Last Taste

Last Taste
BAB 15. Menjenguk Kevin



Susana kelas sangat hening. Siswa/i fokus mengerjakan soal-soal ujian. Untuk jurusan IPS, mereka kembali bertemu dengan pelajaran Ekonomi yang menjadi sarapannya pagi ini.


Sedangkan jurusan IPA, kini mereka tengah bergulat dengan rumus kimia dan senyawa lainnya. Sangat menguras otak. Namun berbeda dengan Raffi. Lelaki itu malah memerhatikan gadis di sampingnya. Sudah dua hari kemarin adik kelasnya itu mengganggu dirinya mengerjakan soal. Tapi sekarang ko kelihatannya dia jago ya ngerjain Ekonomi?


Raffi mengalihkan tatapannya kepada Renata yang duduk di belakangnya. Bukan Renata namanya kalau tidak serius mengerjakan soal. Lihat saja sekarang, alisnya saja sampai mengkerut. Raffi tidak mungkin kan mengganggu gadis itu? Ia kembali menatap lembar kerja soal di hadapannya. Banyak rumus, senyawa, atom dan kawan-kawannya yang tidak di mengerti.


Raffi sendriri heran dan merasa aneh terhadap dirinya. Ia sudah belajar lebih dari dua kali bersama Renata, namun tidak ada satupun yang nyangkut. Masuk sih tapi setelah itu keluar lagi.


"De," panggil Raffi berbisik kepada adik kelasnya. Gadis itu sontak menatap Raffi senang.


"Iya, Kak?" tanyanya.


"Fokus banget, emang bisa ngerjainnya?" ledeknya dengan terkekeh.


"Bisa dong. Aku pernah ikut olimpiade Ekonomi dan dapat juara 1." balasnya yang membuat Raffi tercengang.


Buset.


"Kalo ngerjain kimia bisa ngga?" tanyanya sangat pelan. Pelan sekali. Karena yang mengawas ruangannya hari ini adalah Bu Selly.


"Apalagi kimia, gampang!" kata gadis kecil itu yang lagi-lagi membuat Raffi cengo. Tak percaya.


"Nih liat dulu soalnya."


Gadis itu, Gisel, memerhatikan soal kimia kelas XI. Bibirnya mengukir senyum.


"Gabisa, kan, lo?"


"Ih segitu gampangnya. Ini nomor satu isinya C, pengertian atom menurut Delthon. Masa Kak Raffi ngga tau sih? Ini mah soal kelas X juga ada."


"Lo anak IPS tapi ngerti kimia?" tanya Raffi tak percaya.


Gisel mengangguk. "Pernah les privat pelajaran kimia juga waktu SMP."


"Kenapa lo ngga masuk ke IPA?"


"Males, Kak. Di IPA tuh banyak prakteknya, aku ga suka praktek." balasnya kembali mengerjakan soal.


Raffi mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya udah lanjutin dong ngisi soal gue." katanya terkekeh. Sesekali ia menatap ke depan, memastikan Bu Selly masih duduk di bangku pengawasnya.


"Nanti, Kak. Aku lagi ngitung duit gaib dulu." kata Gisel pelan.


Raffi mengernyit, "Duit gaib?" tanyanya aneh.


"Ya duit gaib, ini aku lagi ngitung duit sampe jutaan tapi ngga ada duit yang aslinya." Gisel tertawa pelan, diikuti Raffi setelahnya.


"Kampret." Raffi tak tahan ingin tertawa keras saat itu juga.


"Raffi! Sedang apa kamu?!"


Bu Selly tiba-tiba saja menegur. Raffi sontak terkejut dan mendadak diam, termasuk seisi kelas yang langsung menatap Raffi. Wanita itu menatapnya tajam lewat kacamata bolong yang di pakainya.


"Minjem tip-x, Bu." jawabnya seraya mengacungkan tip-x sebagai bukti. Sekali lagi, padahal itu tip-x miliknya.


"Jangan mencontek. Kalau masih ngeyel mencontek, Ibu ngga akan segan-segan merobek kertas ulangan kamu!" katanya.


"Ibu ngga mau di bacain puisi lagi?" tanya Raffi dengan wajah polosnya. Terdengar suara tawa teman-temannya yang tertahan. Dan..


Dugh!


Bangkunya di tendang dari arah belakang. Raffi belum berani menoleh karena Bu Selly masih menatap ke arahnya.


"Nanti saja." katanya kembali fokus pada ponselnya. Raffi dan teman sekelasnya menahan tawa kecuali anak kelas X yang terlihat ketakutan.


Setelah memastikan suasana hening kembali, Raffi menoleh ke belakang. Di lihatnya Renata yang menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan.


"Lo masih ngga bisa aja?" tanya gadis itu memutar bola matanya. Sepertinya ia sudah menyelesaikan semua soal ujian, sedangkan Raffi masih bertahan di nomor 1 Pilihan Ganda. Itupun jawabannya di beritahu oleh Gisel.


"Pusing," Raffi memelaskan wajahnya. Ia berharap semoga Renata berbaik hati membagikan jawaban untuknya.


"Kerjain cebong! Waktunya 20 menit lagi." sentaknya dengan suara tertahan.


"Males. Kerjain dong." katanya.


"Ih ngga mau. Udah cepet kerjain."


"Bagi-bagi dong nomor satu sampe dua puluh doang."


Raffi menghela nafas. Ia kembali menatap kertas ujiannya yang masih kosong melompong. Bersih tak ada coretan.


Dugh!


"Iya ini gue kerjain!!"


Raffi berteriak dan sontak berbalik ke belakang menatap Renata yang tengah menelungkup kan wajahnya di meja. Sepertinya bukan Renata.


Suara tendangan kursi itu di lakukan oleh Reza, teman sekelasnya yang juga tengah meminta jawaban kepada Sony yang duduk tepat di depannya.


"Raffi!!"


Nahkan, ia sudah dua kali membuat macan bangun bernama Bu Selly.


***


"Lo gila banget! Bersyukur lo kertas ujian Lo ga di robek!" Reza berteriak seraya memasukkan pensilnya ke saku celana. Lelaki itu tidak membawa tas ke sekolah, hanya membawa satu pensil dan itupun pensil yang ia pinjam dari adik kelasnya.


Ulangan hari ini, hari ketiga sudah selesai. Bu Selly sudah keluar kelas setelah hampir lima jam guru piket itu mengawas 2 pelajaran sekaligus. Tanpa istirahat.


"Lo yang gila! Ngapain lo ikut tendang-tendang kursi kaya gitu, kampret." balas Raffi ngegas. Ia beruntung sekali Bu Selly masih mau memaafkannya.


Sony dan teman-teman sekelasnya tertawa memerhatikan pertikaian lucu antara Raffi dan Reza, anggota kelas XI IPA 2 yang hobinya tidur.


"Lo kira yang nendang kursi lo Renata ya?" Reza ikut tertawa. Tatapannya tertuju pada Renata yang tengah memasukkan alat tulis ke dalam tasnya.


"Udah jangan ribut. Gedek banget ih gue dengernya." kata Renata yang sudah siap menggendong tasnya.


"Kuy ah balik." Reza kemudian berlalu pergi keluar kelas, di ikuti teman-teman lainnya. Sekarang sudah tidak ada orang selain Raffi dan Renata.


"Lo jadi mau jenguk Kevin?" tanya Raffi menyejajarkan langkahnya dengan Renata.


"Jadi. Kayaknya Firda udah di sana duluan. Lo mau ikut?" Renata berbalik tanya.


Raffi mengangguk, "Ikut lah. Gue ngga bakal ngebiarin lo kesana sendiri." katanya terkekeh, tangan Raffi refleks mengusap rambut Renata.


"Dasar bucin,"


***


Bau obat-obatan mulai menyengat menusuk aroma penciuman Raffi dan Renata. Mereka berjalan menyusuri lorong untuk menuju kamar Anggrek nomor 12 yang sudah di beritahu oleh resepsionis di depan tadi.


Ruang Anggrek No.12


Nama itu tertera di atas pintu yang tertutup. Raffi membukanya perlahan dan mendapati sosok Firda yang tengah menyuapi Kevin yang terbaring di ranjang rumah sakit.


Firda sontak tersenyum menyapa. Raffi dan Renata mendekat ke sana. Melihat kondisi Kevin dengan luka di wajahnya yang sudah tertutupi kapas.


"Lo kenapa bro?" Raffi so akrab. Padahal mereka sama sekali tidak kenal. Bertemu pun baru sekarang. Namun dengan so nya, Raffi menyalami Kevin dengan salaman ala cowok. (Salaman ala lelaki gimana sih ya?)


"Yah gue jatoh nabrak semut," balas Kevin terkekeh. Lelaki berambut klimis itu duduk dengan sandaran bantal di belakangnya.


"Makanya lain kali lo jangan nginjekin semut terus, jadi kan mereka dendam sama lo." Raffi mulai ngaco. Firda dan Kevin tertawa mendengarnya.


"Raf apaan sih!" Renata menyenggol pinggan Raffi kesal. Di tengah duka seperti ini, lelaki itu masih bisa bercanda?


"Ngga apa-apa, Ren. Mencairkan suasana aja," kata Kevin membiarkan.


Raffi menatap Renata dengan cengirannya, merasa menang. "Eh sori nih, gue ngga bawa apa-apa. Tadi lupa mampir ke Alfamart, padahal deket banget sama sekolah." lanjutnya.


"Iya, sori ya, Vin." timpal Renata.


"Santai aja, kali. Sore ini gue juga udah boleh balik." balas Kevin dengan senyumannya.


"Iya, kalian ke sini aja gue udah seneng banget." Firda terkekeh seraya menaruh mangkuk berisi buburnya yang sudah habis.


"Syukurlah kalo udah boleh balik, lain kali hati-hati jangan nabrak semut lagi."


"Ga sekalian nabrak gajah, Raf?" seisi ruangan tertawa menimpali ocehan Raffi yang receh itu.


Bersambung~


Jangan lupa Like Komen dan Vote ok!! Semoga sukaa.🥰