatap notebook di hadapannya. Membuka kembali puisi-puisi hasil karyanya. Ada juga puisi yang sengaja Raffi buat di beberapa lembar notebook itu.


*Ragaku terayun


Tak sabar menemui jiwa manis


Perasaanku bersenandung


Getir dan teriris


Teman tanpa isyarat cinta


Rasa tanpa balasan raga


Dentuman luka dan lara*.


Bibir gadis itu menyunggingkan senyuman setelah membacakan puisinya. Kalimat di puisi Raffi selalu puitis, sangat jauh berbeda dengan tingkahnya yang membuat semua orang tersenyum miris.


"Gue nggak nyangka banget lo berfikiran seperti itu. Gue sama sekali nggak suka sama Ryan, apalagi jadian sama dia." gumamnya.


Mungkin hanya di waktu sunyi dan tempat yang sepi seperti ini Renata berani mengatakan perasaannya.


"Meskipun gue akhir-akhir ini sering bareng sama Ryan, bukan berarti gue bales perasaan dia."


Renata tersenyum tipis. Bayangan ketika Raffi yang menganggapnya sudah menjalin hubungan dengan Ryan, masih terputar di kepalanya.


"Tapi gue juga nggak suka sama lo, Raf. Seperti kata lo, kita cuma temenan, kan?" lanjutnya tertawa miris.


Renata bingung harus melakukan apa. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Galau, bingung dan tidak tahu tujuan.


"Lo juga udah balikan lagi sama Tiffany, kan? Ya udah mungkin kita emang harus biasa-biasa aja."


Renata kembali membuka-buka lembaran notebook nya. Menghilangkan rasa bosan dan jenuhnya. Kalau hubungannya dengan Raffi masih membaik, mungkin sekarang mereka tengah teleponan atau cahatting dengan saling meledek.


***


Raffi menuruni motornya yang sudah terparkir di parkiran kafe. Lelaki itu tidak menggunakan helm karena jarak rumahnya tidak terlalu jauh dengan kafe.


Raffi memasuki kafe yang cukup ramai di kunjungi. Pandangannya mengedar, mencari Ryan yang pastinya sudah sampai terlebih dahulu.


Akhirnya ia menemukan Ryan yang duduk di kursi paling pojok, dekat kaca pintu samping kaca yang memperlihatkan jalanan kota.


Raffi mendekat, kemudian menepuk bahu temannya itu. Sedari awal, Raffi sudah membentengi dirinya untuk bersikap biasa saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Udah lama lo?" tanyanya seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan Ryan.


"Baru sampe." balasnya.


Ryan kemudian meneriaki waitress untuk memesan menu, tatapannya beralih kepada Raffi, "Mau pesen apa lo?" tanyanya.


"Kopi aja."


"Kopi seperti biasa, 2." katanya ketika waitress itu datang. Waitress itu mengangguk seraya mencatat pesanan.


"Di tunggu ya, Mas."


Raffi dan Ryan mengangguk.


Sepeninggal waitress tadi, suasana menjadi hening. Sampai Ryan berdehem tidak nyaman dengan keadaan seperti ini.


"Gue mau bahas Renata." katanya memulai.


Raffi mengangguk mengiyakan. Mempersilahkan Ryan mengungkapkan isi hatinya kepada Renata yang belum Raffi tahu. Selama ini, meskipun mereka sering bertemu dan latihan basket bersama, Ryan tidak pernah bercerita apapun tentang Renata kepada Raffi.


Namun Raffi pernah memergoki Ryan yang tengah memerhatikan Renata ketika gadis itu keluar dari kelasnya bersama Firda. Saat itu Raffi tidak berfikiran apapun karena ia tidak pernah menyangka Ryan menyukai Renata.


Raffi tahu semua mantan kekasih Ryan, dan dari banyaknya gadis-gadis itu tak ada satupun yang sama seperti Renata. Tidak ada yang galak, sangar, tomboy, semuanya feminim.


"Gue tanya lo, lo beneran nggak ada hubungan apa-apa sama Renata?" tanya Ryan serius.


Raffi mengangguk. Kalau rasa, tentu jawabannya ada.


"Gue tahu selama ini kalian selalu bareng, apalagi kalian satu kelas. Pasti sering banget ketemu, dan itu mustahil banget kalo lo nggak suka sama dia."


Raffi terdiam sebentar, menyusun kata-kata yang nantinya tidak akan menyakiti Ryan, dan juga hatinya.


"Seperti yang lo lihat, kita sering berantem, adu mulut dan apapun itu yang memancing keributan. Tapi di balik itu, kita juga sama aja. Nggak ada rasa apa-apa selain hanya teman." balasnya seraya menghela nafas. Ini begitu menyesakkan dadanya.


Ryan terkekeh. "Gue udah lama sering merhatiin Renata. Gue rasa dia cewek yang beda dari semua deretan mantan gue."


"Lo jangan sakitin dia kalo bener-bener sayang." kata Raffi langsung membalas.


"Nggak akan, gue bakal jaga dia."


Sesaat kemudian waitress yang berbeda datang mengantarkan pesanan dan menaruhnya di atas meja.


"Makasih, Mbak." kata kedua lelaki itu bersamaan. Pelayan itu tersenyum dan kembali meninggalkan.


"Gue mau tanya, Renata selalu ceplas-ceplos nggak kalo sama lo?" tanya Ryan melanjutkan.


Raffi tertawa pelan, bayangan wajah Renata yang memerah akibat rasa kesalnya itu terngiang di ingatan Raffi.


"Selalu, dan itu gue gara-gara nya. Kalo gue nggak gangguin dia terus, dia juga nggak bakal berani ceplas-ceplos." jawabnya.


"Kalo sama gue, dia dieman. Kalem banget." kata Ryan bertolak belakang.


"Terus deketin aja, buat dia luluh. Gue yakin seorang Ryan mana mungkin kalah meluluhkan hati seorang gadis." Raffi terkekeh. Padahal hatinya mengatakan hal yang lain.


Raffi menyeruput kopi panasnya pelan-pelan. Menunggu Ryan membalas sarannya tadi.


"Gue udah nembak dia."


Raffi sontak terkejut dan sedikit menyemburkan kopinya ke udara. Beruntungnya, jarak duduknya dengan Ryan cukup jauh, jadi temannya itu tidak terkena semburannya.


Raffi langsung tertawa untuk menyembunyikan rasa terkejutnya. "***** panas banget nih, kopi." katanya.


Ryan mencoba tertawa pelan meski sedikit merasa aneh.


"Terus, lo udah dapat jawabannya?" tanya Raffi dengan penasaran.


"Belum. Besok sih keputusannya."


Raffi menghela. Lelaki itu jadi merasa bersalah telah menuduh Renata siang tadi. Rupanya ia salah paham, Renata belum terikat hubungan dengan temannya ini.


Penyesalannya mulai datang menghantui. Andai saja siang tadi Raffi mau mendengarkan penjelasan Renata, mungkin gadis itu bisa saja mengulur perasaannya untuk Ryan. Namun ya sudahlah.


"Ya, semoga dia terima lo."


Bersambung~~