Last Taste

Last Taste
BAB 6. One Day



Pagi hari ini hujan sudah membasahi bumi. Meskipun airnya mengotori beberapa tempat, namun keindahan pelangi melupakan semuanya.


Tuhan memang selalu membuat kejutan tak terduga. Entah dari segi apapun dan bagaimana caranya. Yang pasti, sebagai seorang hamba kita patut memuji-Nya sebagai tanda syukur.


Langit diatas menghitam, menghilangkan pelangi yang beberapa waktu tadi menemani bumi.


Saat ini hujan kembali turun. Renata terpaksa harus mencari tempat berteduh sementara.


Di kedai yang sepi Renata berdiam diri. Gadis itu memeluk tubuhnya yang kedinginan. Sesekali melirik jam tangannya, sudah pukul 06.54 WIB. Biasanya kalau cuaca seperti ini, siswa di bebaskan datang kapan saja karena di maklumkan, namun belajar mengajar tetap berjalan.


Tiiiin Tiiiin


Suara klakson mobil tepat dihadapan Renata. Sepertinya ia mengenali mobil itu namun milik siapa?


Selang beberapa detik kemudian seorang lelaki berseragam sekolah sama seperti dirinya, muncul dari dalam mobil dengan payung yang menutupi kepalanya.


"Ya Tuhan, Raffi." Renata terkejut setengah mati. Ia menutupi wajahnya malu mengingat kejadian semalam. Bagaimana bisa Raffi menemukan dirinya di sini?


"Ayo, ikut gue." Lelaki itu langsung menarik lengan Renata namun Renata menolaknya tegas.


"Apaan sih, Raf. Gue mau nunggu taxi aja." Katanya sedikit berteriak karena gemercik air hujan sedikit cukup keras.


"Jangan ngelakuin hal aneh. Ayo ikut gue atau lo mati disini kesambar petir?"


Renata mendelik. Ia menghentakkan kakinya, sebal.


"Lo tuh bisa ngga sih sehari aja jangan ganggu gue?" tanya Renata memelas. Ia benar-benar malu.


Raffi terkekeh, ia mengusap rambutnya yang sedikit basah. "Ren ini bukan gangguin lo, tapi gue nolongin lo." balasnya.


"Ya tapi gue gamau," Renata kekeuh.


"Ayo," Raffi kembali menarik lengan gadis itu. Renata dengan sejuta penolakannya, akhirnya mau juga untuk masuk ke dalam mobil yang dibawa Raffi.


"Gitu kek dari tadi,"


***


Di dalam mobil, tak ada suara pertengkaran seperti biasanya. Raffi fokus menyetir sedangkan Renata menatap jalanan ke samping. Hujan masih setia mengguyur dan berhasil mempertemukan dirinya dan Raffi.


"Lo diem aja, kenapa?" tanya Raffi melirik ke arah kiri, sekilas, setelah itu ia kembali menatap ke depan.


"Udah lo fokus nyetir aja," balas Renata.


"Gara-gara semalem bukan?" Raffi terkekeh.


Renata mendelik sebal. "Diem lo,"


"Yaelah, Ren. Cuma gitu doang lo sampe segininya?"


"Ya gue malu lah parah,"


"Santai aja kali. Gue juga ngga geer-geer banget," kata Raffi, Ia meminggirkan mobilnya ke sisi jalanan. Kemudian menatap Renata.


"Kenapa lo?" tanya Renata tak santai.


Raffi mengambil Hoodie di kursi belakang, hoodie yang biasa ia gunakan kalau memakai mobil ini karena memang selalu Raffi simpan di sini.


"Nih pake," suruhnya seraya menyodorkan hoodie berwarna abu-abu itu ke arah Renata.


"Ngga ah, lo aja."


"Jangan ngeyel, gue tau lo kedinginan."


"So tau banget sih, cebong." gumam Renata.


"Lo tuh ya, lembut dikit jadi perempuan tuh, Neng." gemas Raffi seraya mengacak-acak rambut gadis di depannya.


"Lo ngga usah so perhatian sama gue. Gue ngga butuh,"


"Dih geer. Ini mah kebetulan aja ada jaket gue nyangkol di sini."


"Sekalipun ngga ada, gue tau lo bakal lepas seragam lo itu buat gue, buat narik perhatian gue, yakan?" cerocos Renata dengan percaya dirinya.


"Eh sumpah sih, lo sampe kepikiran gue bakal buka baju gitu?" Raffi tak menyangka. Ia memasang wajah kagetnya dengan berlebihan.


Pluk


"Kampret. Biasa aja mukanya dong," Renata melempar tissue yang ia ambil di hadapannya.


Raffi tertawa. "Ya lagian lo jahat banget mikirnya. Se-sebel itu lo sama gue?"


"Ya iyalah.."


"Bawel,"


****


"Raf, kamu lagi sibuk?" Tiffany tiba-tiba menghampiri Raffi yang akan melakukan latihan basket di lapangan sore ini.


"Ya seperti yang lo lihat,"


"Hati-hati, takut licin lapangnya." katanya mengingatkan.


Raffi mengangguk, menatap sekeliling lapangan basket yang memang masih ada genangan air. Namun cuaca sore ini sudah tidak mendung seperti waktu pagi.


"Aku tungguin di sana ya," Tiffany menunjuk pohon mangga yang rindang. Tempat yang biasanya gadis itu duduki ketika latihan marcing band.


"Ngga usah di tungguin, lo balik aja. Udah sore," Raffi menahan langkah Tiffany.


"Aku pengen pulang sama kamu lagi,"


"Udah sana pulang duluan, ya?" kata Raffi lembut.


"Nurut, Tif." kata Hendar menimpali. Lelaki itu sudah siap dengan membawa bola basketnya.


Tiffany mengangguk, ia kemudian berlalu tanpa sepatah katapun.


"Heran banget gue, emang dia udah ngga sana Indra lagi?" tanya Ryan yang baru masuk ke lapangan.


Raffi mengangkat bahunya, tak peduli. "Kalaupun udah ngga, gue ga bakal ngulang kesalahan yang sama, kan?" katanya.


Selang beberapa jam kemudian, Raffi sudah siap untuk pulang. Ia menggendong tasnya sesekali mengelap wajahnya yang di banjiri keringat. Hendar, Ryan dan Derry berjalan di sampingnya. Mereka menuju parkiran untuk mengambil motornya masing-masing.


Suasana sekolah sudah sepi. Ekskul paskibra yang biasanya pulang lebih sore dari ekskul basket, hari ini ekskul itu absen latihan sehingga kini di sekolah sudah tidak ada orang.


Namun..


"Woi bidadari Siluman!" panggil Raffi ketika matanya tak sengaja menangkap sosok Renata dan Firda yang berjalan di koridor sekolah.


Kedua gadis itu menoleh dan memutarkan bola matanya. Termasuk Renata. Ia sudah cukup malu bertemu Raffi waktu pagi sampai tadi jam pelajaran usai pukul 12. Lalu sekarang? Harus bertemu lagi?


"Lo abis ngapain?" tanya Raffi basa-basi. Kini mereka berenam berjalan bersama.


"Ngerjain bahasa Inggris, besok kan di kumpulin." balas Firda. Gadis berambut pendek itu sesekali fokus pada ponselnya.


"Oiya, Ren, gue di jemput sama doi. Lo gapapa, kan balik sendiri?" Firda memastikan.


Renata mengangguk, "Santai aja, bis masih banyak," katanya nyengir.


"Renata sama gue," Raffi menimpali.


"Nah yaudah bagus kalo gitu."


"Ngga usah, tadi pagi gue udah bareng sama dia,"


"Ah lo suka malu-malu kucing dah." goda Raffi menahan tawanya. Hendar dan Derry sudah tertawa duluan mendengar itu.


"Lagian lo ngga cape, Ren? Tadi lo nulis PKN segitu banyaknya emang ngga pusing?" kata Derry.


"Biasa aja,"


Mereka sudah sampai di parkiran. Hendar, Derry dan Ryan sudah mengambil kendaraannya masing-masing. Firda juga sudah pulang terlebih dahulu di jemput oleh kekasihnya.


"Silahkan naik, ratu kimia." Raffi mempersilahkan. Ia membuka pintu mobil yang sudah berhasil di keluarkan dari tempatnya.


Okelah. Daripada ia harus menunggu bis di halte dan harus berdesakan dengan karyawan yang pastinya baru bubar dan meramaikan halte. Lebih baik ia ikut Raffi. Yakan?


Renata memasuki mobil itu. Tidak seperti waktu pagi, kini mobil Raffi sudah di nyalakan lagu-lagu populer kesukaannya. Setidaknya, supaya tidak terlalu sepi.


"One day,"


Ya, seharian penuh ini Renata bersama Raffi. Namun dengan perasaan yang tidak seperti biasanya.


Bersambung~


Hai teman-teman.. Di episode 5 kemarin, aku udah nyantumin visualisasi dari sosok Raffi Haidar Fauzan yaa hehe.


Yaitu Endy Arfian. Aku pilih dia karena ya pas banget gitu sama karakter Raffi. Tengil, namun puitis hehe.


Dan untuk visualisasi dari sosok Tiffany Andreas, aku pilih Steffi Zamora. Karena, di bayanganku, Tiffany itu tinggi dan gayanya selalu wow gitu.


Oiya ada yang penasaran siapa yang bakal jadi visualisasi dari sosok Renata yang super galak? Hahaa.. Udah aku siapkan ko. Nanti aku kasih tau di Pengumuman yang akan datang. Insyaallah.


Semoga suka ya sama ceritanya. Jangan lupa Like, Komentar dan Vote oke!!