Last Taste

Last Taste
BAB 12. Puisi dan Kimia



"Seperti ini aja ya? Kalau ada ikatan, lo bakal pergi."


- Last Taste -


***


"Makan yang banyak. Biar lo ngga rata, setidaknya ada isinya sedikit." ledek Raffi ketika Renata berusaha membuka cangkang kepiting rebus di hadapannya.


Kedua sejoli itu masih berada di mall. Renata memesan seafood, berdua dengan Raffi. Sedari tadi Raffi tidak berhenti meledek dan mengganggu Renata. Dan sedari tadi pula lengan Raffi mendapatkan tinjuan dari Renata.


"Bisa ngga sih bukanya?" Raffi gemas sendiri. Ia meraih kepiting dari tangan Renata dan membuka cangkangnya.


"Gini doang susah," katanya kembali memberikan kepitingnya.


"Berisik, Raf. Gue mau makan, lo jangan ngajak ribut terus." Renata memohon.


"Iya, makan yang banyak." ucap Raffi dengan kesekian kalinya.


Renata menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Tahan!


***


Renata menuruni motor Raffi ketika mereka sudah berada di depan gerbang rumah lelaki itu. Raffi juga ikut turun untuk membuka kunci gerbangnya.


"Sebentar ya, sengaja gue kunci." kata Raffi dengan kekehannya. Renata membalas dengan deheman.


Setelah gerbang terbuka, Raffi dan Renata kembali menaikkan motornya dan memasuki rumah. Hari ini Renata akan mengajarkan Raffi beberapa soal dasar kimia. Ya setidaknya, lelaki itu mengerti sedikit.


***


"Lo mau minum apa?" tanya Raffi setelah mempersilahkan Renata duduk di sofa ruang tamu.


"Apa aja." balas gadis itu malas. Ia sudah cukup kenyang karena tadi baru selesai makan.


"Oiya, lo mau di sini atau di kamar gue?" goda Raffi yang langsung mendapat tinjuan dari Renata.


"Kebiasaan!" kesalnya.


"Mumpung sepi, Ren." Raffi terus menggoda. Lelaki itu menatap Renata dengan menahan tawanya.


"Bodo amat."


"Ayo, Ren. Yakin lo nolak gue?"


Bugh!


"Pergi lo!" usir Renata galak. Raffi langsung ngacir dengan tawanya yang sudah meledak.


Renata menatap sekeliling ruang tamu minimalis namun rapi itu. Sepertinya Raffi tidak memiliki asisten rumah tangga, karena dari tadi seisi rumahnya sepi-sepi saja.


Raffi kemudian datang dengan nampan berisi minuman berwarna. Ia menaruhnya di meja, berhadapan dengan Renata.


"Gue males ambil bukunya, nanti belajar di balkon kamar aja." katanya.


Renata menghela nafas, sebenarnya ia bosan menimpali. Untuk apa ke kamar lelaki itu kalau di sini saja sudah cukup?


"Di sini aja, Raf."


"Ya udah iya."


Akhirnya. Raffi mengalah. Namun lelaki itu malah tiduran di sofa panjang, tidak langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil beberapa buku pelajaran.


"Sana ih ambil bukunya," Renata menarik rambut Raffi gemas.


"Sebentar, gue masih ngantuk." katanya dengan mata terpejam.


"Raf, udah jam 2, gue ngga boleh balik terlalu sore." Renata kembali menarik kerah kemeja lelaki itu.


Raffi terbangun dari tidurannya.


"Jangan sampai terpisah


Kita adalah raga yang ingin bersama


Tunggu aku


Kamu, jangan buka pintu untuk yang lainnya."


Kata Raffi dengan senyum tipisnya. Renata menjadi bingung sendiri. Ingatan ketika Ryan datang dan menawarkan pulang bersama, terbayang seketika.


"Bentar ya."


Raffi beranjak bangun untuk mengambil beberapa buku di kamarnya.


Sepeninggal Raffi, Renata meminum air di depannya untuk mencairkan tenggorokan. Tadi, mungkin ia terlihat tegang ketika Raffi membacakan beberapa baris puisi langsung di hadapannya.


Kenapa ia jadi seperti ini sih? Membuat canggung saja.


Jreeeeng.


Suara petikan gitar itu mengagetkannya. Raffi datang dengan menggendong tas dan menenteng gitar cokelatnya.


"Belajar." kata Renata. Tentu ia akan memilih belajar karena itu adalah prioritas.


"Iya deh, Bu guru." balasnya.


"Coba sini, soal mana yang ngga lo fahamin sampai sekarang?" tanya Renata seraya mengambil buku paket kimia di depannya.


"Semua." Raffi nyengir.


"Seriusan. Masa lo ngga faham semua materinya? Terus dua tahun di SMA, lo ngapain aja?" kesal Renata.


"Ngga tau, asli. Gue mana faham kaya gitu."


"Ya udah sini gue ajarin tentang atom aja. Lo tahu apa pengertian atom?"


"Lupa gue."


Renata ingin sekali menepuk jidatnya lalu mengeluarkan semua isi yang ada di kepala Raffi.


"Atom adalah suatu satuan dasar materi, yang terdiri atas inti atom serta awan elektron bermuatan negatif yang mengelilinginya. Sampai sini faham?" Renata memastikan. Ia tidak mau jika mulutnya sudah berbusa menjelaskan namun Raffi tidak juga mengerti apa yang di ucapkannya.


Renata juga membuat coretan apa yang di jelaskan ya supaya Raffi mendapatkan bayangan dan mengerti.


Raffi mengangguk.


"Oke. Inti atom terdiri atas proton yang bermuatan positif, dan neutron yang bermuatan negatif. Elektron-elektron pada sebuah atom terikat pada inti atom oleh gaya elektromagnetik."


"Ini juga pernah di jelasin sama Pak Wawan." Raffi mulai bosan.


"Ya emang pernah di jelasin. Kan gue fotocopy ulang. Gimana sih!"


Raffi nyengir. "Oke lanjutkan." katanya.


Dan begitulah mereka. Renata mengajarkan kimia kepada Raffi sampai pukul 3 sore. Sebenarnya 30 menit saja otak Raffi sudah tidak kuat menampung unsur-unsur kimia, namun gadis itu sudah membuat target hingga satu jam.


Renata membereskan buku-bukunya kemudian memasukkannya kedalam tas Raffi.


"Lo cape ngga sih tiap hari belajar terus?" tanya Raffi penasaran.


Renata terdiam. Cape banget dan ingin biasa saja seperti siswa pada umumnya. Namun ia tidak mengatakan yang sejujurnya. Oke, Raffi tidak perlu tahu.


"Ya biasa aja." katanya.


"Ya udah. Mau nyanyi apaan nih," Raffi mulai mencairkan suasana setelah beberapa detik tadi cukup hening. Ia mengambil gitarnya kemudian memangkunya di paha.


Jrenggg.


"*Aku tak pernah mau memberikan hati terlebih dulu


Aku tak akan sudi, lebih baik aku sendiri dulu


Dan seribu kali aku katakan sendiri


Bahwa tak ada lagi yang sempurna, sempurna*


*Tapi itu dahulu sebelum aku bertemu dengan kamu kekasihku


Dan yang ingin ku lakukan hanyalah untuk selalu 


Memelukmu, Menciummu kekasih*.."


"Lagu apa sih?" tanya Renata yang sedari tadi diam mendengarkan Raffi bernyanyi. Suara lelaki itu memang cukup bagus. Renata mengakuinya.


"Itu soundtrack film Roman Picisan, lo ngga tau?" tanya Raffi heran.


"Ngga. Asli."


"Ya udah nanti gue kirim lagunya ya, nanti lo dengerin aja."


"Biar apa?"


"Ya dengerin aja. Enak banget. Lo juga belum tentu bisa nyanyinya," ledek Raffi dengan kekehannya.


Renata sontak meninju lengan Raffi. Lelaki yang tidak tahu terimakasih. Padahal ia sudah mengajarkan dirinya kimia kan, tadi?


"Lo ngga tahu diri banget sih. Awas aja minta di ajarin kimia lagi. Ogah gue,"


Raffi terkekeh. "Iya sori bos. Ya udah lo mau balik?" Renata mengangguk dan beranjak bangun.


"Sebentar, gue ambil jaket dulu. Takut hujan,"


"Takut tuh sama Tuhan, bukan saja hujan."


"Iya Bu haji."


Bersambung~


Jgn lupa di like, komen dan Vote ya!!🥰