Last Taste

Last Taste
BAB 18. Si Puitis Raffi



"Aku nggak tau apa - apa soal Renata yang kemarin pinsan." Tiffany memegang bahu Raffi dengan kedua tangannya. Menatap lelaki itu yang kini wajahnya penuh kekesalan.


"Lo nggak usah bohong," balas Raffi dengan penekanan di setiap kata nya.


Tiffany terkekeh, pandangannya beralih kepada sekitaran taman di hadapannya. Banyak orang - orang yang masih melakukan lari pagi di hari minggu ini.


Kemarin sore, Raffi menghubungi Tiffany untuk menemuinya di taman kota. Sepagi ini mantan kekasihnya itu datang padahal Raffi memintanya pukul 12 siang.


"Eh gue liat sendiri lo selalu ngarahin bola ke Renata terus. Emang lo cuma main berdua sama dia? Sedangkan di sana banyak orang yang masih bisa lo alihkan dari Renata." jelas Raffi menahan kesal.


"Raf kamu di kasih racun apa, sih, sama Renata?" tanya Tiffany.


"Oke nggak apa - apa kalo lo masih belum mau ngaku. Gue pergi," Raffi beranjak bangun diikuti Tiffany seraya memegang tangannya.


"Raf, kamu beda banget sekarang." kata gadis itu menatap wajah Raffi yang sudah di tumbuhi bulu - bulu di bawah hidungnya.


"Setiap orang itu pasti berubah. Gue udah mengenal lo cukup baik, tapi tolong, jangan ubah sikap lo hanya karena lo kehilangan gue."


Tiffany menjitjitkan kakinya untuk bisa mendekatkan wajahnya ke arah Raffi, maklum saja tinggi lelaki itu setara dengan anak tower. Nafas Tiffany menerpa seluruh permukaan wajah Raffi yang terdiam mematung.


"Aku tetap sayang sama kamu meskipun kamu bukan lagi Raffi yang dulu. Kamu tahu sampai saat ini, pun, belum ada yang bisa gantiin kamu." katanya pelan.


Raffi menahan nafasnya. Lelaki itu menelan ludahnya mati - matian. Entahlah, tiba - tiba saja memori kebersamaan mereka satu tahun silam kembali terputar di kepalanya. Termasuk ketika ia mengetahui sendiri saat Tiffany ternyata mempunyai seseorang di belakangnya.


"Gue udah nggak sayang. Lo masih kurang jelas?" balas Raffi tertahan. Menatap Tiffany yang kembali ke posisi semula.


"Segitunya kamu belain Renata?" Tiffany terkekeh. Ia mengambil tas selempangnya yang tergeletak di atas bangku taman.


"Kamu bahkan nggak peduli lagi sama aku. Mungkin sekarang di pikiran kamu cuma ada Renata Renata dan Renata." kesalnya.


"Lo kenapa sentimen banget, sih? Gue ngajak lo ke sini bukan buat bahas itu, tapi bahas soal Renata yang pinsan kemarin." tegas Raffi.


"Terserah, aku pergi."


"Oke, silahkan."


Raffi menatap kepergian Tiffany dengan helaan nafasnya. Ia kembali duduk di bangku taman, menetralkan kembali jantungnya yang tadi berdegup tidak normal.


Ia mengambil ponsel di saku celananya, mengirim pesan singkat. Setelah itu, Raffi beranjak bangun mendekati motornya yang terparkir dekat jalanan.


***


Drtttttt


Renata mengucek matanya ketika ponsel yang berada tepat di sampingnya bergetar. Masih dengan setengah sadar, tangan gadis itu meraba mencarinya.


**1 message from;


Raffi Cebong; Gue otw ke rumah lo, sekarang**.


Renata terdiam sebentar, mencerna isi pesan itu, kemudian ia terbangun dari tidurnya. Membaca kembali pesan Raffi yang di kirimnya beberapa menit lalu.


"Dasar cebong, kenapa dadakan gini, sih? Nggak tau gue ngantuk banget, apa?" kesalnya.


Ah ayolah! Rasa pusingnya akibat terkena lemparan bola volly itu masih terasa sampai sekarang. Apalagi besok Senin, classmeeting kembali di lanjutkan dan ia harus kembali bermain, mengingat Hani tidak bisa ikut bermain.


Sabtu kemarin, kelas XI IPA 2 memang berhasil mengalahkan kelas Tiffany yang notabenenya adalah ratu Volly. Karena memang rata - rata di kelas itu, siswa perempuannya mengikuti ekstrakurikuler Volly. Jadi kemungkinan besar, mereka bisa menggantikan salah satu temannya yang tidak kuat melanjutkan pertandingan.


Drttttt


Ponselnya kembali bergetar. Nama Raffi muncul di layarnya. Renata menghela nafas. Ia sengaja tidak mengangkatnya.


Renata langsung menuruni kasur, mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Berharap Raffi masih ada di jalan dan sedang terjebak macet.


***


"Lo tuh kenapa pagi - pagi banget, sih?" kata Renata seraya berusaha memakai helm dengan tangan kirinya yang menggenggam tas selempang.


Raffi sudah tiba di rumahnya tepat ketika Renata menunggunya di teras rumah. Tadi ketika lelaki itu menelfon, Raffi tengah berada di Alfamart dan menawarkan Renata untuk di belikan sesuatu.


"Pelan - pelan makenya, lo ngebet banget jalan sama gue." Raffi terkekeh. Ia membantu Renata memasangkan helm di kepalanya.


"Eh yang ada lo kali yang ngebet. Gue masih enak tidur, lo udah gangguin aja. Ngerusak mimpi tau ga?" Renata melotot garang. Ia telah selesai memasangkan helm, kemudian naik di belakang Raffi.


"Eh lagian lo anak perempuan juga bangunnya siang terus. Pamali tau ga lo? Pamali." Raffi mulai menyalakan gas motornya.


"Ya terserah gue lah. Ini, kan, hari Minggu. Free dong?" belanya.


"Iya terserah lo aja, Siluman."


Renata mendorong bahu Raffi hingga tubuh lelaki itu sedikit maju ke depan. "Apaan sih, Ren?" kesalnya.


"Lo bisa nggak sih, sekaliii aja ngalah sama gue?"


"Lo tuh ya. Ngalah dong, gue kan cewek."


"Oh ya? Gue baru tahu masa."


Renata menggetok helm yang di pakai Raffi. Lelaki itu meringis.


"Lo seneng banget kayaknya ngezholimin gue. Salah apa gue sama lo, kampret." Raffi memelas.


"Banyak!"


"Iya ya udah gue mah emang selalu salah di mata lo,"


"Yaudah buruan jalan! Lelet banget sih, cebong di sawah aja liar."


"Ya sabar dih ratu! Btw gue belum pamit ke Mama lo." kata Raffi.


"Gue udah bilang mau pergi sama lo."


"Ya udah. Otw sekarang nih, ya?"


Bugh!


"IYA NYONYA RENATA, INI GUE MAU JALAN SEKARANG JUGA."


****


Rafffi dan Renata kini sudah berada di salah satu museum puisi di kota. Tadi di jalan, mereka sempat tak ada tujuan hendak pergi ke mana. Saat itu juga Raffi mengusulkan untuk pergi ke museum puisi, tempat yang pernah ia datangi dulu bersama Ayahnya.


"Kenapa lo nggak ajak gue ke museum kimia? Kan enak tuh." kata Renata seraya melihat - lihat karya puisi dari orang - orang hebat yang terpajang di setiap dindingnya.


Museum ini selalu ramai jika hari libur. Tempatnya cukup luas dengan bangunan yang terbuat dari kayu jati. Terlihat modern namun tak melupakan sejarahnya.


Di sana, setiap puisi di tulis di selembar kertas cokelat. Tulisannya rapi, puisi dengan banyak majas dan tidak bisa di bayangkan dengan logika. Para sastrawan yang membuat puisi seindah itu berpuluh - puluh tahun silam. Meninggalkan kesan haru lewat tulisan puitis untuk pemuda negara tercinta.


"Dulu, waktu gue SD, gue sering di ajak Bapak gue ke sini." kaat Raffi. Mereka sudah jauh melangkah, menyusuri ruangan hingga masuk ke bagian lebih dalam.


"Asli sih, ini keren - keren banget. Gue baru pertama kali ke sini." balas Renata tanpa menatap Raffi.


Raffi terkekeh. "Kalo gitu, gue bakal sering - sering ajak lo ke sini." katanya.


"Boleh."


Langkah Renata terhenti ketika Raffi menahan jalannya. Lelaki itu bersender di dengan kedua tangan yang di lipat di depan dadanya. Menatap Renata yang juga menatapnya aneh.


"Kenapa lo?" tanya Renata.


"Semburat senyummu mematikan


*Aku terpesona tanpa kata


Untaian rambutmu menggairahkan


Tolong, jangan diamkan aku dalam diam.


Biarkan puisi sejarah ini menjadi penonton


Menjadi saksi bisu


Bisu, aku tidak bisa berucap


Katakan cinta, tepat di bola matamu*."


Renata terdiam, ia kesulitan menelan ludahnya. Gadis itu bingung harus berbuat apa. Raffi membacakan puisi tepat di hadapannya, dengan kalimat - kalimat manis tidak seperti biasanya. Raffi memang selalu manis ketika sedang membacakan puisi, berbeda jauh dengan tingkah aslinya.


Raffi menatap dalam bola mata Renata. Beberapa detik kemudian lelaki itu terkekeh melihat Renata yang sudah salah tingkah dengan ketegangannya.


"Jangan Geer, puisi itu bukan buat lo."


Wajah Renata memerah, menahan amarah. Bisa - bisanya ia terenyuh dengan puisi lelaki itu. Bisa - bisanya ia masuk ke dalam jebakan oleh tatapan mata Raffi tadi.


Raffi mulai berjaga jarak. Ia cukup ketakutan melihat Renata dengan wajah seperti singa kelaparan ini. Lelaki itu langsung melarikan diri, menyelamatkan nyawanya.


"Dasar, Cebong!"


"Awas lo!!"


Bersambung~


Hahaa kali ini Raffi nya ngeselin ya😂😂 semoga suka yaa. Jangan lupa Like, Komen dan Vote ok!!🥰